Sabtu , 17 April 2021
Beranda » Pariwisata » Krakal Kebumen, Kota Wiesbaden di Indonesia
Wajah Pemandian Krakal sekarang dari arah depan. (Ken)

Krakal Kebumen, Kota Wiesbaden di Indonesia

TERLEPAS dari karakteristik vulkaniknya, Hindia Belanda tidak banyak menawarkan kepada penduduk Eropa dalam hal mata air panas dan hotel di sekitar pemandian. Pada pergantian abad, meski ada kolam renang mata air di Pasuruan dan hotel pemandian di Songgoriti, tawaran itu belum lengkap.
Sedangkan banyak para dokter secara teratur menunjukkan efek menguntungkan dari jenis terapi mandi air panas. Misalnya, mengapa lebih banyak tidak menggunakan sumber-sumber di Krakal, Kebumen. Foto tentang Krakal, tempat pemandian Krakal pertama kali disebutkan pada tahun 1891, ketika sebuah”hotel pemandian” dibuka di sini.
Di media pers terpampang iklan: “Krakal, salah satu tempat paling sehat di Jawa. Hotel dibuka. Kendaraan pengangkutan selalu tersedia saat kedatangan setiap kereta di Stasiun Kebumen. Harga terjangkau dan pengaturan dapat dibuat untuk keluarga atau masa tinggal yang lama. Meja makan dan layanan baik terjamin. A.n pengusaha hotel M. Fleker.” (Kalimat sudah dirubah dengan ejaan sekarang).

Beberapa tahun kemudian hotel itu diambil alih oleh pengusaha R. Zuijdwehoff. Sebagai pemilik baru ia juga memasang iklan yang sama si koran kalau itu.
Bila dikaitkan legenda dari Kerajaan Majapahit dengan sumber Krakal, maka tersebutlah nama seorang tokoh yang bernama Kyai Agung Sabdo Guno atau ada juga yang menyebutnya Ki Agung Sabdo Guno. Dikisahkan, pada masa itu Kyai Agung Sabdo Guno dan istrinya, Nyi Somaningrum, bersama anaknya Raden Ningrum yang sedang sakit melakukan perjalanan melewati wilayah Kedu.

Ketika berada di wilayah utara Kebumen dia memohon kepada Tuhan untuk keselamatan bagi putrinya. Ki Agung Sabdo Guno seperti mendapat bisikan bahwa ia diperintahkan untuk memakai pacu mencari sumber air di antara empat gunung. Benar. Ia menemukan sumber air berupa mata air panas. Putrinya yang sakit itu pun dimandikannya dengan air dari mata air panas tersebut. Setelah beberapa hari dimandikan dengan air panas itu, putrinya pun sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Karena rasa syukur, Ki Agung Sabdo Guno untuk tinggal di dekat sumber mata air panas itu. Ia menyebutkan air panas itu sebagai air penyembuhan.
Ketika merasa akhir hidupnya semakin dekat, ia mengumumkan bahwa dirinya minta untuk dimakamkan di Gunung Knap yang menembus di antara empat gunung. Inilah kisah atau legenda asal mula ditemukannya sumber air panas di Krakal tersebut.

 

Bad Krakal
Sepuluh tahun setelah pembukaan hotel pertama di Krakal, Dr. Van Effen, seorang dokter di Magelang, menulis di koran De Locomotief tentang Krakal.
“Dalam perjalanan yang baru-baru ini saya lakukan ke Purworejo dan Kebumen, saya berkesempatan mengunjungi Bad Krakal, yang terletak di sembilan Posko Timur Laut Kebumen, Kedu. Sebelumnya saya mengenal dua uraian medis tentang pemandian tersebut, yaitu satu oleh Dr. Kunert, tertanggal 2 April 1883, dan satu lagi oleh Dr. K. Baumgarten, tanpa tanggal,” demikian tulis Dr. Van Effen.

Ia juga menulis, “Menurut Dr. Kunert, air Krakal sebening kristal, sama sekali tidak berbau, rasa asin pahit dan reaksi netral. Gelembung udara besar terus menerus keluar dari air. Kedua diskripsi tersebut merupakan hasil penyelidikan kimiawi yang dilakukan oleh para apoteker militer Polak, yang menunjukkan bahwa air mengandung: natrium, klorin, kalium, kalsium, magnesium yodium dan asam silikat. Suhu airnya antara 39 hingga 40 Celsius. Komposisi kimiawi dari gas yang menggelegak tidak diketahui. Dr. Kunert menganggapnya sebagai karbon dioksida, karena korek api yang menyala segera padam di dalamnya. Sumur tersebut memiliki kapasitas 46,7 liter air per menit.”

Dr. Van Effen melanjutkan, “Dr. Baumgarten melakukan pertimbangan komparatif yang komprehensif tentang air Krakal dengan banyak pemandian di penyembuhan di Eropa, dan menyimpulkan bahwa kita dapat menyebut Krakal Hindian Wiesbaden. Di atas menunjukkan betapa layaknya ketenaran besar yang diterima Pemandian Krakal di antara penduduk asli sebagai pemandian penyembuhan, dan yang jika lebih dikenal, niscaya juga akan dimiliki oleh penduduk Eropa.”

Dilanjutkan Dr Van Effen, “Airnya digunakan untuk perawatan minum dan mandi. Berdasarkan komposisi kimiawi dan suhu air, pengobatan mandi di Krakal diharapkan bermanfaat besar dalam: penyumbatan usus dan wasir yang terus menerus; pembengkakan hati dan limpa yang masih ada; peradangan organ genital wanita internal; rematik berkepanjangan; kegemukan; penyakit kelenjar (schrofulosis) dan banyak penyakit lain baik eksternal maupun internal.”

 

Kasus Penyembuhan Aneh
Van Effen kemudian melaporkan kunjungan ke bak mandi air panas. Dari tuan rumahnya, Asisten Residen Sigal ia mendapat cerita tentang banyak kasus penyembuhan aneh di antara penduduk asli, Cina, dan Eropa yang diketahuinya.
Tentang hal itu dalam tulisannya Van Effen menyatakan, “Harapan saya tentang ini tidak besar. Tapi saya masih kagum dengan sifat primitif dari apa yang saya lihat. Satu-satunya hal yang menunjukkan niat baik adalah sumur tersebut ditutup dengan tembok dan pagar besi. Di dinding itu ada satu keran air ledeng untuk minum, dan enam keran lainnya, sehingga bisa dibawa ke bak mandi batu sebesar kamar mandi kecil. Waduk yang dibentuk oleh dinding sekitarnya tidak tertutup, sehingga pendinginan akibat pencampuran dan air hujan yang tidak diinginkan tidak dapat dicegah.”

Tulisan Van Effen lagi, “Kamar mandi adalah bilik gelap yang sangat primitif dengan bak mandi yang terlalu kecil dan tidak mudah dibersihkan. Untuk penginapan tersedia wisma bambu yang sangat primitif, yang menyandang nama hotel, pesanggrahan pemerintah yang akan dibongkar, dan beberapa bal-bal di rumah-rumah orang desa. Sejauh menyangkut lingkungan, pemandian ini terletak di tengah sawah yang diapit oleh perbukitan di tiga sisi, dan hanya bisa dicapai melalui beberapa jalan setapak.”
Singkatnya, semua agak buruk. Dan, Dr. Van Effen mengakhiri laporannya dengan permohonan yang bersemangat disain tempat pemandian modern dan renovasi lingkungan sekitarnya. Karena ribuan penderita bisa disembuhkan di sini.

Setahun kemudian, tahun 1902, dokter lain, yakni Dr. I. Gronenan dari Yogyakarta melakukan perjalanan yang sama dengan Van Effen. Ia juga ditemani Asisten Residen Sigal. The Soerabaijaasch Handelsblad menerbitkan laporan yang hampir identik dengan laporan Van Effen dengan judul “Bagaimana Krakal Dapat Dikembangkan”. * (Masih ada lanjutannya/Ken Abimanyu)

 

* (Sumber: Java Post dan sumber lainnya
* *Ken Abimanyu, pekerja seni, pemerhati sejarah dan budaya, yang selalu bangga dengan sebutan Inlander Krakal, lahir di Krakal Kebumen. Kini ia bersibuk-sibuk di ibukota, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x