Selasa , 28 September 2021
Beranda » Humaniora » Di Masa Pandemi, Simak Ulang Cara ‘Pansos’ ala Gus Dur
Gus Dur [alm] semasa menjadi Presiden RI. (wikipedia)

Di Masa Pandemi, Simak Ulang Cara ‘Pansos’ ala Gus Dur

DI MASA pandemi Covid-19 ini hari-hari kita selalu diisi dengan perbincangan tentang virus yang mengancam kehidupan manusia itu. Seakan tak ada habisnya berbincang tentang keberadaan virus Covid-19, baik itu tentang penyebarannya yang cepat, jumlah mereka yang terpapar, maupun yang meninggal dunia, aktivitas perekonomian, pendidikan, pariwisata yang terhenti, dan banyak hal lainnya. Perbincangan tentang virus Covid-19 seakan telah melupakan banyak perbicangan menarik lainnya.

Saya ingin mengajak untuk sesaat atau sementara melupakan perbincangan tentang pandemi Covid-19. Sesaat melupakan kecemasan dan takut yang berbulan telah menekan kehidupan kita. Ingat ada yang bilang kecemasan dan rasa takut itu bisa melemahkan imun kita. Padahal kekuatan imun itu merupakan salah satu senjata untuk melawan virus Covid-19.

Saya ingin mengajak Anda untuk berbincang untuk hal lain. Berbincang tentang seorang tokoh, dengan harapan itu bisa melupakan kecemasan dan ketakutan tentang Covid-19. Tokoh yang ingin saya perbincangkan dengan Anda itu adalah Gus Dur atau KH Abdurrahman Wahid [alm], yang sempat menjadi Presiden di negeri kita.

Begini, sekali waktu, saat masa-masa akhir era Presiden Habibie, Ryaas Rasyid, mantan Menteri Otonomi Daerah, berbincang ringan dengan Gus Dur. Dalam perbincangan itu, Gus Dur berceletuk kalau ia akan menjadi presiden. Mendengar celetukan Gus Dur, respons Ryaas enteng. Barangkali hanya celetukan humor belaka, pikirnya.

Beberapa waktu kemudian, media mulai mengerek nama Gus Dur sebagai salah satu orang yang memiliki kans besar menggantikan Habibie. Melihat fakta itu, Ryaas kaget. Benar saja, tak lama usai ia berbincang dengan Gus Dur, sidang istimewa DPR/MPR mengetuk palu tanda terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden baru.

 

Sempat Dipandang Tanda Kewalian

Melihat kenyataan itu, Ryaas mengira perkataan Gus Dur tempo lalu itu adalah tanda kewalian. Cerita ini ditampilkan dalam buku Bukti-Bukti Gus Dur Wali (cet I, 2016) yang ditulis Achmad Mukafi Niam dan Syaifullah Amin yang memuat 99 kisah bukti kewalian Gus Dur.

Mistifikasi kewalian Gus Dur macam itu memang sudah lama menjadi konsumsi umum. Padahal, terkhusus kasus di atas, pembacaan Gus Dur mengenai kemungkinan dirinya menjadi Presiden telah lama dilakukan, bahkan jauh sebelum masa kejatuhan Soeharto.

Dalam buku kumpulan esai berjudul Sang Kosmopolit (2020) karya Hairus Salim H.S. ini, banyak dikisahkan celetukan Gus Dur mengenai kemungkinan, bahkan keinginan, dirinya menjadi Presiden. Salah satunya seperti dikisahkan dalam esai berjudul “Tokoh Gagal yang Berhasil”.

Kisahnya begini. Suatu hari dalam sebuah seminar pada 1993 di Yogyakarta, salah satu peserta seminar mengajukan pernyataan nyelekit kepada Gus Dur. Katanya, Gus Dur menjadi pengkritik Presiden karena kecewa tidak kunjung diangkat menjadi menteri. Dengan santainya, Gus Dur menjawab, “Catat, ya. Menteri itu kecil. Pemilu kemarin saya justru diminta Pak Harto untuk jadi wakilnya. Saya menolak, mengapa? Karena saya ingin jadi Presiden.” Hadirin bersorak-sorai menyambut jawaban sarkastik itu.

