Selasa , 28 September 2021
Beranda » Humaniora » M = R + GP (Menulis Itu Sama Dengan Riset Ditambah Gagasan Pencerahan)
Denny JA menerima Lifetime Award 2021 dari Satupena. (Ist)

M = R + GP (Menulis Itu Sama Dengan Riset Ditambah Gagasan Pencerahan)

Transkripsi Orasi Denny JA Menerima Lifetime Achievement Award 2021 Sebagai Penulis.

Sahabat,

Saya akan mulai dari sebuah kutipan Robert Sawyer. Ia mengatakan “Hati dan jiwa dari tulisan yang baik adalah riset. Karena itu jangan kau tulis apa yang kau tahu, tapi tulislah apa yang kau gali. Karena kuncinya adalah riset.”

Saya setuju sepenuhnya dengan pandangan ini. Robert Sawyer juga seorang penulis dari Kanada. Tapi ada tambahan dari saya, khusus untuk tulisan-tulisan humaniora, khusus untuk fiksi.

Maka penting juga di sana untuk kita membawa gagasan pencerahan. Penting juga membawa nilai-nilai yang membuat kita tersentuh pada hak asasi manusia, pada emansipasi manusia, juga kepada nilai-nilai kebajikan.

Kutipan inilah yang saya ingat ketika mendapat kabar bahwa saya mendapatkan penghargaan. Ini penghargaan National Writers Award dari Indonesian Writers Guild Satupena.

Penghargaannya Lifetime Achievement Award 2021 untuk saya, Denny JA.

Penghargaan ini untuk dedikasi dan inovasi saya selaku penulis yang sudah 40 tahun berkarya. Kepada panitia saya coba gali apa yang sebenarnya menjadi pertimbangan. Dan saya dengar ada beberapa hal.

Pertama, saya dianggap intens di dunia penulisan dan melakukan inovasi bahkan semenjak di era mahasiswa. Dulu di tahun 80-an ketika mainstream saat itu adalah gerakan mahasiswa yang turun ke jalan, saya selaku aktivis melakukan inovasi dengan menulis artikel di Kompas mengenai gerakan kelompok studi mahasiswa.

Itu adalah gerakan mahasiswa yang kritis pada kekuasaan, tapi dengan kritik-kritik yang bersifat intelektual.

Lalu di tahun 2000-an saya pulang dari Amerika Serikat membawa profesi baru: konsultan politik dan survei opini publik. Ini juga satu inovasi karena membawa pertarungan politik praktis yang dikawinkan dengan riset ilmu pengetahuan.

Sehingga pertarungan pemilu diwarnai oleh berbagai prediksi dan riset-riset kuantitatif. Ini pun dianggap saya membawa satu inovasi di sana.

Dan lalu di tahun 2012, saya membawa lagi satu inovasi dengan membuat puisi esai. Ini cara tutur puisi yang berbeda, yang tak hanya panjang berbabak-babak, namun juga based on research.

Ada catatan kaki di sana, mengisahkan hal-hal yang sifatnya true story. Tapi diperdalam dari kisah-kisah batin yang menyentuh.

Sekali lagi terimakasih banyak kepada teman-teman yang memberikan pada saya penghargaan utama Lifetime Achievement Award.

 

-000-

Lalu saya mencoba merenung. Dimanakah akar yang menumbuhkan sikap saya sebagai seorang penulis? Yang menumbuhkan dan membentuk gagasan utama saya sebagai seorang penulis? Terutama kisah fiksi atau esai-esai yang sifatnya humaniora?

Terbayang di kepala saya suasana tahun 90-an ketika saya sekolah di AS. Itulah era yang orang sebut sebagai the formative years, tahun-tahun yang banyak sekali membentuk pikiran saya .

Di era itu; saya tumbuh sebagai orang yang banyak menghabiskan waktu di perpustakaan. Teman-teman yang kenal saya tahu bahwa saya ini kurang gaul karena banyak sekali waktu saya habiskan di perpustakaan.

Saya ingat di sana banyak yang saya baca. Salah satunya novel-novel sejarah; historical fiction.

Simak juga:  DENNY JA: Para Penulis, Dari Aceh Hingga Papua, Berhimpunlah!

Novel-novel inilah yang membuat saya tenggelam, seolah-olah ikut dalam peristiwa di masa itu dan membentuk cara berpikir saya.

Satu novel yang saya ingat adalah sebuah novel terkenal berjudul Uncle Tom’s Cabin dikarang oleh Harriet Beecher Stowe. Ini novel di tahun 1852, novel mengenai perbudakan.

Di novel ini kental sekali saya temukan gabungan antara riset dan gagasan yang mencerahkan.

Sedikit saya ceritakan mengenai isi novel ini. Saya mulai dari kutipan yang bahkan sampai sekarang saya ingat. Yaitu pernyataan dari Tom.

Tom yang menjadi judul dan tokoh utama novel ini adalah seorang budak. Ia tengah disiksa dan ia katakan pada teman-temannya, “Saat ini aku jauh lebih berani, aku jauh lebih punya nyali karena aku sudah kehilangan segalanya. Bagi mereka yang sudah tak punya apa-apa, maka ia akan mengambil semua risiko.”

Latar belakang kisah ini adalah Tom yang kehilangan banyak hal. Saat itu Ia dipaksa oleh majikannya untuk menyakiti dan menyiksa sesama budak. Ia menolak. Akibatnya Ia ditahan untuk disiksa.

Ia katakan kepada tuannya bahwa ia meyakini nilai-nilai kebajikan. Ia bukan saja tak mau melukai, menyakiti, dan mengkhianati teman-teman budaknya. Namun ia juga tidak mau diajak teman-temannya untuk memberontak dan melakukan kekerasan kepada tuannya.

