Senin , 29 November 2021
Beranda » Humaniora » Hikmah dan Fitnah di Tengah Wabah Covid-19
(shaftasby.sch.id)

Hikmah dan Fitnah di Tengah Wabah Covid-19

MASYARAKAT dunia digemparkan dengan berita menyebarnya wabah virus Covid-19 yang bermula dari Wuhan, China awal tahun 2020. Seperti hantu yang hadir di siang bolong, virus ini hadir tanpa wujud dan menimbulkan rasa takut, virus ini tidak memandang bulu, siapa saja bisa terdampak. Pemerintah pusat maupun Daerah pun melalui gugus tugas gencar mengimbau agar masyarakat selalu waspada, tidak panik dan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Setiap hari, ada ribuan orang yang dinyatakan meninggal dunia akibat virus ini. Setiap bulan, setiap pimpinan daerah melakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk meminimalisir penyebarannya. Setiap waktu, tak henti-hentinya media memberitakan kepada kita untuk selalu memutuskan mata rantai penularan virus ini dengan menjaga kesehatan, memakai masker, menjaga jarak dan anjuran lain agar kita terhindar dari virus ini. Sebegitu menakutkan kah virus ini?

Sudah berbulan-bulan sejak Maret 2020 wabah Virus Covid-19 ini datang membawa kecemasan, orang-orang dibuat takut dengan kasus penularannya yang sangat cepat. Tenaga medis dibuat kewalahan oleh kehadirannya, menjadi garda terdepan melawan pandemi ini dengan kerelaan hati dan semangat juang melewati rumitnya keadaan. Seperti kita ketahui, wabah Covid-19 ini merupakan virus baru. Upaya melawan penyebarannya pun harus menjadi tanggung jawab bersama.

Terlepas dari ada dan tidak adanya virus ini, tentu adanya wabah ini memberikan dampak yang cukup besar terhadap seluruh lini kehidupan, kita dituntut untuk beradaptasi dengan peradaban baru, kebiasaan baru yang bahkan merubah tatanan kehidupan kita. Tentunya kehadiran wabah dalam kehidupan kita ini memberikan hikmah yang begitu besar bagi siapa saja yang mau memikirkannya.

 

Di Pasirjeungjing, Garut

Begitu pula yang terjadi di kampung saya, di sudut jauh selatan kota Garut. Di Kampung Pasirjeungjing, Desa Simpangsari, Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Kehadiran virus ini mendatangkan fitnah dan hikmah begitu besar untuk keberlangsungan hidup masyarakat Garut ini. Mengapa demikian?

Sejak kedatangan virus akhir Februari 2020 yang sampai sekarang masih menggemparkan masyarakat dunia, tapi tidak untuk daerah kami. Kehadiran virus ini sama sekali tidak dianggap, dengan dalih virus ini ‘hanya tipu daya pemerintah aja, udah ditunggangin politiklah,’ maka berimbas dengan abainya mematuhi protokol kesehatan. Di tempat-tempat umum masih banyak orang yang tidak memakai masker, bahkan akan diejek jika ada orang yang terlalu memperhatikan masker dan virus ini.

Simak juga:  Pejuang Garda Terdepan Kala Pandemi

Selain demikian, karena tersebarnya pesan berantai tentang hoax virus ini di grup-grup keluarga, arisan, guru-guru atau majelis taklim yang menurut saya masih miskin literasi media, membuat masyarakat susah membedakan informasi Covid-19  fakta ataupun hoax. Lebih parahnya berita yang belum tervalidasi kebenarannya ini disebarluaskan. Maka memberikan dampak lunturnya kepercayaan mereka terhadap wabah ini, bahkan menjadi fitnah. Hanya karena salah satu pihak mempercayai atau terlalu memperhatikan virus ini membuat timbulnya kecurigaan dengan sesama kerabat dekat, dikucilkan dijauhi bahkan didiskriminasi ketika kumpul bersama kerabat dekat.