Lain dengan hadirin, Hairus Salim justru menangkap sinyal keseriusan dari raut Gus Dur. Benar saja, enam tahun kemudian Gus Dur menjadi Presiden.

Bagi Hairus Salim, orang yang sejak remaja telah mengikuti semesta pemikiran Gus Dur, berbagai pembacaan, atau ramalan, yang disodorkan Gus Dur, termasuk keinginan menjadi Presiden, merupakan hasil dari panjangnya perjalanan keilmuan putra KH. A. Wahid Hasyim itu. Artinya, kecakapan Gus Dur dalam membaca segala kemungkinan dihasilkan dari sebuah proses produksi pengetahuan panjang yang dilakukan oleh seorang intelektual biasa, tidak lebih.

Menggelontorkan wacana bahwa Gus Dur adalah wali dengan sekuat tenaga, bagi saya adalah hal yang sia-sia. Apalagi, bukti-bukti kewalian itu dihadirkan dengan kisah-kisah yang mistis dan tak bisa diterima akal sehat.

Mistifikasi kewalian hanya akan membuat generasi pasca Gus Dur merasa jauh dari jeniusnya pemikiran Gus Dur, yang sebenarnya dapat dicapai oleh siapapun tanpa perlu menjadi wali. Dalam bukunya, Hairus berhasil mendekatkan kejeniusan itu dengan kita.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XXIV: Kesimpulan

Hairus berhasil menyajikan sosok Gus Dur yang manusiawi. Makamnya yang kini tak berhenti diziarahi, pemikiran-pemikirannya yang kian hari kian berkembang, dan pengaruhnya yang tak mati dibunuh zaman, merupakan hasil dari getirnya perjalanan Gus Dur dengan banyak pengalaman dan ilmu pengetahuan.

Cerita dari Seorang Pengagum

Saat duduk di bangku sekolah dasar, ketika masih memulai mengenal bacaan, Hairus membaca buku tebal berjudul K.H. A. Wahid Hasjim dan Karangan Tersiar (1957) karya Aboe Bakar Atjeh. Buku itu berisi kisah hidup keluarga Kiai Wahid Hasyim dan Pesantren Tebuireng, Jombang. Di dalamnya, termuat foto keluarga KH. Wahid Hasyim, begitu pula visual Gus Dur kecil. Bagi Hairus, melihat sosok Gus Dur kecil dalam buku itu adalah perkenalan awalnya dengan Gus Dur.

Menginjak SLTP, Hairus banyak melahap esai-esai Gus Dur di majalah Tempo yang kerap dibeli ayahnya. Tanpa mengetahui siapa sebenarnya sosok Abdurrahman Wahid, Hairus tetap saja melahap esai-esai itu tanpa memerhatikan siapa yang menulis. Nama Abdurrahman Wahid pun hanya sayup-sayup diingatnya. Setelah lama waktu, baru ia mengenal latar belakang sang penulis esai. Ialah seorang kiai, tokoh NU, yang tentu saja lekat dengan Islam. Identitas Gus Dur itulah yang membuatnya mulai jatuh cinta.

Esai-esai Gus Dur yang generalistik, membahas banyak tema, dan tidak terbatas pada soal-soal keislaman, membuat Gus Dur menarik perhatiannya.

Menginjak masa kuliah dan setelahnya, barulah Hairus dapat bertatap muka dengan sang idola. Terutama saat ia mulai mendirikan Yayasan Lembaga Kajian Islam (YLKIS) pada 1992, Gus Dur sering berkunjung ke lembaga yang bermarkas di Yogyakarta itu. Mulailah ia mendakwa diri sebagai murid sekaligus pengikut setia Gus Dur.

Dimulailah ragam pengalaman dan kisah-kisah Hairus bersama Gus Dur. Kisah-kisah itu kini termuat dalam buku terbitan EA Books ini. Maka, pada pengantar buku, dengan gagah berani dan tanpa gengsi Hairus menyebutkan bahwa semua esai yang ia tulis merupakan impresi dan sudut pandang dari “seorang pengagum”.

“Oleh sebab itu,” tulisnya, “isi dan nadanya kebanyakan lebih bersifat pujian atau setidaknya tanpa pretensi kritik. Meski demikian, saya tetap berusaha bersikap proporsional agar tak menjadi isapan jempol,” demikian Hairus (hlm. ix).

 

Kosmopolitanisme dan Islam

Dalam sebuah paper berjudul “Making a World of Difference? Habermas, Cosmopolitanism and the Constitutionalization of International Law”, Neil Walker mendefinisikan wacana kosmopolitanisme sebagai sebuah perspektif yang menginginkan suatu tujuan yang didasarkan pada aspek kemanusiaan.

Neil menaruh subjek wacana kosmopolitanisme ini pada format single moral community, di mana setiap anggota dalam suatu komunitas, memiliki kewajiban dalam mewujudkan nilai-nilai yang menjadi tujuan bersama (EUI Working Paper LAW No. 2005/17, hlm. 14).

Proses mencapai tujuan bersama ini, dalam perspektif kosmopolitanisme, sama sekali lepas dan telanjang dari sekat-sekat identitas yang membatasi manusia. Ditambahkan oleh Neil, sekat-sekat itu adalah konsep common nationality, religious, dan ethnicity yang menurutnya cenderung mengikat dan memiliki kewajiban-kewajiban.

Jauh sebelum Neil, Immanuel Kant telah membukukan wacana kosmopolitanisme ini dalam To Perpetual Peace: A Philosophical Sketch (1759), tulisan yang pasti populer di kalangan akademisi HI. Mengacu kepada situasi zaman yang saat itu sedang berada dalam kecamuk perang antar-negara yang bersifat takluk-menaklukkan, Kant menawarkan hak kosmopolitan sebagai salah satu cara menuju perdamaian dunia.

Dengan menjunjung tinggi persamaan tanpa batas,  wacana kosmopolitanisme yang mesti menelanjangi identitas individual itu justru menemui kecacatan. Kecacatan itu menurut Hairus dalam esai “Menjadi Seorang Kosmopolit” akan membuat seorang beragama kesulitan menjadi kosmopolit. Padahal, agama adalah ibu kandung di mana perspektif kemanusiaan tanpa batas–titik pijak wacana kosmopolitanisme–dibuahi dan lahir.

Simak juga:  Berkarya dan Berkebun di Masa Pandemi

Kecacatan perspektif kosmopolitanisme klasik yang menafikan kehadiran agama sebagai produsen wacana kemanusiaan itu dijawab tuntas oleh Gus Dur dalam tulisan Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam (1988). Seperti dikutip oleh Hairus, dalam tulisan tersebut Gus Dur mengkonseptualisasikan ajaran-ajaran universalisme Islam ke dalam lima buah jaminan dasar yang diberikan kepada masyarakat, baik perorangan maupun kelompok.

Kelima jaminan dasar itu antara lain: (1) Keselamatan fisik warga masyarakat dari tindakan badani di luar ketentuan hukum; (2) Keselamatan keyakinan agama masing-masing tanpa ada paksaan untuk berpindah agama; (3) Keselamatan keluarga dan keturunan; (4) Keselamatan harta benda dan milik pribadi di luar prosedur hukum; dan (5) Keselamatan profesi.

