Sabtu , 16 Oktober 2021
Beranda » Humaniora » Dampak Pandemi Terhadap Kegiatan Belajar di MDA
Kegiatan belajar mengajar di MDA Muhammadiyah Padangmatinggi. (Ist)

Dampak Pandemi Terhadap Kegiatan Belajar di MDA

DENTING  bel sekolah menggema, tepat pada pukul tujuh pagi, waktunya kegiatan belajar mengajar akan dimulai. Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) Muhammadiyah Padangmatinggi adalah sebuah sekolah semi formal yang dinaungi oleh organisasi Muhammadiyah ranting Padangmatinggi, Sumatera Utara. Di sekolah ini juga saya pernah menimba ilmu selama empat tahun lamanya.

Sistem belajar di sekolah ini kurang lebih sama seperti Sekolah Dasar (SD), namun lamanya Pendidikan hanya ditempuh dalam waktu empat tahun, sementara Sekolah Dasar pada umumnya membutuhkan waktu enam tahun.

Materi yang diberikan oleh MDA kepada para siswanya memang sangat spesifik, seputar pelajaran agama saja. Tidak ada pengetahuan umum atau pelajaran sosial, apalagi pelajaran sains seperti sekolah pada umumnya. Sehingga kebanyakan murid yang akan menempuh pendidikan di MDA setidaknya harus menguasai baca tulis. Pelajaran dasar di sekolah ini bukan lagi perihal membaca atau menulis, bukan murid buta huruf lagi yang akan dididik. Melainkan latihan awal membaca Al-Qur’an merupakan basis awal pelajaran di sekolah ini. Hingga biasanya peserta didik yang akan menempuh pendidikan berasal dari kelas dua sekolah dasar.

Duabelas tahun silam saya juga menempuh pendidikan di madrasah ini, dan ilmu keagamaan saya dibekali dari sekolah berbasis agama tersebut. Tepat pada tahun 2008, saat itu usia saya masih delapan tahun dan duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Suatu takdir atau memang sudah terencana, saya angkatan pertama di madrasah yang letaknya persis bersebelahan dengan tempat tinggal saya. Sehingga jarak bukan masalah berarti buat saya.

Berhubung perintisan madrasah dimulai pertama kali dengan peserta didik yang sedikit dan hanya kumpulan beberapa anak teman bermain saya di dekat rumah, jadi jumlah kelas saat itu hanya satu ruangan. Kisaran anak-anak pertama yang menempuh pendidikan di madrasah ini berasal dari kelas tiga hingga kelas enam sekolah dasar yang formal. Madrasah Diniyah Awaliyah pada waktu itu memang belum populer di daerah saya, bahkan secara nasional. Karena anak-anak kecil yang hendak belajar Al-Qur’an dan agama biasanya lebih mengenal Taman Pendidikan Al-Quran (TPA).

Kilas balik pada masa itu, tepat pukul dua siang setelah saya pulang dari sekolah dasar, saya akan melanjutkan kegiatan belajar di madrasah sampai pukul lima sore. Jam belajar di madrasah sebenarnya terbagi menjadi dua bagian, pada jam pagi dan jam siang. Jam pagi dimulai tepat  pukul tujuh dan berakhir pada pukul sepuluh siang, sementara jam sore persis seperti yang saya lakoni pada saat itu. Sejak madrasah ini berdiri tidak ada perubahan dalam jam belajar, masih sama dengan perjalanan beberapa waktu silam.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XX: Dialog

 

Serba Mandiri

Waktu terus berjalan, detik demi detik, menit demi menit dan sudah hampir duabelas tahun madrasah ini berdiri. Sekolah kecil dengan fasilitas sederhana tersebut masih mampu berjuang bersamaan dengan segala keterbatasannya. Tanpa ada dana bantuan dari pemerintah, semua serba mandiri di bawah naungan sebuah organisasi. Jumlah biaya yang dibayarkan oleh siswanya tergolong sangat kecil namun bukan berarti hal tersebut menjadi kendala. Sebab organisasi Muhammadiyah siap sedia membantu segala kekurangan dan kebutuhan madrasah.

Pada tahun-tahun selanjutnya madrasah dibangun lagi menjadi dua lantai. Tak dapat dipungkiri pembangunan ini berkat usaha keras pengajar yang terus membangun eksistensi sekolah tersebut. Mereka tak henti membantu anak-anak untuk belajar agama dan Al-Quran. Penambahan kelas tentu saja harus dilakukan, jumlah siswa yang ada tak cukup dijadikan dalam satu kelas. Banyak siswa di madrasah ini memang tak sebanding dengan jumlah siswa di sekolah umum, namun terus bertambahnya siswa merupakan sebuah prestasi dan kemajuan yang menandakan perkembangan sekolah kecil ini.