Tom itu budak belian yang sudah diperjual-belikan seperti komoditi di banyak tuan. Kadang ia dapatkan tuan yang bajik. Kadang ia dapatkan tuan yang begitu kejam. Tapi ia tetap Tom yang sama. Tom yang berdiri pada nilai-nilai kebajikan.

Mengapa Tom bisa seperti itu? Inibjuga adalah satu pesan dari novel ini. Bahwa Tom, di samping ia seorang budak, ia pun mendalami prinsip-prinsip spiritual, dalam hal ini agama.

Di kalangan teman-temannya, ia dianggap sebagai seorang “pendeta”. Daya spiritual itu yang membuat daya tahan Tom di sana.

Di tengah penderitaan yang luar biasa, ia tetap mendapatkan inspirasi tentang nilai-nilai kebajikan yang harus ia jalankan.

Novel ini luar biasa populernya di Amerika saat itu. Bahkan dikatakan bahwa inilah buku paling laris dan paling banyak dibaca di abad 19.

Novel ini hanya kalah oleh injil. Dan sekali lagi kita tahu bahwa novel ini ternyata adalah hasil riset.

Sekarang sudah banyak yang mengatakan bahwa karakter Tom ini sebenarnya adalah inspirasi dari tokoh sebenarnya yang bernama Josiah Henson.

Josiah Henson di samping seorang budak dan kemudian ia bebas dan berkembang menjadi seorang pendeta agama. Dari Josiah Henson inilah, pengarang Harriet Beecher Stowe menjelmekannya menjadi Tom.

Membaca kisah ini, kita tidak saja terkesima dengan panorama abad ke 19 itu, yang memang hasil riset. Tapi kita juga terpesona oleh kuatnya satu dorongan mengenai gagasan-gagasan pencerahan.

Tak heran jika novel ini dianggap ikut menyebabkan dihapusnya perbudakan di Amerika Serikat. Dengan cara yang menyentuh, sang penulis dapat menunjukkan ketidakadilan yang meluas.

Simak juga:  Mendongeng Bisa Jalin Hubungan Batin dengan Anak

Ditunjukkan pula di novel itu, di antara para budak tetap ada karakter-karakter yang kuat, yang berpegang teguh pada kebajikan.

Ini salah satu novel yang memberikan saya inspirasi pentingnya riset dan gagasan yang mencerahkan.

-000-

Sahabat, sekarang kita berada di era yang kritis. Ini revolusi industri keempat. Ini revolusi informasi yang memberikan efek luar biasa baik negatif maupun positif.

Kepada kita terutama sebagai penulis yang lagi dan lagi jika sandarannya adalah riset, ini era yant tak pernah terjadi sebelumnya.

Begitu banyak tersedia library, buku, dan berbagai informasi yang levelnya dunia. Dengan internet, begitu mudahnya kita terkoneksi dengan berbagai informasi yang dulu tersembunyi.

Tahun 80-an saya teringat betapa susahnya saya mencari referensi. Sekarang ini tinggal duduk di beranda hanya dengan handphone di tangan, kita bisa melakukan riset pada hal-hal yang selama ini gelap, yang selama ini susah kita akses. Itulah satu kekayaan, era yang menjadi surga bagi para penulis.

Tapi ada efek lainnya. Yaitu dengan melimpahnya informasi, nilai ekonomis bagi informasi pun menjadi rendah. Tendensi orang untuk mau dan bersedia membeli buku semakin menurun.

Bagi mereka buat apa lagi membeli buku jika semua informasi yang sebanding dengan buku itu bisa didapatkan secara gratis di internet? Tidak hanya informasi dalam bentuk teks tapi juga informasi dalam bentuk audio visual.

Yang terjadi kemudian ialah ironi. Di era berlimpahnya informasi, niat orang untuk membaca menurun dan niat orang untuk membeli buku menurun. Akibatnya kita melihat majority penulis hidup dalam ekonomi yang lebih sulit karena semakin susah bagi mereka untuk mendapatkan nilai ekonomi dari karya-karya tulisannya.

Namun di era ini juga kita melihat sebagian kecil penulis berkembang menjadi triliuner. Majalah Forbes tiap tahun membuat list “10 Penulis Terkaya Tahun Ini.” Acapkali mereka dapatkan honor dari tulisannya di atas 1 triliun rupiah.

Mengapa mereka beda dibandingkan para penulis lain? Padahal mereka terkena efek revolusi informasi yang sama? Yang membuat mereka berbeda adalah karena mereka terkoneksi dengan sistem industri.

Karya- karya mereka menjadi komersil karena terkoneksi dengan jaringan bioskop, televisi, dan dunia hiburan lainnya.

Jadi sahabat, petiklah itu. Bahwa kita memang berada di era informasi.

Jika kita menulis dengan pola-pola lama, kita akan segera tersingkir dengan begitu banyaknya informasi. Karena itu carilah peluang agar kita terkoneksi dengan sistem industri yang ada.

Namun sekali lagi, di balik sisi ekonomi karya-karya tulisan kita, jangan lupakan juga yang saya kutip di awal.

Bahwa hati dan jiwa dari tulisan yang baik adalah riset. Dan jika ia bersifat humaniora, juga fiksi, tambahkan lagi gagasan-gagasan yang menyentuh hati kita untuk bergerak ke arah hak asasi manusia,  emansipasi manusia,  dan prinsip-prinsip kebajikan.

Sekali lagi terimakasih atas penghargaan utama Lifetime Achievement Award. Salam.*

Agustus 2021

(Denny JA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *