Minggu , 7 Maret 2021
Beranda » Humaniora » Inovasi Mahasiswa Daerah di Tengah Pandemi
Angkringan baca yang digagas para mahasiswa. (Ist)

Inovasi Mahasiswa Daerah di Tengah Pandemi

PANDEMI Covid-19 merupakan situasi luar biasa yang dialami seluruh masyarakat di belahan dunia mana pun, salah satunya adalah Indonesia. Kecemasasan, kegalauan, dan kegelisahan pun terjadi di tengah-tengah benak masyarakat. Hal ini membuat semua sektor menurun drastis, dari sektor ekonomi, pariwisata hingga pedidikan pun menurun.

Berbagai cara pun dilakukan oleh Pemerintah untuk menanggulanginya. Melakukan  penerapan pembatasan sosial, protokol kesehatan serta adaptasi kebiasaan baru, hingga penyemprotan disinfektan yang terus menerus dilakukan di berbagai tempat. Mungkin banyak informasi dari media yang tak henti-hentinya meberitakan tentang pandemic Covid-19 yang mengancam seluruh masyarakat, khususnya di Indonesia. Dampak buruk pun terjadi, pariwisata yang tak kunjung buka, otomatis ekonomi di daerah yang mengandalkan pariwisata pun terkena dampak nya, pendidikan secara online membuat para pelajar kesulitan dalam belajar begitu pun para mahasiswa perantau yang memilih untuk melaksakan pembelajaran secara online di rumah saja.

Kita ketahui bahwa semua ini ulah virus yang tak jelas kapan berakhirnya.  Virus yang jika kita biarkan dampaknya kian memburuk. Covid-19 itulah nama virus yang sempat bermutasi menjadi lebih kuat. Penyebaranya yang begitu cepat mulai dari negara China yang kemudian menyebar ke seluruh sudut negara di dunia. Setiap negara mempunyai keresahan tentang Covid-19 ini, masing masing, tergantung bagaimana negara itu menyikapinya. Indonesia adalah negara yang terpaksa berpartisipasi melawan virus ini. Tercatat dimulai pada awal bulan Maret 2020

Namun dengan adanya pandemi Covid-19 ini bukan alasan untuk kita mengurangi produktifitas dan kreatif, kondisi ini tidak menghilangkan semangat sebagian masyrakat untuk terus berkreasi.

”Dalam menghadapi Covid-19, kita memerlukan inovasi dan solusi kreatif yang lahir dari gagasan dan karya generasi muda,” ujar kyla Christie.

Dengan ini sehingga banyak terciptanya karya baru dari kawula muda yang memilih untuk tetap berkarya dan bahkan menciptakan puluang serta tren baru di tengah pandemi. Hal ini tidak disia-sia kan oleh para kreator muda yaitu kaum mahasiswa Yogyakarta asal kota kecil Jembrana, Bali, yang pulang akibat sistem kuliah online ini. Dengan gagasan ide yang cemerlang para mahasiswa ini membuat suatu ruang membaca bagi masyarakat Jembrana, kususnya para pelajar dan kaum muda yang kesulitan belajar akibat pandemi.

Simak juga:  Falsafah Wanita dan Garwa, Kunci Sukses Tugas Ibu Rumah Tangga

“Kita adalah generasi yang paham pentingnya menumbuhkan kreativitas yang konkret di tengah kekacauan yang terjadi. Kita buat dan lebih bersatu dari sebelumnya mengingat kaum muda menjadi kelompok masyarakat sipil yang memiliki jangkauan luas dan sumber daya potensial untuk medorong hal hal positif,” ujar Nabil, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, sekaligus menjabat Ketua Himpunan Mahasiswa Daerah Yogyakarta-Bali.

Melihat kondisi kota Jembrana yang minim dengan literasi bahkan toko buku pun tidak terlihat di kota ini, sampai Perpustakaan Daerah menjadi seperti gedung yang tak berpenghuni itu seakan akan menjadi hiasan kota belaka. Akan tetapi kota kecil ini punya sarjana-sarjana muda yang memiliki otak-otak kreatif, namun  sedikit ruang untuk membaca. Menyaksikan  hal ini, mereka para mahasiswa yang resah oleh hal itu termasuk Nabil membuat ruang membaca.

Berawal dengan datang dari desa ke desa lainya yang terpencil untuk membantu para anak-anak yang kesulitan belajar, mereka membantu dengan backgroundnya masing-masing sesuai jurusan di perkuliahannya. Yang jurusan pendidikan membantu anak-anak agar tetap bisa belajar, meskipun tak punya gadget yang menuntut para pelajar saat ini belajar dengan online. Kemudian yang jurusan agama, mereka membantu mengajar ngaji para anak-anak pada sore hari, begitupun mahasiswa lainya yang membantu di bidang lainnya. Hal ini mendapatkan tanggapan positif dari masyrakat setempat.

 

Dukungan Masyarakat

 “Saya sangat bangga dengan putra daerah yang melakukan hal positif seperti ini. Ini dampak positif dari Corona yang membuat para mahasiswa berkumpul dari berbagai universitas yang berbeda untuk membangun daerah dengan membantu anak-anak desa di sini. Hal ini jarang dilakukan di tahun-tahun sebelumnya,” ujar H. Ahmad Syaifullah, tokoh masyarakat di Jembrana.

Simak juga:  Apresiasi Karya di Ambenan Ijogading

Dukungan serupa disampaikan oleh Pemerintah Daerah Jembrana.

“Penting sekali peran pemuda pada masa saat ini yang memiliki pikiran yang terbuka dan kreativitas, karena pikiran inilah yang akan dapat membangun daerah kecil seperti Kabupaten Jembrana. Saya dukung,” kata Bupati Jembrana I Putu Arta.

Dukungan positif seperti ini di perlukan oleh mahasiswa-mahasiswa untuk menyemangati generasi muda agar berinisiatif dan berperan aktif dalam perubahan yang positif.

Mengingat kurang nya minat literasi di daerah Kabupaten Jembrana ini, selain kegiatan ke desa-desa, mahasiswa ini membuat gerakan membaca sambil ngopi dengan membuat sebuah ruang membaca dalam bentuk angkringan, digagas oleh para mahasiswa daerah yang resah dengan tingkat literasi yang minim di daerah asal nya. Angkringan “Kulo” bukan sekadar tempat nongkrong biasa, namun sebuah tempat ngopi yang menyediakan sebuah ruang membaca dengan tujuan membangun minat membaca para pemuda daerah Jembrana.

Hal ini membuat para pecinta kopi yang dan para pemuda yang berkunjung diajak untuk membaca sambil menikmati kopi yang rata-rata diminati oleh para pemuda. Tidak sekadar membaca, para mahasiswa itu seminggu sekali sering mengadakan forum diskusi dan bedah buku dengan mengundang orang-orang berkompeten di daerah Jembrana untuk menjadi pemantik dalam diskusi. Kegiatan ini untuk mengasah sikap kritis sebagai mahasiswa agar selalu progres untuk menghasilakan karya karya yang inovasi. Diharapkan kegiatan positif ini selalu dilaksanakan oleh kaum kaum muda yang kreatif. Sehingga meskipun kita dilanda pandemi tidak mengurangi semangat agar selalu inovasi dan kreatif. *** [Aglifa Shafly Al-farabi]

 

* Aglifa Shafly Al-farabi, lahir tepat pada 21 Januari 2000, di Negara, Bali. Saat ini sedang menempuh pendidikan di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.  Punya kesukaan  berkelana dari daerah satu ke daerah lain untuk menambah wawasan ilmu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x