Sabtu , 17 April 2021
Beranda » Humaniora » Dua Makam Syekh Baribin dan Desa Grenggeng
Papan nama makam Syekh Baribin di Dusun Sikanco Nusawungu Cilacap. (Ken)

Dua Makam Syekh Baribin dan Desa Grenggeng

ADA dua Makam Syekh Baribin (Panembahan Grenggeng) yang memiliki hubungan dengan Desa Grenggeng Kemit, Karanganyar, Kebumen. Satu makam di Bukit Setono Kunci Grenggeng dan satu lagi di Sikanco Nusawungu, Cilacap.
Siapakah Syekh Baribin atau Mbah Grenggeng?
Dikisahkan, bermula dari Raja Majapahit yakni Prabu Brawijaya atau sering disebut dengan Raja Brawijaya IV . Nama Brawijaya berasal dari kata Bhra Wijaya. Gelar Bhra adalah singkatan dari bhatara, yang bermakna “baginda atau Raja” Wijaya, artinya keturunan Raja Wijaya.
Ada beberapa versi tentang raja yang bernama Brawijaya IV. Dalam cerita tutur masyarakat berdasarkan Babad Tanah Jawi memang tidak terlalu jelas tentang Brawijaya, itu nama gelar atau nama seseorang. Biarlah itu menjadi wilayah penelitian para sejarawan untuk menemukan fakta sejarah yang bisa dianggap valid.

 

Anak Brawijaya IV
Raja Brawijaya IV ini dinyatakan memiliki 117 orang anak, salah satunya adalah Syekh Baribin. Syekh Baribin merupakan sebuah gelar seorang ulama, nama asli dari Syeh Baribin ini adalah Raden Joko Panurat yang merupakan anak ke -78.
Syekh Baribin atau Raden Saputra (Raden Putra) dan dikenal juga dengan Harya Baribin adalah putra ke-5 dari Prabu Brawijaya IV (Bra Tanjung) dengan isteri Putri Pajang.

Dikarenakan tidak diperbolehkan adanya tahta kembar (setelah wafatnya Brawijaya IV/ Bra Tanjung), Raden Putra yang merupakan adik dari Raden Alit (Angkawijaya) atau Brawijaya V.
Atas saran Gajah Mada, Raden Putra (Pangeran Kembar) akhirnya meninggalkan kerajaan Majapahit dengan ikhlas. Raden Putra pun pergi ke arah barat untuk menjalani takdir besarnya. Dalam pengembaraannya, sempat singgah untuk bertapa dan tinggal menetap di beberapa tempat di wilayah Kebumen, sebelum menetap di Grenggeng. Salah satu jejak tempat yang disinggahi adalah Desa Tlogowulung, Alian dan juga pertapaannya di Gunung Koembang yang oleh masyarakat setempat kini lebih dikenal dengan nama Gunung Puyuh di Desa Suratrunan, Kecamatan Alian, (Pager atau Wager Geong, Gunung Kenap, Alian). Sampai akhirnya ia pergi ke Pajajaran.

 

Pandita Putra
Syekh Baribin ketika di Pajajaran dikenal dengan nama Pandita Putra. Ia kemudian menikah dengan salah satu cucu Raja Pajajaran dan dianugrahi empat orang anak. Yaitu Raden Kaduhu (Adipati Margautama), Raden Banyak Sasra/Catra (Pasir Luhur), Raden Banyak Kumara (Adipati Kaleng), Rara Ngaisah (Nyai Mranggi Kejawar).
Dari Pajajaran, Raden Putra kemudian kembali ke timur dan menghabiskan masa hidupnya di Gunung Grenggeng yang hingga kini dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Syekh Baribin.

Pada ratusan tahun yang lalu, Syekh Baribin adalah tokoh awal yang mengembangkan agama Islam di sekitar Gombong, Karanganyar dan Sempor, Kebumen, dan juga aktif dalam menyebarkan agama Islam ke daerah-daerah lain. Tidak aneh jika Syekh Baribin ini diakui sangat baik oleh orang-orang disekitarnya.
Wilayah Pajajaran sangat penting dalam perjalanan hidup Raden Baribin. Ketika usia sudah tua, ia kembali mendatangi tempat yang pada masa pelarian menjadi tempat bersejarah dalam hidupnya. Karena di tempat tersebut, ia hampir tertangkap oleh prajurit Majapahit. Sebagai penanda, tempat dimana ia selamat, dan bisa hidup, karena pertolongan ayam hutan, tempat itu diberi nama Desa Ayam Alas, Kroya, Cilacap.

Dan ternyata di wilayah itu pula, menjadi tempat ia meninggal. Karena sang guru meninggal di tempat itu, maka para murid memakamkannya di tempat tersebut. Tempat di mana Raden Baribin dimakamkan kemudian dikenal dengan nama Dusun Sikanco Nusawungu Cilacap.