Lima dasar jaminan itulah yang tanpa henti diperjuangkan oleh Gus Dur, baik saat sebelum menjadi presiden, ketika menjadi presiden, hingga setelah dimakzulkan MPR. Maka, sebagaimana kita ketahui hari ini, Gus Dur menjadi salah satu tokoh pluralisme Indonesia paling berpengaruh abad 21.

Kita dapat melihat, semasa menjabat presiden, Gus Dur mengeluarkan beragam kebijakan yang berdasarkan pada perjuangan lima dasar jaminan keselamatan masyarakat tadi. Seperti meresmikan Konfusianisme sebagai agama resmi, memperjuangkan hak-hak etnis Tionghoa, menjadikan Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional, dan berbagai upaya lain yang menghendaki kesetaraan umat manusia dan anti-diskriminasi.

Upaya untuk menghapus UU PNPS No. 1 Tahun 1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama yang menjadi basis diskriminasi terhadap minoritas juga sempat dilakukan Gus Dur. Bahkan, ia juga pernah berupaya mencabut larangan terhadap wacana Marxisme, Leninisme, dan Komunisme yang menjadi basis diskriminasi kepada mantan anggota PKI beserta keturunan-keturunannya.

Namun, sebagaimana kita tahu hari ini, upaya-upaya itu gagal dilakukan dan justru menjadi bagian dari alasan pemakzulannya sebagai presiden.

Berkat perspektif kosmopolitanisme itulah, Gus Dur dicintai banyak kalangan. Semua orang, tanpa pandang suku, ras, agama, gender, dan semua golongan-golongan masyarakat, begitu mencintai Gus Dur. Maka, tak aneh bila hingga kini, makam cucu Hadlratusyaikh Hasyim Asy’ari itu tak pernah sepi peziarah.

Dalam esai berjudul “Pertemuan dengan Guru Sakumpul”, Hairus menceritakan bahwa K.H. Maimun Zubair dari Sarang pernah menyatakan kecemburuannya terhadap Gus Dur. Kepada Gus Mus, Kiai Maimun mengatakan, “Apa gerangan amalan rutin Gus Dur sehingga pemakamannya dihadiri ratusan ribu orang dan makamnya tak pernah sepi dari penziarah?” (hlm. 54).

Merujuk pada panjangnya pembahasan di atas, kita tahu bahwa jawaban atas pertanyaan Kiai Maimun adalah: bukan amalan-amalan ilahiah yang lepas dari upaya-upaya nyata perjuangan kesetaraan manusia yang membuat makam Gus Dur ramai penziarah, melainkan karena Gus Dur adalah seorang kosmopolit sejati.

Tampak cerah, kita dapat katakan, kewalian itu datang dari gagasan kosmopolitanisme Islam ala Gus Dur. Untuk itulah, masyarakat penyuka ‘panjat sosial’ (pansos) di era kejayaan media sosial, harusnya pandai meneladani cara Gus Dur untuk dikenal banyak orang, alih-alih ingin terkenal dengan menaiki kendaraan busuk bernama kontroversi. Jika berhasil, niscaya tak hanya dikenal, pansos ala Gus Dur akan membuat kita juga dikenang.

Nah, perbincangan tentang Gus Dur ini setidaknya bisa meredakan kegelisahan, kecemasan dan ketakutan kita terhadap ancaman virus Covid-19. Setidaknya pula bisa meningkatkan imun tubuh kita sehingga mampu atau kuat melawan virus Covid-19. Dan, yang pasti kita berdoa serta berharap virus Covid-19 segera berlalu dari negeri tercinta ini.  *** [Fahri Hilmi]

 

         * Fahri Hilmi,  Pria asal Kalijati, Subang, Jawa Barat yang lahir pada 8 Maret 1996 ini sudah hobi menulis sejak usia belasan tahun. Ia kini merupakan mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam [KPI] Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Saat ini ia aktif menghidupi akun buatannya, pikiranlelaki yang getol mengkampanyekan isu kesetaraan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *