Sabtu , 17 April 2021
Beranda » Humaniora » Kuculik Kau untuk Kunikahi
Sasak Sade. (Ist)

Kuculik Kau untuk Kunikahi

INI bukan judul novel atau sinetron. Tapi inilah adat di suku Sasak Sade Rimbitam Kecamatan Puju, Kabupaten Lombok Tengah, Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Jika seorang laki-laki mencintai seorang perempuan, pantang suku ini untuk melamar. Tapi sebaliknya menculik si gadis dengan istilah Merari ke rumah sahabat atau kerabat selama satu malam. Baru kemudian sang pria memberi tahu ke orangtuanya supaya menginfomasikan ke orangtua si gadis kalau anaknya sudah di-‘culik’ dan dilarikan untuk minta dinikahkan.
Dengan pemberitahuan itu maka orangtua perempuan kemudian memberitahu keluarga lainnya dan menjemput si anak untuk segera dinikahkan.

Adat melarikan anak gadis untuk dinikahi ini guna menghindari pembayaran mahar yang besar seperti di suku lainnya. Selain itu antar warga desa mereka masih satu keluarga besar. Bahkan tidak jarang diantara mereka menikah dengan saudara sepupu dan usia pengantin juga masih muda. Pernikahan sesama warga seadar juga untuk melestarikan suku ini sehingga terjaga keasliannya.
Acara pernikahan kemudian dilangsungkan di Bale Besar Desa yang terletak tidak jauh dari gerbang desa suku Sasak Sade.

 

Beratap Ilalang
Saat mengunjungi desa ini pekan lalu suasana desa cukup sejuk. Di sini tinggal sekitar 700 jiwa dengan jumlah kepala keluarga atau rumah sebanyak 135-an. Rumah rumah warga umumnya beratap ilalang, dinding dari bambu dan lantai tanah berlapis kotoran sapi.

Adapun tipe tipe rumahnya disebu Bale Bonter, Bale Kodong dan Bale Tani. Bale Bonter untuk pejabat desa, Bale Kodong untuk orang tua yang sepuh atau keluarga yang baru menikah. Sedangkan Bale Tani rumah penduduk biasa yang umumnya juga memang bermata pencaharian bertani.

 

Cerita soal kotoran sapi ini sempat membuat saya tercengang karena pastinya bau. Tapi mereka bilang tidak bau karena sudah cukup lama difermentasi dan jadinya seperti semen membuat lantai menjadi licin. Selain itu membuat lantai menjadi kuat. Dan yang terpenting mencegah serangga masuk terutama nyamuk.

Rumah adat suku sasak ini sangat sederhana. Di bagian depan ruang tamu merangkap kamar tidur. Sedikit dibuat undakan untuk dijadikan dapur. Lokasinya juga sedikit berbukit-bukit. Jadi ketika ada orangtua yang sepuh, anaknya akan membuatkan rumah kecil di lahan yang lebih rendah supaya tidak susah turun naik jika ingin ke kamar mandi atau berjalan jalan dalam lingkup desa.
Di kawasan rumah adat ini juga dibangun masjid dan lumbung padi. Semuanya berfungsi dengan baik.

 

Tahan Gempa
Rumah adat suku Sasak ini termasuk tahan gempa. Ketika gempa besar melanda Lombok dua tahun laku rumah rumah suku Sasak terhindari dari kerusakan.
Penghasilan masyarakat desa ini bertani dan ternak di luar desa. Tetapi yang perempuan menenun kain khas Lombok handmade dengan pewarna bahan alami. Cantik dan menawan. mereka juga membuat kerajinan lainnya sepeti asesoris.
Pemda Setempat sudah menjadikan desa ini sebagai desa adat yang dilindungi. Bahkan di Indonesia termasuk desa adat terbaik setelah Kampung Naga di Tasikmalaya. * (Dewi Gustiana)

 

* Dewi Gustiana, seorang ibu rumah tangga penyuka traveling. Dulu sempat bersibuk-sibuk sebagai wartawan di Harian “Suara Pembaharuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x