Sabtu , 17 April 2021
Beranda » Humaniora » KH. Sonhaji (Mbah Jimbun) Kebumen, Guru Spiritual Gus Dur
Gus Dur dan Mbah Sonhaji. (dok pribadi)

KH. Sonhaji (Mbah Jimbun) Kebumen, Guru Spiritual Gus Dur

SAYA selalu merasa bangga menulis, “Kebumen adalah mata rantai utuh sejarah negeri ini”, yang tidak bisa dipisah atau diabaikan eksistensinya. Dari Kebumen, sejarah harus mencatat, salah satunya terdapat seorang ulama kharismatik yang menjadi mursyid Thariqah Naqsabandiyah Qadiriyah.
Mursyid adalah seseorang yang ahli dalam memberi petunjuk, mengajari bidang spiritual, dan bertanggung jawab untuk mengajar dari sudut zahir atau syariat serta makna atau batin. Sebatas yang saya tahu Tarekat Naqsyabandiah Qadiriyah adalah tarekat yang menekankan zikir dalam ajarannya yang berlandaskan pada Alquran dan hadis.
Adalah KH. Sonhaji, yang akrab disapa Mbah Son atau Mbah Jimbun.
Beliau adalah guru mursyid alias guru spiritual KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berasal dari Kebumen, tepatnya dari dukuh Jimbun, desa Giwangretno, Tengok, Kecamatan Sruweng.
KH. Sonhaji Chasbullah termasuk yang disebut “5 Kyai Khos” yang selalu dipatuhi perintahnya oleh Gus Dur, dan ini menjadi kebanggaan tersendiri untuk kaum Nahdliyin khususnya dan masyarakat Kebumen umumnya.

 

Guru Thariqah Gus Dur
Mengapa beliau disebut guru spiritual Gus Dur? Di dalam Ahlussunnah wal Jama’ah, terlebih Nahdlatul Ulama, tiga komponen agama Islam; yakni Iman (tauhid), Islam (fiqih) dan Ihsan/thariqah (tasawwuf), merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya. Harus seimbang dan beriringan.
KH. Sonhaji bisa dikatakan sebagai guru thariqah atau tasawwufnya Gus Dur.
Salah satu ajaran Kyai Sonhaji yang melekat pada diri Gus Dur adalah kesederhanaan.
Sekilas gambaran,
Sosok KH Sonhaji lahir tahun 1916 dan wafat tahun 2008, adalah sosok yang memiliki kulit bersih, berpostur tubuh yang kecil, selalu berwajah cerah memancarkan kharisma,
KH Sonhaji merupakan seorang putra dari pasangan Kyai Chasbulloh dan Nyai Mairah. Mbah Sonhaji lahir pada tahun 1916 dengan nama Zainal Abidin.
Saat memasuki usia remaja, Zainal belajar ilmu agama di Pesantren Jetis (asuhan ayahnya, sekarang Pondok Pesantren Al – Huda Kebumen). Pesantren Al – Huda Jetis ini sekarang diasuh oleh cucu Mbah Abdurrahman, pendiri Pesantren Jetis.
KH. Wahib Mahfudz,
Mbah Abdurahman juga merupakan kakek Mbah Sonhaji. Kemudian setelah ngaji ilmu pertamanya di Pesantren Jetis, ia melanjutkan perjalanan panjang (Rihlah) untuk belajar ke Pesantren
Lerap (milik kerabatnya) dan Somolangu. Kemudian melanjutkan melanglang dari satu pesantren ke pesantren lain untuk mengaji. Diantaranya mengaji kepada Mbah Nahrowi Dalhar Watu Congol Magelang, Mbah Muhajir ayah dari Syekh Hayat Bendo Pare Kediri. Sewaktu menimba ilmu di Pesantren Bendo, konon Zainal Abidin muda ini berganti nama menjadi Maqsud.
Sanad dan ijazah mursyid Tarekat Naqsabandiyah Qadiriyah, hingga disempurnakan sampai mendapatkan “Ijazah Kemursyidan dan Izin”
diperoleh dari KH Syekh Usman Al-Ishaqi Jatipurwo (Surabaya). Usai menunaikan ibadah haji, ia beralih nama Sonhaji Chasbullah, yakni Sonhaji bin Chasbullah.
KH. Sonhaji juga merupakan besan dari KH. M. Utsman bin Nadi al-Ishaqi Jatipurwo. Disamping juga berguru thariqah dari Mbah Utsman al-Ishaqi, secara nasab ia masih keturunan ulama-ulama besar, berdarah biru, yang bersambung ke para Sunan (Wali Songo) penyebar Islam di Nusantara ini.

Sosok Sederhana
Sosok sederhana kyai desa KH Sonhaji, atau Mbah (Son) Jimbun, semakin dikenal publik sejak namanya disebut langsung oleh Gus Dur sebagai guru tarekatnya pada sebuah acara keagamaan (Istigasah Kubra) di Gelora Bung Karno. Sejak itulah, Mbah Sonhaji ini terkenal dan dibahas biografi ketokohannya dalam bidang Tarekat Naqsabandiyah Qadiriyah.
Semasa hidupnya, Mbah Jimbun dikenal sebagai sosok yang sederhana dan bersahaja. Bahkan, para tetangga sering menjumpainya, belanja sayuran sendiri di Pasar Tengok. Sebuah pemandangan yang terbilang langka sekarang ini. Sungguh merupakan teladan kesederhanaan yang amat nyata.
Hubungannya dengan Gus Dur, sebagai guru dan murid terbilang hangat dan erat. Antara murid dan guru sesekali saling berkirim surat, meski terpisah jarak Kebumen – Jakarta.
Kesan KH. Sonhaji tentang Gus Dur yang sangat terkenang adalah, “Gus Dur kuwi wonge nggunake adab, arep mlebu thoriqoh liya wae isih sempat kirim surat.
(Gus Dur itu orangnya beretika, mau masuk tarekat lain saja, minta izin dengan, berkirim surat ).
Gus Dur menjadi santri tarekat yang berbaiat kepada Mbah Jimbun sebelum menjadi Presiden RI ke-4. Salah satu contoh kesederhanaan dan kebersahajaan Mbah Jimbun, meski memiliki nasab yang mulia, ketika ada seorang kyai penghafal Al-Quran sowan ke Kyai Sonhaji menanyakan silsilah, maka jawab Kyai Sonhaji:
Inna akramakum ‘indallahi atqakum”. (Sesungguhnya paling mulianya di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa).
Jawaban di atas mencerminkan kesederhanaan Kyai Sonhaji yang tidak mau terlena dengan membanggakan nasabnya sendiri, sedang amal shalehnya terabaikan. Amal shaleh lebih utama ketimbang membanggakan nasab mulia (garis keturunan).
Contoh kesederhanaan di zaman sekarang yang mungkin mulai luntur.
Mengenang sosok Mbah Jimbun, akan terkenang pula sosok Gus Dur.
Kyai Sonhaji adalah satu diantaranya yang secara terang-terangan meminta Gus dur untuk bersedia menjadi Ketua Umum PBNU. Sebagai salah satu guru spiritual yang dihormati Gus Dur, Kyai Sonhaji selalu hadir mendampingi Gusdur setiap ada kunjungan ke Kebumen.
Kyai Sonhaji wafat satu tahun sebelum wafatnya Gus Dur, wafat dalam usia 92 tahun. Tepatnya pada hari Senin sore 17 Maret 2008 . Jenazahnya
dimakamkan di Dukuh Jimbun, Desa Giwangretno, Kecamatan Sruweng, Kebumen. Al Fatehah.. * (Ken Abimanyu)

*) diolah dari berbagai sumber.

* Ken Abimanyu, yang selalu bangga menyebut dirinya sebagai Inlander Krakal ini adalah penyuka dan pengamat sejarah serta budaya. Ia lahir di Krakal, Kebumen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x