Sabtu , 17 April 2021
Beranda » Humaniora » Tragedi Cinta di Istana Mataram Kuno (2): Istana Diserang dan Dibakar
Patung Airlangga. (Wikipedia)

Tragedi Cinta di Istana Mataram Kuno (2): Istana Diserang dan Dibakar

PERISTIWA penculikan Rakryan Manak yang berakibat dengan tewasnya istri Rakai Pikatan tercatat sebagai tragedi memilukan sekaligus menyakitkan dalam perjalanan Kerajaan Mataram Kuno.
Para Raja Kerajaan Mataram Kuno pengganti atau penerus tahta Rakai Kayuwangi senantiasa menjadikan tragedi cinta berdarah itu sebagai pelajaran berharga. Sampai Kerajaan Mataram Kuno diperintah Rakai Sumba Dyah Wawa pada tahun 927, kisah tragedi cinta berdarah selalu disampaikan oleh para pemuka Kerajaan maupun pemuka agama untuk menjadi ingatan yang tak boleh terulang lagi.

Meski peristiwa tragedi cinta berdarah itu tak terjadi lagi, tapi di masa pemerintahan Rakai Sumba Dyah Wawa yang relatif singkat itu telah terjadi tragedi kemanusiaan yang dahsyat.
Tragedi kemanusiaan itu berupa meletusnya Gunung Merapi di sekitar tahun 929. Letusan Gunung Merapi ketika itu diperkirakan sangat dahsyat. Ibukota Kerajaan di Medang luluh lantak dihancurkan letusan Merapi.
Tak hanya menghancurkan istana dan pusat pemerintahan di Medang serta daerah-daerah sekitarnya, letusan Merapi itu juga telah mengakibatkan korban jiwa yang besar.
Bahkan sang raja, Rakai Sumba Dyah Wawa, juga menjadi korban tragedi kemanusiaan akibat bencana alam Gunung Merapi tersebut. Sang Raja tewas, demikian pula sejumlah pejabat tinggi Kerajaan lainnya. Korban jiwa di kalangan rakyat pun sangat besar.

Karena ibukota Kerajaan di Medang hancur, menurut Prasasti Turyyan, Pu (Mpu) Sindok salah seorang petinggi Kerajaan yang selamat dari bencana memimpin pengungsian rakyat ke arah timur.
Pengungsian itu dilakukan selain untuk menyelamatkan diri dari ancaman semburan hawa panas Merapi, juga untuk mencari lokasi baru yang layak dijadikan ibukota Kerajaan. Karena dalam keyakinan para pemuka masyarakat kala itu apabila ibukota suatu kerajaan hancur karena bencana, maka ibukota Kerajaan harus segera dipindahkan ke lokasi baru.

Demikianlah, Pu Sindok memimpin pengungsian rakyat ke Kanjurhan (di Jawa Timur). Kemudian di tahun 929 itu juga Pu Sindok dan para pejabat Kerajaan yang tersisa dibantu rakyat yang ikut dalam pengungsian membangun ibukota baru di Tamwlang (sekitar Jombang).
Sejak itulah ibukota Kerajaan Mataram Kuno yang semula di Medang (sekitar Yogyakarta dan Jawa Tengah) dipindahkan ke Tamwlang (Jawa Timur).
Sejak ibukota Kerajaan pindah ke Jawa Timur, Pu Sindok yang memimpin Kerajaan kemudian menyatakan bahwa Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh wangsa baru, yakni Wangsa Isana.

 

Tragedi Pralaya
Pu Sindok memerintah Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Timur itu dari tahun 929 sampai 948. Sebagai Raja, Pu Sindok bergelar Sri Isanawikrama Dharmatunggadewi.
Singkat cerita, sejak 948 Pu Sindok kemudian digantikan putrinya bernama Sri Isanatunggawijaya. Isanatunggawijaya digantikan putranya bernama Sri Makutawangsawardhana.
Kemudian di dalam Kitab Wirataparwa disebutkan, pada tahun 990 sampai 1017, Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Timur itu dipimpin oleh Dharmawangsa. Sebagai Raja ia bergelar Sri Isana Darmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa.

Tragedi cinta berdarah yang terjadi semasa Kerajaan Mataram Kuno diperintah Rakai Kayuwangi dan masih beribukota di Medang (seputar DIY dan Jawa Tengah) terulang lagi di era pemerintahan Dharmawangsa. Dan tragedi cinta berdarah itu juga dikenal dengan sebutan Peristiwa Pralaya atau Tragedi Pralaya.
Tragedi itu bermula dari rencana Raja Dharmawangsa yang ingin menikahkan putrinya dengan putra Raja Dharmadayana dari Bali yang bernama Airlangga.

 

Karena Cinta Tak Berbalas
Berita tentang rencana pernikahan Sang Putri dengan Airlangga itu segera menyebar luas. Berita itu menyebar sampai ke pelosok-pelosok wilayah Kerajaan, bahkan juga ke wilayah-wilayah kerajaan bawahan lainnya.
Rakyat yang mendengar berita itu menyambutnya dengan gembira dan sukacita. Apalagi terdengar kabar, pesta perkawinan Sang Putri dengan Airlangga itu akan dilaksanakan secara meriah, selama beberapa hari.
Keputusan Raja Dharmawangsa yang memilih putra Raja Bali, Airlangga, untuk dijadikan menantunya, sangat memukul dan mengejutkan Rakai Wurawari yang menjadi Raja bawahan di Kerajaan Wurawari.
Betapa tidak, jauh-jauh hari, Rakai Wurawari sudah merencanakan untuk melamar dan menikahi Sang Putri Raja Dharmawangsa itu. Apalagi Sang Putri memang cantik jelita. Ia memang jatuh cinta kepada Sang Putri.
Menurut Rakai Wurawari, bila ia bisa menjadi menantu Raja Dharmawangsa, maka dirinya memiliki peluang pula untuk menjadi Raja di Kerajaan Mataram Kuno. Sehingga ia tidak hanya cukup puas menjadi Raja di Kerajaan Wurawari saja, yang merupakan kerajaan bawahan Mataram Kuno tersebut. Sejumlah rencana sudah direncanakan dan disiapkannya.

Akan tetapi sebelum niat atau rencananya itu terwujud, ia dikejutkan berita rencana perkawinan Sang Putri dengan Airlangga. Ia tak hanya terkejut, tapi juga marah. Dadanya berguncang keras. Darahnya menggelegak. Rakai Wurawari pun bertekad akan menggagalkan rencana perkawinan itu. Ia pun menyusun rencana yang dahsyat dan di luar dugaan.
Ya, rencananya untuk menggagalkan perkawinan itu benar-benar di luar dugaan. Menurutnya, tak ada pilihan lain untuk menggagalkan pesta perkawinan itu selain menggagalkannya dengan cara melakukan penyerangan ke istana saat pesta perkawinan dilangsungkan.

Sambil menunggu pesta perkawinan itu dilangsungkan, Rakai Wurawari pun mempersiapkan strategi perang yang tidak saja bisa menggagalkan pesta perkawinan, tapi juga menghancurkan Kerajaan Mataram Kuno.
Raja Dharmawangsa tak menyadari hal. Ia lengah. Satuan intelijennya juga lemah, sehingga tak mampu mendapatkan informasi-informasi tentang rencana Rajai Wurawari tersebut. Terlebih lagi ketika itu, sebagian besar kekuatan Kerajaan Mataram Kuno sedang dikirim untuk menyerang Kerajaan Sriwijaya di Sumatera.
Rencana yang bermula karena keinginan cintanya tak kesampaian itu pun benar-benar dilaksanakan. Ketika Raja Dharmawangsa dan segenap pejabat Kerajaan sedang bergembira ria merayakan pesta perkawinan Sang Putri dengan Airlangga, pasukan atau prajurit-prajurit Kerajaan Wurawari pun menyerbu pusat Kerajaan. Istana yang jadi tempat pelaksanaan pesta perkawinan diserang dan dibakar. Istana yang semula semarak dengan cahaya lampu-lampu, berubah menjadi lautan api.
Prajurit-prajurit Kerajaan dan pasukan pengawal istana mencoba melawan serbuan prajurit-prajurit Kerajaan Wurawari.
Istana terbakar. Pusat pemerintahan porak poranda. Korban berjatuhan. Lagi darah tertumpah hanya karena cinta yang gagal kesampaian. Lagi, ada tragedi cinta yang berdarah. *  (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x