Minggu , 25 Juli 2021
Beranda » Humaniora » Dunia Literasi Membutuhkan Provokator, Bukan Konseptor yang Diam
Buku "Gundah Gulana Corona" dan "Covid-19 dan Serangkai Kisah Lainnya" karya anak-anak muda. (Sea)

Dunia Literasi Membutuhkan Provokator, Bukan Konseptor yang Diam

PENGGIAT literasi itu adalah seseorang yang menggerakkan, menyemangati, membangun atau memprovokasi orang-orang untuk suka dan terlibat di dunia literasi. Sedang pegiat literasi adalah seseorang yang menyukai literasi, mengisi hari-harinya dengan aktivitas literasi.

Tapi buat saya (dalam pandangan saya), pengertian penggiat dan pegiat literasi, terutama dalam literasi baca dan tulis itu sebenarnya sama. Andaipun ada perbedaan, ya, hanya berbeda tipis. Perbedaan yang tak perlu dirisaukan.

Dan, yang pasti dunia literasi itu membutuhkan provokator yang mampu memprovokasi siapa pun untuk menyukai dunia baca dan tulis. Memprovokasi orang lain tak hanya sekadar suka membaca, tapi juga menyukai buku-buku dan semacamnya, bahkan menyukai dunia penulisan.

Ya, buat saya, menjadi provokator dalam mengembangkan dan membangun dunia literasi jauh lebih berarti, dibanding hanya menjadi konseptor yang ‘diam’.


Buku “Menyanyi Itu Indah” karya para penyuka tembang kenangan. (Sea)

 

Terbangun Sejak Kecil
Baiklah, saya ingin berangkat dari pengalaman masa kecil. Hanya pengalaman yang sederhana. Dan, tak perlu pula dikaitkan dengan aktivitas literasi. Itu terlalu muluk-muluk. Karena ketika kecil dulu saya masih belum paham dan mengerti tentang dunia literasi. Istilah literasi itu pun belum pernah terdengar.

Nah, begini. Sejak bangku SR/SD, saya sudah menyukai dunia baca dan tulis. Ketika masih di SR/SD dulu, Ayah saya sudah berlangganan majalah “Skets Masa” yang terbit di Surabaya. Walaupun majalah itu sampainya di kota tempat tinggal saya sekitar tiga atau empat minggu setelah tanggal terbitnya. Maklumlah transportasi dan komunikasi di masa itu tidaklah semaju dan secanggih sekarang. jarak antara kota tempat tinggal saya dengan Surabaya yang di ujung Timur Pulau Jawa itu sangatlah jauh. Jangankan Surabaya, dengan Ibukota Jakarta yang di bagian Barat Pulau Jawa itu pun begitu jauh.

Ya, kota saya itu sebuah kota kecil di pulau kecil juga, yang bernama Bengkalis (sekarang kabupaten terkaya kedua setelah Kutai Kartanegara). Pulau Bengkalis itu terletak di pinggiran Selat Melaka.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XXIV: Bitingan Borongan Glundhungan

Tak hanya “Skets Masa”, Ayah saya dulu juga pernah berlangganan majalah hiburan “Panorama” (kalau tak salah juga terbit di Surabaya). Kegemaran membaca pun tumbuh di masa-masa itu. Jadi, sejak kecil saya sudah membaca “Skets Masa” yang merupakan majalah berita itu. Lewat majalah “Panorama”, saya membaca banyak feature dan kisah-kisah menarik tentang kehidupan. Oh iya, hampir lupa, ketika itu saya pernah juga membaca majalah “Minggu Pagi” yang terbit di Yogyakarta. Saya tidak tahu persis, bagaimana Ayah bisa mendapatkan “Minggu Pagi”. Apakah Ayah membelinya di Bengkalis, atau kiriman dari kenalan atau sahabat-sahabatnya.

Sekadar informasi saja, di masa itu “Minggu Pagi” memang merupakan majalah hiburan yang beredar luas di Tanah Air. Tidak hanya di Jawa, tapi juga beredar banyak di Sumatera.
Kalau majalah “Panorama” yang terbit di Surabaya itu sudah tidak lagi terbit, tapi “Minggu Pagi” masih tetap terbit sampai kini, walau tak lagi dalam format majalah. Dari majalah-majalah itulah kesukaan membaca itu tumbuh dan terbangun hingga kini.

 

Jadi Provokator
Perihal kesukaan menulis sudah tumbuh sejak bangku SMP. Menulis yang dimaksud tentu saja menulis dalam konteks karya kreatif. Eh, tidak usah diceritakanlah bagaimana proses kesukaan menulis itu muncul. Satu hal yang pasti, kesukaan menulis itu berlangsung sampai kini. Saya menulis karya-karya jurnalistik, menulis esai, feature, puisi, cerpen, novel dan lainnya. Pokoknya menulis fiksi dan non-fiksi.

Tidak hanya sekadar menulis. Saya juga jadi provokator dalam hal dunia menulis ini. Maksudnya, saya juga memprovokasi yang lain untuk menyukai dunia penulisan. Mahasiswa, kaum muda, lansia, atau siapa saja telah saya provokasi.

Kepada mahasiswa di kampus misalnya, saya bilang, “Menulislah. Karena dengan menulis, hidup Anda pasti akan menjadi lebih berarti. Jadi apa pun kelak, jadi politukus, dosen, guru, PNS, pengusaha, wiraswasta, atau bahkan hanya jadi ibu rumah tangga saja bagi yang perempuan, kalau punya kemampuan menulis, Anda pasti punya nilai lebih.”

Simak juga:  Mercusuar Ketawang dan Baron

Provokasi saya tidak sia-sia. Berkat provokasi itu tidak sedikit yang suka menulis dan menjadi penulis. Beberapa di antaranya, membuat atau mewujudkannya dalam bentuk buku.

Di era pandemi Covid-19 misalnya, lebih dari 60 orang yang saya provokasi untuk menulis, dan kemudian menerbitkannya dalam bentuk buku.

Hasilnya, pada tahun 2020 lalu ada dua judul buku yang berbicara tentang virus Corona atau Covid-19 terbit. Masing-masing, berjudul “Gundah Gulana Corona” dan “Covid-19 dan Serangkai Kisah Lainnya”. Di tahun 2021 ini masih ada dua judul lagi, juga tentang Corona, yang siap terbit ( dalam proses akhir di percetakan). Kedua buku yang sedang dalam proses penyelesaian itu masing-masing, “Dakwah Indah di era Pandemi Civid-19” dan “Cahaya Dakwah di era Pandemi Covid-19”. Para penulisnya semua kaum muda, kaum millenial.

Saya juga telah memprovokasi mereka-mereka yang tidak lagi masuk kategori kaum millenial, mereka-mereka yang punya hobi menyanyi lagu-lagu kenangan atau lagu-lagu nostalgia untuk menyukai dunia penulisan dan menulis.
Saya memprovokasi dan menggerakkan mereka (katakanlah, semacam memberikan bimbingan atau membimbing) untuk tidak hanya suka menyanyi, tapi juga suka menulis.
Hasilnya, di tahun 2021 ini terbitlah buku

yang berjudul “Menyanyi itu Indah”. Hampir semua penulisnya adalah mereka-mereka yang sebelumnya sama sekali tidak punya pengalaman dalam menulis.

Apa yang saya lakukan adalah demi kecintaan terhadap dunia baca dan tulis. Bukan karena agar bisa disebut sebagai pegiat atau penggiat literasi. Sama sekali bukan.
Oke. Salam takzim untuk semuanya. *** (Sutirman Eka Ardhana)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x