Jumat , 18 Juni 2021
Beranda » Event » Hujan Pertama di Bulan Purnama
Isbedi Stiawan. (Ist)

Hujan Pertama di Bulan Purnama

Antologi puisi berjudul ‘Hujan Pertama di Bulan Purnama’ akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 116, Kamis, 27 Mei 2021, pkl. 19.30 disiarkan secara live melalui youtube sastra bulan purnama, masih dalam format poetry reading from home seri 16.

Antologi puisi ini merupakan periode  4 dari seri sastra tembi, menampilkan 52 penyair dari berbagai kota di Indonesia. Puisi2 yang sudah ditayang di tembirumahbudaya.com setiap hari Jumat, pada bulan Mei diterbitkan, dan bulan Mei 2021 ini merupakan periode 4.

“Setiap jumat, yang dimulai bulan Mei 2020 puisi dari para penyair yang lolos kurasi redaksi ditayangkan di tembirumahbudaya,com. Tayangan terakhir April 2021 dan kemudian bulan Mei 2021 diterbitkan sekaligus diluncurkan di Sastra Bulan Purnama” ujar Ons Untoro koordinator Sastra Bulan Purnama yang sekaligus mengkurasi puisi.

Pandemi covid 19 yang sudah lebih dari satu tahun membuat peluncuran antologi puisi seri sastra tembi tidak bisa diselenggarakan secara offline, melainkan melalui jalur yang dikenal sebagai daring. Mei tahun 2020 lalu, antologi puisinya berjudul ‘Mata Air Hujan di Bulan Purnama’ diselenggarakan secara daring.

Simak juga:  Handrawan Nadesul Tampil di Sastra Bulan Purnama

Dua buku sebelumnya, periode 1 berjudul “Kepada Hujan di Bulan Purnama’ (2018), dan periode 2 berjudul ‘Membaca Hujan di Bulan Purnama’ (2019) masih diselenggarakan secara offline mengambil tempat di Amphytheater tembi rumah budaya.

“Pada periode 3 dan 4, karena pandemi covid, kita tidak boleh saling berkerumun, tetapi tidak ada larangan membaca puisi, maka dipilih secara on line dan diberi tajuk poetry reading from home” kata Ons Untoro.

Beberapa penyair yang sudah siap membacakan puisi dari 52 penyair yang puisinya masuk dalam antologi puisi, di antaranya Isbedi Stiawan (Lampung), dan dikenali sebagai paus sastra Lampung, Eddy Pranata PNP (Banyumas), Indri Yuswandari (Kendal), Darmanto Andreas (Magelang), Junaidi Haes (Ngawi), Mahesa Noe (Klaten), Didik Eros (Jombang), Yuliani Kumudaswari, Yanti S.Sastra (Semarang) dan beberapa penyair dari Yogya di antaranya Marjuddin Suaeb, Enes Pribadi, Dalle Dalminto, Siti Dwi Sugiarti, Sri Wijayati, Rnd Krisnawati, Budi Eswe, Budi Susanto, Nursisto dan beberapa nama lain.

“Dari 52 penyair yang puisinya masuk dalam antologi puisi tidak semua tampil membacakan puisi, tapi biasanya hadir secara on line melihat pertunjukkan live sastra bulan purnama” ujar Ons Untoro

Simak juga:  Membaca Hujan di Bulan Purnama

Sekitar 15 penyair yang tampil memang tidak ada yang menyajikan puisi dalam bentuk lagu, yang lazim disebut sebagai lagu puisi. Tetapi penampilannya dalam membaca puisi ada yang disertai iringan musik, namun ada juga yang tampil sebagaimana adanya membaca puisi.

Sastra Bulan Purnama sebagai ruang interaksi antara penyair dan  pecinta puisi, selama lebih dari 9 tahun ini terus saling menjaga silaturahmi. Penyair dari berbagai kota saling bertemu di Tembi Rumah Budaya melalui Sastra Bulan Purnama dan masing-masing saling meneguhkan persahabatan.

“Jadi, bisa dikatakan Sastra Bulan Purnama merupakan medan persahabatan dan berkreasi sehingga masing-masing penyair terus berkarya sekaligus bersahabat dengan pecinta sastra” ujar Ons Untoro. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x