 

“Jumlah siswa sekarang totalnya sudah mencapai 80 anak. Karena sedang pandemi yang hadir hanya sekitar setengahnya 60 anak,” tutur Rizal (37), Kepala Madrasah.             Sedangkan pengajar hanya ada tiga orang yaitu, Muhammad Rizal Lubis [37], Mei Purnama Nasution [32], dan Ali Kosman Simatupang [35]. Pengajar pada waktu saya belajar di madrasah memang sudah berganti semua. Sudah tak saya jumpai lagi guru yang dulu pernah mendidik saya.

Rizal menuturkan sebagai kepala sekolah baru di tahun 2014 dia tidak terlalu kesulitan dalam menghadapi siswanya, hanya saja yang menjadi kendala baginya ialah ketika ada siswa yang adu pukul dan menyebabkan luka, membuatnya terpaksa memanggil orang tua siswa dan itu membuat dirinya cukup malu.

“Kendala mengajar sebenarnya tidak ada.  Namanya masih anak-anak ya wajar saja nakal, tapi yang paling membuat saya malu kalau mereka berkelahi terus ada yang luka terpaksa harus panggil orang tua,” ucap Rizal.

Setelah berbincang dengan beberapa siswa, saya penasaran dan menyakan kepada mereka lebih suka belajar di madrasah atau Sekolah Dasar (SD).

Seorang siswa, Mikayl Haksan menjawab,  “Sama saja, suka dua-duanya.”

Simak juga:  Dakwah Virtual Menjadi Pilihan di Masa Pandemi

Begitu juga jawaban Putri Sakinah Pohan, “Sama saja, tidak ada beda.”

Mikayl dan Sakinah juga menuturkan bahwa belajar di MDA sama sekali tidak sulit dan mereka mampu dengan mudah belajar agama dan Al-Quran.

Memasuki masa pandemi yang menyebabkan setiap aspek menjadi serba krisis, termasuk bidang pendidikan. Tidak boleh melakukan kegiatan belajar secara tatap muka langsung dan harus melalui media online,  jelas saja sangat sulit bagi pengajar  yang masih merintis berkembangnya madrasah. Pengajar yang tak handal dalam berteknologi menjadi salah satu faktor tidak ada kegiatan belajar secara online. Sehingga kegiatan belajar dihentikan secara total selama masa pandemi.

Namun setelah memasuki era New Normal, Rizal mengatakan mereka sudah mulai aktif lagi dalam kegitan belajar mengajar, hanya saja yang berbeda jam belajar dipindah ke jam pagi semuanya, tidak ada lagi jam sore. Siswa yang hadirpun sangat berkurang bahkan mencapai setengahnya dari jumlah keseluruhan. Terang saja, pelaksanaan kegiatan belajar sebenarnya belum mendapat izin dari  Pemerintah, bisa dikatakan tidak resmi. Namun protokol kesehatan terus diupayakan agar dipatuhi oleh anak-anak.

Menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan merupakan upaya Rizal untuk mencegah penyebaran Covid-19 di madrasah. Walaupun sulit untuk membuat anak-anak konsisten dalam menerapkannya namun Rizal berusaha untuk terus mengingatkan mereka. Para siswa juga mengaku lebih mudah belajar sebelum hadirnya pandemi.

“Belajar sebelum Corona lebih mudah dan banyak teman,” ujar Sakinah.

Di tengah peliknya pergumulan mengenaipandemi, sekolah kecil yang hanya bermodalkan asa masih mencoba memberikan upaya demi kelangsungan Pendidikan Al-Quran dan ilmu agama untuk peserta didiknya.  *** [NisaAfifah]

 

*Nisa Afifah, lahir di Sumatera Utara, tepatnya pada tanggal 20 September 2000. Anak kedua dari dua bersaudara ini sejak kecil punya hobi menonton apa pun dari siaran televisi sampai film-film Hollywood. Ia penyuka semua genre film, baik horor, komedi, drama,scific dan lainnya, Terkhusus genre thriller yang sering membuatnya berfikir untuk memecahkan teka tekinya, dan sudah pasti sajian endingnya sangat indah. Selain itu juga suka membaca novel dan buku-buku yang menarik lainnya. Mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga ini juga sempat punya kesibukan mengajar di salah satu Bimbingan Belajar, selain mengajar di TPA. Ia juga tergabung di radio komunitas kampus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *