Minggu , 25 Juli 2021
Beranda » Humaniora » Kesempatan Menjadi Guru Ngaji, di Masa Pandemi
Ilustrasi. (wikipedia)

Kesempatan Menjadi Guru Ngaji, di Masa Pandemi

PADA tanggal 2 Maret 2020, untuk pertama kalinya Pemerintah mengumumkan dua kasus pasien positif Covid-19 di Indonesia. Namun, sejak Januari virus Corona jenis baru ini diumumkan dapat menularkan antar manusia, dan sudah menjelajah di berbagai negara lain selain Wuhan, China.

Tepat bulan Maret 2020 juga, pondok pesantren tempat saya menimba ilmu disamping kuliah di UIN Sunan Kalijaga, secara mendadak memulangkan santri-santrinya karena virus Corona tersebut. Kami diberikan waktu satu minggu untuk persiapan pulang. Seluruh santri diminta untuk kembali ke rumah masing-masing, dengan syarat tidak boleh menggunakan angkutan umum, seperti kereta api, bus, dan travel. Dengan begitu, santri sangat dianjurkan ketika kembali ke rumah untuk mengendarai motor pribadi ataupun dijemput oleh orang tua menggunakan kendaraan pribadi.

Meskipun rumah saya dekat dengan pesantren, tetapi saya haruslah mematuhi ketentuan untuk pulang ke rumah tersebut. Keputusan itu harus saya terima dengan rasa bahagia dan penuh semangat untuk kembali k erumah masing-masing sementara waktu. Hingga waktu yang belum bisa ditentukan.

Waktu itu saya sudah berada di rumah selama kurang lebih satu bulan, namun kegiatan yang saya kerjakan hanya kuliah secara daring atau online saja. Di sisi lain saya merasa bosan dan suntuk dengan aktivitas yang hanya dilakukan di dalam kamar, ataupun di rumah saja. Saya pun sempat berpikir ingin mencari pekerjaan atau kegiatan apa pun yang bisa menghasilkan uang. Tetapi timbul pula kebingungan, jika nanti sibuk dengan aktivitas lainnya, bekerja atau apa pun,   saya khawatir aktivitas kuliah meskipun secara daring bakalan terganggu. Namun, jika tidak mencari aktivitas lain selain kuliah, saya tidak akan ada kemajuan.

Simak juga:  Menyanyi Membuat Hidup Lebih Berwarna

 

Ditawari Seorang Teman

Ketika sedang memikirkan hal tersebut, ada seorang teman yang menghubungi saya menawarkan untuk mengajar ngaji. Tanpa basa basi saya mengiyakan tawaran teman saya itu. Namun di sisi lain saya juga memikirkan dengan sangat matang, bagaimana jika nanti kegiatannya tidak bisa berjalan dengan lancar, bagaimana jika nanti anak-anak tidak nyaman dengan cara pengajaran saya dan lain sebagainya.

Saya kira mulai mengajarnya setelah pandemi berakhir, namun mereka meminta saya untuk mengajar mengaji mulai satu minggu kemudian.  Ya, satu minggu setelah saya menyatakan bersedia mengajar.

Mengaji atau ngaji adalah sebuah kata yang tak asing di telinga kaum Muslimin, khusunya Indonesia. Mengaji adalah salah satu kegiatan yang wajib dilakukan bagi semua umat Muslim. Mengaji di dalam agama Islam termasuk ibadah dan orang yang melakukannya akan mendapatkan ganjaran dari Allah SWT. Mengaji bukanlah kegiatan membaca Al-Quran saja, tetapi mengaji juga menambah wawasan tentang pengetahuan teori-teori keagamaan yang biasanya bisa dikatakan ngaji kitab kuning.

 

Pengalaman Pertama Mengajar

Mengajar adalah pengalaman pertama kali saya dalam 23 tahun. Saat itu yang saya rasakan antara senang dan gelisah, karena saya bukanlah orang yang mudah akrab dengan orang yang baru saja dikenal. Saya takut jika tidak bisa merebut perhatian anak-anak untuk proses pembelajaran nanti.  Saya juga memikirkan cara pengajarannya dalam beberapa malam. Saya takut jika pelajaran yang saya ajarkan kurang diminati oleh anak-anak.

Membimbing anak usia sekolah dasar tidaklah mudah bagi saya. Namun saya berusaha untuk bisa membuat proses pembelajaran enjoy dan asyik. Pengajaran dilakukan setiap satu minggu sekali, yaitu setiap hari Minggu. Saya mengajar tiga anak sekaligus dalam sekali waktu pengajaran. Dalam bayangan saya sebelum mengajar, bahwa mereka belum terlalu bisa untuk membaca Al-Quran.

Simak juga:  Kelas Online: Dilema Mahasiswa Menghadapi Keadaan

Namun, ternyata mereka di luar dugaan saya. Cara membaca mereka sudah lumayan lancar dan fasih, meskipun ada beberapa hal yang belum dipahami dan dimengerti. Sedikit demi sedikit saya memberikan materi kepada mereka, cara membaca Al-Quran dengan baik, meliputi makhrojnya dan tanda bacanya. Tidak memerlukan waktu yang panjang, mereka bisa mempraktikkan apa yang saya ajarkan.

Dalam kegiatan mengajar, saya tidak hanya memberikan materi saja. Tetapi mereka saya berikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung dan mencari contoh materi apa saja yang sudah disampaikan hari itu. Saya selalu merasa bangga sekali dengan mereka, ketika melihat anak-anak sangat bersemangat untuk mengikuti kegiatan mengaji dan berebut untuk memberikan contoh-contoh yang ditugaskan kepada mereka. Semangat anak-anak yang sangat luar biasa membuat rasa puas dengan apa yang selama ini saya jalani untuk mengajar mereka. Antusias mereka dalam kegiatan proses belajar sangatlah baik. Meskipun ada salah satu anak di antara mereka yang masih sangat pemalu dan kurang maksimal untuk mengikuti pelajaran. Bagi saya, pandemi Covid-19 bukanlah suatu halangan untuk menimba ilmu. Justru kita dianugerahi banyak waktu luang., dan waktu luang tersebut bisa digunakan untuk menuntut ilmu. Di balik musibah ada hikmah. Kita bisa mempunyai banyak waktu luang, dan bisa dimanfaatkan untuk hal kebaikan atau sekedar membaca buku keilmuan lainnya. *** [Husna Murtafi’atul H]

 

* Husna Murtafi’atul H, kini merupakan mahasiswi di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam [KPI] Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x