Ini mungkin menjadi salah satu fitnah dengan hadirnya virus ini, membuat keresahan bahkan menimbulkan kerenggangan bersama keluarga. Bahkan saya pribadi merasakannya, karena sebelumnya saya di Yogyakarta dan sudah tahu penerapan protokol kesehatan di sana sangat disiplin. Dan dulu, sebelum saya pulang  kampung, ada tetangga di asrama saya yang terkena Covid, jadi saya pribadi pun sangat waspada dan memperhatikan protokol kesehatan.     Namun, ketika saya pulang kampung keadaan berubah drastis. Masih banyak kerumunan yang tidak memakai masker, bahkan sudah tidak peduli dengan adanya virus ini. Ketika di rumah pun, saya termasuk anggota keluarga yang merasa dikucilkan. Karena saya pribadi termasuk orang yang tidak mudah langsung percaya dengan informasi yang disebarkan di grup keluarga atau jadi bahan perbincangan santai kami terkhusus dalam konteks ini berita hoax tentang virus Covid-19. Berbeda dengan beberapa anggota keluarga saya yang langsung percaya terhadap berita itu dan memberikan justifikasi bahwa virus ini hanya konspirasi belaka. Paling menyedihkan ada yang menyebutkan bahwa saya ini sudah menjadi antek rezim dan mau-maunya percaya dengan virus yang tidak ada ini, padahal tidak ada hubungannya  saya dengan semua ini.

Ada Hikmah di Balik Kesedihan

Sedih? Sudah pasti, maksud baik kita sudah disalah-artikan. Namun, sebisa mungkin saya memberikan pengertian kepada mereka untuk menjadi pengguna media yang cerdas, untuk selalu berkepala dingin menanggapi fitnah yang tersebar didalam media tentang virus ini, sama-sama mencari fakta yang sebenarnya seperti apa.

Simak juga:  Menyambut Harbolnas 12.12 di Saat Pandemi Ini Dia Tips Agar Tetap Hemat!

Selain itu, saya pun mengajak keluarga saya untuk tidak terlalu menyepelekan atau terlalu takut (paranoid) dengan virus ini. Terlebih jangan terlalu menyepelekan, karena kita tidak tahu bagaimana perjuangan tenaga kesehatan menangani semua ini, bahkan kita pun tidak merasakan bagaimana sedihnya terkena Covid-19 ini. Maka yang harus kita lakukan adalah selalu waspada, berikhtiyar semaksimal mungkin dengan menjaga iman dan imun kita.

Terlepas dari itu semua, tentunya adanya virus ini memberikan hikmah yang besar untuk kita. Seperti kita harus sadar kunci untuk menghadapi virus ini adalah dengan bekerja sama satu sama lain, untuk selalu saling menjaga dan saling mengingatkan. Kebersihan lingkungan di sekitar pun jadi lebih terjaga, terlebih lagi di beberapa kota besar yang memberlakukan lockdown, memberikan dampak yang baik untuk lingkungan karena berkurangnya penggunaan kendaraan. Lalu di masa pandemi ini kita dituntut kreatif memanfaatkan kecanggihan teknologi komunikasi yang ada, kita pun diberikan ruang yang lebih luas untuk menyebarkan pesan kebaikan melalui media-media yang ada.

Maka dari itu pun kita dituntut untuk selalu berprasangka baik, meyakini bahwa apa pun yang menimpa kita pasti ada hikmah dan pelajaran yang akan kita dapatkan. Sesungguhnya terdapat tanda-tanda kebesaran Allah dari semua kejadian ini.

Ya Tuhan Kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari adzab Neraka. (Q.S. Ali Imraan: 192). *** [Tsani Najiah]

 

         * Tsani Najiah, merupakan seorang perempuan berdarah Sunda yang lahir di Garut 25 Oktober 2000. Saking Sundanya kental banget, teman-temannya biasa memanggilnya Teteh. Sekarang dia berproses di tanah kota yang sangat istimewa, Yogyakarta. Ia merupakan mahasiswi UIN Sunan Kalijaga yang mengambil Program Studi Komunikasi dan penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Selain menjalani  perkuliahan, ia juga aktif di salah satu organisasi intra maupun ekstra kampus. Ia pun sangat menyukai dunia pendidikan untuk anak-anak. Selain itu, ia sangat tertarik dengan isu keperempuanan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *