Jumat , 7 Mei 2021
Beranda » Humaniora » Ladang Dakwah Selama Pandemi Melalui Media Sosial
Pemanfaatan Media Sosial untuk Dawah di Masjid Nurul Ashri Deresan. (Ist)

Ladang Dakwah Selama Pandemi Melalui Media Sosial

KAPAN pandemi Covid-19 berakhir?

Pasti banyak orang yang terbesit dalam benaknya pertanyaan itu. Terhitung sejak Maret 2020, Indonesia menghadapi Pandemi Covid-19 yang menyebar begitu cepat. Berbagai fasilitas umum dibatasi penggunaanya, tempat-tempat rekreasi ditutup, kantor-kantor membatasi kegiatannya dengan melakukan pekerjaan jarak jauh, yang lebih pahit tidak sedikit juga para pekerja yang dirumahkan, bahkan terpaksa di putus kontrak kerjanya, karena profit perusahaan tempat mereka bekerja tak kunjung mengalami peningkatan. Para siswa mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi menerapkan pembelajaran daring dari rumah masing-masing, meminimalisir kontak fisik seminim mungkin, demi mendukung pencegahan penularan Covid-19 ini.

Perkantoran sepi, Pusat Perbelanjaan terlihat lenggang, taman kota menyisakan bangku-bangku kosong, gerbang sekolah-sekolah tertutup, pertokoan terlihat sepi pelanggan, masjid-masjid berkurangjama’ahnya termasuk majelis ta’limbanyak yang meliburkan kegiatannya di masjid. Hampir semua elemen masyarakat, mulai dari yang muda hingga yang tua, mulai dari pelajar hingga pekerja, melakukan aktivitas mereka di rumah, meminimalisir kontak dengan orang-orang yang tak mereka kenal, menghindari penyebaran virus yang sangat mengganggu keseharian masyarakat.

Hal ini menjadi tantangan, terutama para pengurus Majelis Ta’lim yang biasanya rutin mereka kerjakan setiap minggunya, kali ini harus menghadapi pandemi yang membuat mereka harus berinovasi. Semangat untuk tetap mendakwahkan Islam terus menyala dalam diri mereka, sehingga banyak kemudian yang memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwahnya.

Simak juga:  Kisah Inspiratif: Dakwah Penjual Kerupuk Tenggiri

 


Aktivitas di Masjid

Seperti yang dilakukan di Masjid Nurul Ashri, Deresan. Sebelum adanya pandemi, hampir setiap sore ada kajian mengenai isu-isu Islam. Banyak orang yang datang untuk ikut mendengarkan bahkan terkadang sampai kapasitas masjid penuh. Akan tetapi kondisi berbeda selama pandemi, masjid terlihat lenggang, parkiran motor yang biasanya penuh sekarang hanya menyisakan satu atau dua buah motor. Sekarang mereka memaksimalkan media Instagram dan Youtube untuk menayangkan kegiatan kajian secara online, sedangkan kajian offline dibatasi dengan protokol kesehatan yang ketat dan kuota yang terbatas.

Sama juga dengan kajian yang biasa diselenggarakan di Masjid Kampus Universitas Gajah Mada, yang sebelumnya sering mengadakan kegiatan-kegiatan kajian ilmiah secara offline di kompleks masjid, dihadiri oleh banyak orang, bahkan tidak hanya pemuda yang datang, terlihat beberapa orang yang sudah tua masih mengikuti kajian di Masjid Kampus UGM. Tetapi, saat ini hanya membuka kajian melalui aplikasi teleconverence seperti Zoom. Hampir tidak terlihat ada kegiatan di masjid itu. Sama halnya dengan Masjid Jendral Sudirman, Demangan, yang biasanya ada kajian rutin pada malam hari, sekarang mereka memanfaatkan podcast sebagai salah satu sarana dakwah.

Tidak hanya berpengaruh terhadap komunitas dan organisasi, karena efek pandemi yang mengharuskan orang-orang di rumah, banyak individu mencoba berdakwah melalui apa yang mereka bisa, yang kemudian mereka memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwahnya, baik itu melalui Youtube, Instagram, Facebook, dsb.

Simak juga:  Kesukaan Menyanyi Tumbuh, Berkat Pengalaman Manis Masa Kecil

Seperti yang terlihat di akun instagram @dakwahvisual.id, saat ini banyak karya individu-individu yang direpost oleh akun tersebut, dan dari akun-akun tersebut banyak juga yang baru memulai dakwah melalui media sosial setelah pandemi datang ke Indonesia. Banyak juga yang membuat Podcast, menyiarkan obrolan-obrolan yang bermanfaat melalui dikemas dengan tampilan yang menarik minat orang lain untuk mendengarkan. Hal ini tentu sangat bermanfaat bagi perkembangan dakwah, yang mulanya hanya didengarkan di masjid-masjid, sekarang mau didengarkan ketika beres-beres rumah, atau ketika bersama keluarga, bahkan didengarkan sambil tiduran di kamar pun bisa.

Pandemi memang tak kunjung usai, tetapi semangat berdakwah tidak boleh luntur, inovasi harus terus muncul agar dakwah tak kendur. Pandemi menjadikan orang-orang tidak bepergian, berdiam dan melakukan aktivitas dirumah, dan ketika bosan akan banyak yang mengakses media sosial. Hal ini menjadikan dakwah melalu media sosial sangat tepat, karena pengguna media sosial pun meningkat. Hal ini menjadikan dakwah mudah dikonsumsi masyarakat, lebih fleksibel, dan mampu menembus batas ruang dan waktu. *** [Muhammad Farhan Mujahid Arrasyad]

            * Muhammad Farhan Mujahid Arrasyad, lahir di Cilacap pada  27 Desember 2000, saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x