Jumat , 18 Juni 2021
Beranda » Event » Jokowi Berkarakter Solidarity Maker
Eko Sulistyo (kiri) dan para narasumber. (Joshua Igho)

Jokowi Berkarakter Solidarity Maker

UNGKAPAN yang disampaikan Presiden Jokowi, “lamun sira sekti, aja mateni”, dipengaruhi oleh konteks kesadaran dan memori kolektif sebagai pemimpin yang dilahirkan dari ibu kandung budaya Jawa. Ungkapan yang diambil dari falsafah Jawa ini bukan berati bahwa dia ingin bertingkah seperti raja-raja Jawa zaman dulu dengan kekuasaan yang tak terbatas. Ungkapan itu justru mengingatkan kita bahwa kekuasaan itu terbatas, tidak absolut.

Pernyataan di atas ada di dalam esai Eko Sulistyo berjudul “Lamun Sira Sekti, Aja Mateni” yang terhimpun di dalam bukunya “Dari Jokowi Hingga Pandemi – Esai-esai Politik dan Kebudayaan”.

Buku yang menghimpun 42 esai Eko Sulistyo dan diterbitkan Maret 2021 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) ini diluncurkan serta didiskusikan pada Rabu, 31 Maret 2021, di RM Mertamu, Sumberan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman.

Diskusi yang dipandu Annisa Hertami itu menghadirkan empat narasumber dan penulis bukunya, Eko Sulistyo. Keempat narasumber terdiri Halim HD seorang netwoker kebudayaan dari Solo, DR Arie Sujito (Sosiolog UGM), Candra Gautama (editor senior KPG) dan Gendis Syari W (dari kelompok milenial).
Sang penulis, Eko Sulistyo, yang lahir di Kendal, 30 Maret 1968 adalah sarjana sastra dari UNS. Tahun 2014-2019, ia menjadi Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, 2015-2020 sebagai Komisaris PT Danareksa, dan kini Komisaris PT PLN.

 

Budaya dan Identitas
Menyambung pernyataannya yang ada di dalam esai itu, Eko Sulistyo mengemukakan, politik sendiri memang terkait dengan budaya dan identitas. Setiap pimpinan politik akan membawa identitas masing-masing. Identitas yang terkelola dengan baik dan tidak adanya struktur politik yang membatasi kekuasaan bisa mengakibatkan sistem politik terbentuk seperti pada zaman Orde Baru yang merefleksikan kekuasaan tradisional Jawa. Namun, gerakan mahasiswa telah mereformasi sistem politik lama tersebut dengan sistem politik demokratis seperti sekarang ini.

Eko Sulistyo kemudian meminjam pernyataan Benedict Anderson (1986) yang menyebutkan, kekuasaan dan kepemimpinan adalah dua hal yang saling terkait. Kekuasaan itu akibat sekuler dari peristiwa politik sebagai hubungan antarmanusia yang dibingkai secara moral lewat kebijakan seorang pimpinan. Maka, dari sisi moral, kekuasaan itu tidak boleh semena-mena. Kekuasaan butuh kepemimpinan moral yang bisa memahami dan mendengar orang lain. Sementara, kepemimpinan juga butuh moral yang dapat membimbing kekuasaannya.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan IX: Perlu Sosialisasi Hidup Sabutuhe, Sakcukupe, Sakanane

Dalam perspektif ini, lanjut Eko Sulistyo, ungkapan “lamun sira sekti, aja mateni” sebenarnya juga merupakan pesan moral Jokowi sebagai pemimpin yang memegang kekuasaan tertinggi di republik ini untuk senantiasa menjaga moralitas kekuasaan agar tidak dia gunakan secara semena-mena. Inilah fondasi moral yang mendasari kepemimpinan Jokowi dalam memimpin negeri ini. Prinsip kepemimpinan itu dia ambil dari falsafah dan ajaran moral tentang kepemimpinan yang hidup dalam alam memori kolektif masyarakat Jawa.

Dikemukakan lagi oleh Eko Sulistyo, dalam konteks politik hari ini, ungkapan itu juga menunjukkan karakter kepemimpinan Jokowi sebagai solidarity maker, pemimpin yang berjiwa merangkul dan menyatukan. Meski terpilih kembali sebagai presiden, dia tidak merendahkan pihak yang kalah. Karakter kuat sebagai tipe pemimpin solidarity maker juga ditunjukkan Jokowi dalam kebijakan pembangunannya dengan visi Indonesiasentris, bukan Jawasentris lagi.

 

Nasionalisme Multikultural
Buku kumpulan esai Eko Sulistyo ini dibagi dalam tujuh bab. Bab IV bicara tentang Musik, Kartun dan Politik Kegembiraan.
Beberapa bab yang banyak disinggung oleh para narasumber dalam diskusi di antaranya Bab I Politik, Kekuasaan dan Kebudayaan. Esai berjudul Lamun Sira Sekti, Aja Mateni ada di dalam Bab I ini. Kemudian Bab III Globalisasi Virus dan Politik Vaksin. Dan, Bab IV Musik, Kartun, dan Politik Kegembiraan.
Ada lima esai terhimpun di Bab IV ini. Semuanya menarik. Salah satu esai yang menarik berjudul “Sobat Ambyar dan Nasionalisme Multikultural”.

Di dalam esai ini Eko Sulistyo di antaranya mengemukakan, lagu-lagu Didi Kempot memang memiliki ciri khas. Hampir semuanya menggunakan bahasa Jawa Ngoko. Temanya adalah kejadian hidup sehari-hari dan mengambil latar belakang area publik seperti Terminal Tirtonadi, Stasiun Balapan, Pasar Klewer, dan Malioboro. Selain itu lagu-lagunya mengandung ungkapan-ungkapan yang bermakna konotasi serta kisah percintaan yang berujung perpisahan atau kesedihan.

Menariknya, urai Eko Sulistyo, menurut Didi Kempot, kesedihan yang ada dalam lirik lagu-lagunya bukan untuk diratapi, melainkan memberi semangat untuk membentuk hidup yang lebih baik. Ini tercermin, misalnya, dalam ungkapannya yang kini banyak diunggah dalam percakapan para penggemarnya di media sosial: “Daripada patah hati, mending dijogeti.” Itulah fenomena Sobat Ambyar, gambaran perasaan galau pemuda zaman sekarang yang diungkapkan lewat lagu dan joget musik campursari.

Simak juga:  Sarjana Corona Bisa Apa??

Eko Sulistyo mengemukakan juga, dalam konteks Sobat Ambyar, penerimaan lagu-lagu etnolinguistik seperti campursari oleh generasi milenial di panggung hiburan nasional adalah cerminan sikap multikultural masyarakat Indonesia.

Eko Sulistyo menjelaskan, multikulturalisme sendiri adalah realitas serta sekaligus menjadi tantangan masa kini dan masa datang bagi Indonesia. Ia bukan doktrin politik yang isinya programatik, juga bukan teori filosofis tentang manusia dan budayanya. Multikulturalisme adalah perspektif tentang kehidupan manusia yang menempatkan keanekaragaman budaya sebagai modal sosial dan sumber peluang kreatif bagi kemajuan sebuah bangsa.

Dalam bagian lain esai ini Eko Sulistyo menyebutkan, dalam fenomena Sobat Ambyar, musik campursari Didi Kempot dapat menjadi sarana penting memperkuat identitas nasional Indonesia. Penerimaan penggemarnya yang lintas budaya dan lintas generasi dapat menjadi identitas baru yang menyatukan. Dorongan nasionalisme multikultural ini bisa menjadi budaya tandingan terhadap narasi ideologi yang berbasis agama, suku, ras, maupun kelas, karena musik juga bisa menyatukan lintas kelas sosial.

 

Reuni Mantan Aktivis
Selain bukunya yang menarik, acara peluncuran dan diskusinya yang dibuka oleh Ons Untoro selaku penyelenggara dari Komunitas Goedang Kebun Damai ini juga memunculkan suasana yang menarik. Betapa tidak. Sebagian besar peserta yang hadir di acara itu adalah para mantan aktivis mahasiswa era 80-an dan 90-an dari berbagai kota di Jawa. Acara itu pun menjadi semacam ajang reuni para mantan aktivis mahasiswa di era Orde Baru lalu.

Suasana reuni semakin kental ketika John Tobing, mantan aktivis mahasiswa yang pencipta lagu Darah Juang tampil menyanyikan beberapa lagu ciptaannya tentang semangat perjuangan mahasiswa dan kaum muda.
Dan, sang penulis buku, Eko Sulistyo, semasa mahasiswa dulu memang dikenal sebagai aktivis pergerakan mahasiswa dan aktivis pers mahasiswa. * (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x