Senin , 29 November 2021
Beranda » Humaniora » Dakwah Virtual Menjadi Pilihan di Masa Pandemi
Salah satu aktivitas dakwah virtual. (republika.co.id)

Dakwah Virtual Menjadi Pilihan di Masa Pandemi

BANGSA Indonesia pada saat ini masih menghadapi masa New Normal Pandemi Covid-19. Di awal pandemi muncul, penanggulangan di Indonesia masih kurang cepat dibandingkan dengan negara-negara maju. Masyarakat Indonesia sendiri sangat menyukai berkumpul dalam satu tempat, sehingga Pemerintah lebih kesulitan untuk membuat masyarakat patuh pada anjuran “tidak berkerumun”.

Selain itu, Indonesia sendiri merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Dalam Islam terdapat kegiatan yang biasanya disebut dengan dakwah. Dakwah merupakan kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan aqidah, syariat dan akhlak Islam. Dakwah sendiri biasanya dilakukan oleh para dai atau ustad dan ustadzah dan metode dakwah pada setiap ustad dam ustdzah tentunya berbeda. Salah satu metode dakwah adalah pengajian dan tabligh akbar.

Menurut Habib Idrus, seorang dai atau pendakwah, dakwah sendiri memiliki enam metode yakni: (1) dakwah fardiyah yakni dakwah seseorang kepada orang lain dalam jumlah yang sedikit; (2) dakwah  ammah yaitu dakwah yang dilakukan seseorang dengan lisan yang ditujukan kepada banyak orang yang dimaksudkan untuk menanamkan pengaruh; (3) dakwah bil lisan yaitu penyampaian dakwah secara lisan melalui ceramah dan komunikasi langsung dengan objek dakwah; (4) dakwah bil hal yakni dakwah melalui perbuatan, dakwah ini sebagaimana dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan para sahabat; (5) dakwah bil tadwin yakni melalui tulisan baik itu buku, koran, atau tulisan yang mengandung pesan dakwah; (6) dakwah bil hikmah yakni dakwah dengan cara arif dan bijaksana, sehingga membuat objek dakwah teratrik dengan materi dakwah tanpa ada tekanan dan konflik.

Semenjak dunia dilanda pandemi Covid-19 beberapa bulan terakhir ini, banyak terjadi perubahan sehingga berdampak pada aktivitas dakwah. Dakwah seperti tablig akbar, seminar  dakwah, pengajian sudah dilarang padahal pandangan orang lain terhadap dakwah itu adalah tabligh akbar.  Dan karena pandemi ini, tabligh akbar tidak dapat dilakukan sebagai bagian dari pencegahan penyebaran virus corona.Pengajian dan tabligh akbar biasanya diikuti oleh berbagai umat muslin Indonesia dari berbagai daerah, apalagi jika ustad dan ustdzahnya yang terkenal menjadi narasumber tabligh akbar maka akan semakin banyak jamaah (sebutan umat Islam yang mengikuti ibadah) yang ikut serta. Realitasnya, dakwah tid k hanya dapat dilakukan di mesjid dalam bentuk pengajian saja atau majelis maupun komunitas secara tradisional atau tatap muka. Dakwah bisa dilakukan dimana pun. Namun, lagi-lagi karena Indonesia sedang dalam masa pandemi Covid-19, berbagai kegiatan yang mengharuskan mendatangkan masyarakat banyak atau membentuk kerumunan telah dilarang untuk dilakukan.

Simak juga:  Podcast, Pilihan Jitu Sebagai Dakwah Kreatif di Tengah Pandemi

Hadirnya Covid-19  mengharuskan pendakwah memiliki inovasi baru untuk mengadakan pengajian maupun tabligh akbar, yang ketika masa pandemi ini dilarang melakukan kegiatan tersebut. Maka Covid-19 mendorong urgensi pendakwah untuk segera mengambil langkah melakukan kegiatan dakwah secara virtual atau digital. Dakwah secara virtual ini tidak membutuhkan beberapa hal yang biasanya pada dibutuhkan dalam melakukan dakwah tabligh akbar. Beberapa hal tersebut seperti konsumsi, aula atau lapangan dan biaya tak terduga lainnya.

Dalam dakwah secara virtual, individu hanya membutuhkan akses internet serta kemauan untuk mengikuti kajian atau pengajian. Pada masa pandemi ini platform teratas sebagai media dakwah terbaik yaitu media sosial seperti facebook, instagram dan twitter. Selain itu, dakwah juga dapat dilakukan melalui zoom meeting, google meeting, dan platform lainnya yang dapat disaksikan oleh banyak orang.

Maka dari itu, pada masa ini seorang ustad atau ustadzah atau biasanya disebut dengan dai harus dibekali pengetahuan dan keterampilan mengenai penguasaan teknologi informasi masa kini. Karena, sangat disayangkan jika seseorang memiliki ilmu agama yang cukup tetapi tidak dapat menyampaikannya kepada masyarakat karena terhambat oleh pandemi covid-19 ini.  Namun, perlu diketahui bahwa akses internet di Indonesia masih belum merata, sehingga seorang pendakwah juga harus lebih cerdas memahami metode apa yang harus digunakan. Meski begitu, tetap saja para dai atau ustad dan ustadzah harus memahami tentang teknologi informasi. Misalnya, mereka mengikuti pelatihan untuk membuat film-film pendek yang bersifat dakwah, karena hal ini sepertinya akan menarik kalangan milenial.

Simak juga:  Derap Kebangsaan XXV: Tenggelamnya Media Arus Utama

Berdasarkan pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap orang yang memiliki ilmu dapat menjadi pendakwah. Namun, akan lebih baik jika seseoorang tersebut telah memiliki pengetahuan yang luas sehingga tidak menyampaikan hal-hal yang tidak diingkan ketika mereka berdakwah. Kemudian, pada masa pandemi seperti ini sudah seharusnya pendakwah atau ustadz dan ustadzah lebih kreatif dalam melakukan metode dakwah serta memahami platform yang baik untuk digunakan pada setiap masyarakat. Tujuan dakwah sendiri adalah untuk menciptakan masyarakat, khususnya Indonesia lebih indah, damai dan tidak saling memusuhi.

Salah satu ciri keberhasilan berdakwah adalah dapat menciptakan generasi bangsa yang baik, yang dapat mengamalkan ajaran Islam dengan baik serta mewujudkan pribadi muslim yang saling tolong menolong dalam kebersamaan, serta memiliki rasa toleransi yang tinggi. *** [Ahmad Rifqil Ilmi]

 

         * Ahmad Rifqil Ilmi, lahir dan besar di Kota Sumenep Madura. Sedang sibuk kuliah di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia mengaku sibuk rebahan meski kadang-kadang juga suka baca buku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *