Minggu , 25 Juli 2021
Beranda » Humaniora » Memahami Jurnalistik Televisi
Ilustrasi pixabay

Memahami Jurnalistik Televisi

ILMU Jurnalistik hanya ada satu. Tapi pada penerapannya di lapangan kerja, Ilmu Jurnalistik dapat dituangkan dalam bentuk karya jurnalistik cetak, karya jurnalistik elektronik, dan jurnalistik online (cyber media).

Karya jurnalistik cetak disajikan melalui media massa (media pers) cetak, seperti surat kabar, majalah, tabloid, dan lainnya.
Sedang karya jurnalistik elektronik tersaji melalui media massa elektronik seperti televisi dan radio.
Akan halnya jurnalistik online (cyber media) tersaji melalui media daring (media online).

Sesuai dengan medium penyampaiannya, maka jurnalistik elektronik dapat pula dibagi menjadi: (1) Jurnalistik Televisi; (2) Jurnalistik Radio.
Khusus untuk Jurnalistik Televisi dan Jurnalistik Radio dapat pula disebut sebagai Jurnalistik Penyiaran (Broadcast Journalism).

 

Berbeda dalam Penyajian
Masing-masing jenis jurnalistik tersebut satu sama lain memiliki perbedaan dari segi penyajiannya. Jika dilihat dari segi durasinya, penyajian di media elektronik atau media penyiaran (TV dan Radio) lebih singkat dibandingkan dengan penyajian di media cetak.
Cara menulisnya juga berbeda. Meskipun begitu, keduanya memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Tapi jurnalistik cetak memiliki format atau gaya penulisan yang sama dengan jurnalistik (jurnalistik media daring).
Namun pada fungsi dan tujuannya tetap sama, yakni sebagai sumber atau pemberi informasi, menghibur, mendidik, alat kontrol sosial, dan penggerak bisnis.

 

Perbedaan Lainnya
Pada media massa cetak (media pers cetak), pembacanya harus memiliki kemampuan membaca. Bila tidak memiliki kemampuan membaca, maka informasi yang disampaikan media pers cetak itu tentu tidak akan sampai. Andaikan sampai berkat bantuan foto atau gambar, itu pun tidak bisa secara maksimal.

Sedang pada media elektronik (media penyiaran), pendengar atau penonton tidak dituntut punya kemampuan membaca. Akan tetapi pendengar atau penontonnya harus punya kemampuan mendengar atau melihat, serta mengerti bahasa yang disampaikan.

Sejak beberapa tahun lalu, dalam tayangan berita atau informasi di media televisi, para penyandang tuna wicara dan tuna rungu mendapatkan sajian “bahasa isyarat”, atau disebut “Total Communications System”.

 

Keunggulan yang Lebih
Media audiovisual atau medium televisi oleh para pakar komunikasi diakui mempunyai kemampuan atau keunggulan yang Lebih dibandingkan dengan medium lainnya, seperti medium cetak dan medium radio.
Salah satu keunggulan medium televisi, mampu memindahkan situasi apa pun yang terjadi di suatu tempat kepada penontonnya secara faktual. Karena itulah medium televisi mempunyai daya rangsang yang lebih kuat dibandingkan lainnya.

Simak juga:  Brug Luk Ulo Kebumen, Serpihan yang Tercecer

Keunggulan Jurnalistik Televisi yang disajikan melalui medium televisi semakin lebih nyata lagi, ketika di tahun 1962 diluncurkan satelit siaran di Amerika Serikat oleh NASA dan AT & T. Kecepatan informasi yang sampai ke publik semakin tinggi, dan hanya berbeda atau selisih dalam hitungan detik saja.

Sebelum ada teknologi satelit, Jurnalistik Televisi hanya menyajikan atau menginformasikan suatu kejadian (peristiwa) pada penonton. Setelah ada teknologi satelit, Jurnalistik Televisi tidak hanya menyajikan atau menceritakan suatu kejadian, tetapi membawa penonton menjadi terlibat secara emosional di dalam kejadian tersebut.

Pada awalnya, atau dulu Jurnalistik Televisi hanya mempertontonkan suatu kejadian (peristiwa) kepada penonton. Kini, seolah telah membuat penonton mengalami secara langsung kejadian tersebut.

Sampai hari ini, Jurnalistik Televisi diakui lebih mempunyai keunggulan dalam hal memancing atau merangsang emosional publik.

Sebagai contoh, siaran atau tayangan CNN (Cable News Network) AS pada 28 Januari 1986 telah membuat jutaan manusia di dunia menjadi ngeri, menangis dan terkejut saat menyaksikan meledaknya pesawat ulang Alik “Chalenger L-51”, sesaat setelah diluncurkan dari Tanjung Kennedy.

 

Paduan Kata dan Gambar
Jurnalistik Televisi merupakan paduan antara kata dan gambar. Kekuatan kata dan kekuatan gambar dipadukan dalam menyampaikan suatu informasi ke masyarakat. Berpadunya kekuatan kata dan kekuatan gambar, membuat Jurnalistik Televisi memiliki kekuatan yang besar dan lebih dibanding jenis jurnalistik lainnya dalam mempengaruhi publik. Baik dalam mempengaruhi emosi maupun sikap pandangnya.

Jurnalistik Televisi lebih menekankan pada kekuatan gambar atau kekuatan visual. Bahkan Jurnalistik Televisi sekarang ini cenderung memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kekuatan gambar atau kekuatan visual untuk bicara sejelas-jelasnya, sedetail-detailnya, kepada publik. Kekuatan gambar atau kekuatan visual lebih memiliki daya sentuh yang kuat ke publik dibanding kekuatan kata. Kekuatan gambar atau kekuatan visual mampu melibatkan publik, membawa publik, ke dalam suatu rangkaian peristiwa yang terjadi. Kekuatan gambar mampu membuat publik hanyut dan larut secara emosional ke dalam suatu peristiwa yang diinformasikan atau disaksikan.

Simak juga:  Polisi, Jadi 'Korban Harapan' Masyarakat

 

Manajemen Pengelolaan
Manajemen pengelolaan berita antara media massa cetak dengan media televisi tidak berbeda jauh, bahkan di banyak hal memiliki kesamaan-kesamaan.

Di bagian Pemberitaan ada Pemimpin Redaksi, redaktur dan reporter (termasuk di dalamnya kamerawan).
Tapi dalam mekanisme kerja ada perbedaan. Di dalam media massa cetak, wartawan atau reporter tidak bisa secara langsung memuat sendiri berita yang ditulisnya. Untuk dimuat di media massa cetak, berita dari wartawan atau jurnalis harus terlebih dulu melalui seleksi di redaktur. Tanpa seleksi di meja redaktur, suatu berita tidak ajan ditampilkan atau dimuat di media massa cetak tersebut.

Akan tetapi di media massa penyiaran (media televisi), manajemen pengelolaan berita tidak seketat itu. Ada informasi atau berita yang dibuat harus melalui meja redaktur (editor), tapi ada juga informasi atau berita yang bisa langsung disampaikan (ditayangkan) oleh reporter secara langsung dari lokasi peristiwa.

Dalam momen-momen tertentu atau khusus, jurnalis atau reporter televisi diberi ruang (kesempatan) untuk menginformasikan suatu berita (informasi) secara langsung ke publik. Jadi dalam hal seperti ini, mekanisme berita harus melalui seleksi redaktur tidak berlaku.

Untuk kategori berita atau informasi yang langsung disampaikan ke publik, maka jurnalis atau reporter bersangkutan tidak hanya dituntut mampu menghadirkan suatu informasi secara deskriptif, tetapi mampu memadukan kekuatan kata dan kekuatan gambar. Tumpuan atau tekanan informasi itu ada pada rangkaian kata-kata yang disampaikan jurnalis atau reporter televisi, kemudian ditopang sajian gambar melalui kamera.
Karena itulah, untuk memadukan kekuatan kata dan gambar, setiap wartawan atau jurnalis televisi dituntut mampu membuat karya jurnalistik yang memadukan kekuatan kata dan gambar tersebut.

Tak sebatas itu, jurnalis televisi ketika berada di lapangan (di arena lokasi peristiwa) dituntut pula untuk tidak hanya mampu sebagai seorang jurnalis atau reporter saja. Karena dalam praktiknya di lapangan seringkali ditemui peristiwa yang mengharuskan seorang jurnalis televisi memfungsikan dirinya sebagai editor, produser berita, bakan kamerawan. Bahkan jurnalis televisi juga dituntut memiliki kemampuan tehnis dalam penggunaan atau menangani peralatan kerja elektronik. * (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x