 

Bukit Sentana
Sementara para murid dari Kebumen sudah mendapat firasat bahwa sang guru telah meninggal di jalan, sebelum bisa pulang ke Kebumen. Mereka mendengar gumaman gurunya yang meminta pada para muridnya untuk membawanya pulang. Pesan berikutnya adalah meminta agar dimakamkan di Bukit Sentana.
Dari gumaman meminta dijemput dan dimakamkan di Kebumen, di perbukitan batu cadas yang sebelumnya bernama Bukit Sentana kemudian menjadi Gunung Grenggeng. Nama Grenggeng berasal dari gumaman yang terus menerus menjadi gumrenggeng. Gumaman dalam bahasa Jawa adalah Grenggeng atau grenggengan.

Murid-murid di Kebumen merasa mendapat wasiat untuk menjemput jasad sang guru dan harus membawa mayat Raden Baribin. Karena kampung halaman terakhir Raden Baribin adalah Kebumen, maka harus dimakamkan di Kebumen. Mereka menganggap murid di Cilacap tidak punya hak memakamkan di tempat itu. Apalagi mereka sudah mendapat wasiat lewat gumaman untuk dimakamkan di Bukit Sentana. Mereka merasa harus menjalankan wasiat terakhir gurunya itu.

Namun, karena Raden Baribin sudah dimakamkan, murid Cilacap merasa tidak perlu melaksanakan wasiat tersebut. Biarlah sang guru tenang dimakamkan di tempat terakhir dia berdakwah. Sebagai tanda akhir perjalanannya sebagai seorang penyebar agama.
Tidak ada perdamaian antar para murid, semua merasa berhak, semua merasa harus menghormati gurunya dengan pemikiran masing-masing.
Akhirnya, jasad yang sudah dimakamkan kemudian dibongkar oleh murid dari Kebumen dan dibawa untuk dimakamkan di Grenggeng.
Ternyata saat dibongkar jenazah Raden Baribin mengeluarkan bau harum. Sampai sekarang, masyarakat sekitar wilayah Gunung Grenggeng menyebut Syekh Baribin dengan sebutan “mayit ganda arum” atau mayat yang jenazahnya berbau harum.

Makam Sikanco
Sementara di Makam Sikanco, pada sebuah pemakaman yang dibangun oleh Pemda Kabupaten Cilacap, makam sang Syekh berada di belakang masjid (mungkin lebih tepatnya sekarang disebut petilasan).
Sebagai makam pertama sebelum jasad Raden Baribin dipindah, temboknya masih dibiarkan terbuka berlubang sampai sekarang. Hal itu sebagai bukti dan penghormatan bahwa jasad guru mereka sudah dibawa pulang oleh murid dari Kebumen.
Semasa hidupnya Syekh Baribin dikenal sebagai orang sakti yang berjuang membela kebenaran dan menentang kejahatan, serta menolong orang yang kesusahan. Syekh Baribin dianggap seperti orang yang sangat suci. Terbukti wilayah makamnya sekarang menjadi kampung yang religius, baik yang di Grenggeng, Kebumen, maupun yang di Sikanco, Cilacap.

Makam Syekh Baribin di Grenggeng Kemit Karanganyar, sekarang ini dijadikan sebagai tempat suci dan tempat wisata religi. Banyak peziarah dan pengunjung yang datang ke makam Syekh Baribin, ada yang sekadar napak tilas sejarah, ada pula yang berziarah dengan tujuan-tujuan tertentu. Salah satunya dengan harapan akan bertemu dengan hewan peliharaan Syeh Baribin (burung perkutut dan burung dara), yang konon jika berhasil menangkapnya, akan diberikan kesempatan untuk terkabulkan keinginan duniawi. Walahualam bisawab.
Di Sentono, sekitar area Makam Syekh Baribin terdapat juga makam lainnya, yaitu makam Raden Adipati Djana dan makam Raden Bedagul atau Nawangsasi. Serta makam pengikut atau murid serta makam Bupati Kadipaten Karanganyar .

Selain diolah dari berbagai sumber, sebagian artikel tulisan ini, seperti yang diceritakan oleh Jurukunci Makam Sentono Kunci di RT 5 RW 6 Desa Gerenggeng, Kemit, Karanganyar, Kebumen, Romelan Atmo Suwito beberapa waktu lalu.
Begitulah kira-kira adanya, dan adanya kira-kira begitu. * (Ken Abimanyu)

 

Ken Abimanyu, lelaki kelahiran Krakal, Kebumen yang bangga dengan sebutan Inlander Krakal ini, seorang pemerhati serta penyuka sejarah dan budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x