Beranda » Humaniora » Dakwah Seru di Masa Pandemi
Poster Utama Ta’aruf Rasa Pacaran. (net)

Dakwah Seru di Masa Pandemi

COVID-19 yang mulai mendera pada bulan Maret 2020, telah membuat pengaruh besar terhadap kebiasaan warga Indonesia. Salah satu contoh perubahan yang paling signifikan adalah mengurangi aktifitas di luar ruangan, yang berdampak pada sektor perekonomian yang terganggu. Pemberlakuan PSBB yang membuat beberapa karyawan di PHK, karyawan bekerja dirumah (WFH), sampai beberapa pabrik harus ditutup. Hal ini membuat pemerintah harus turun tangan menyediakan anggaran dalam rangka menompang sektor yang terdampak.

Perubahan yang terjadi secara tiba-tiba membuat kita harus terus beradaptasi dengan kebiasaan baru.Dakwah harus tetap berjalan, baik dalam keadaan pandemi ataupun normal. Pada masa pandemi, para penceramah/da’i harus semakin kreatif dalam berdakwah. Dengan adanya teknologi yang canggih, kita bisa memanfaatkan media-media yang ada untuk berdakwah. Zaman dahulu, ketika berdakwah yang biasa dilakukan adalah para da’i naik ke atas mimbar dan berceramah. Semakin hari zaman berkembang dan membuat teknologi semakin canggih. Teknologi yang canggih membuat kegiatan dakwah saat ini bisa dilakukan secara online.

Dakwah online atau dakwah virtual adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan saat pandemi, terutama dalam rangka mencegah penyebaran virus Covid-19. Dakwah virtual dilakukan secara online, dan lebih mudah karena tidak membutuhkan sejumlah konsumsi ataupun biaya. Dalam kegiatan dakwah virtual, kita hanya butuh kuota internet dan kemauan. Dakwah ini bisa dilakukan di platform online seperti youtube, media sosial (Instagram, Facebook, dan Twitter). Hal ini lebih menghemat waktu dan tenaga, karena bisa dilakukan di rumah masing-masing tanpa harus keluar.

Seorang da’i saat ini harus terus bisa kreatif dan mengerti keterampilantentang  teknologi informasi. Karena sangat disayangkan jika dakwah harus berhenti hanya karena perubahan yang terjadi di masa pandemi Covid-19. Para da’i harus mengerti bagaimana mengembangkan kegiatan dakwah di masa pandemi, seperti materi dakwah yang bisa dijadikan konten film pendek islami yang nantinya bisa ditampilkan di youtube atau media sosial.

Simak juga:  Dua Makam Syekh Baribin dan Desa Grenggeng

Dengan berdakwah secara online, membuat cakupan dakwah menjadi lebih luas karena bisa menjangkau lebih banyak orang di seluruh wilayah Indonesia. Youtube menjadi platform yang sering dimanfaatkan untuk tujuan berdakwah. Bahkan ada beberapa ustadz yang menggunakan youtube untuk berdakwah. Di antaranya Aa Gym, yang mempunyai 626 ribu subscriber dengan 2,4 ribu video. Kemudian, Ustadz Adi Hidayat yang mempunyai 369 ribu subscriber. Selanjutnya Ustadz yang sangat aktif di media sosial, yaitu Ustadz Hanan Attaki mempunyai 1,69 juta subscriber. Dan terakhir, Ustadz Abdul Somad yang sudah mempunyai 1,49 juta subsciber. Hal ini membuktikan bahwa para da’i juga sering menggunakan media dalam berdakwah. Video-video yang dishare di channel nyapun mendapatkan banyak penonton.

 

 

Film Pendek Islami

Selain video ceramah, ada banyak channel youtube yang membuat konten film pendek Islami.Seperti channel Film Maker Muslim, Teladan Cinema, dan Hijab Alila. Ketiga channel youtube ini mempunyai film-film pendek Islami inspiratif yang banyak ditonton. Ketiga channel ini menyuguhkan cerita film pendek yang menarik, bisa dilihat dari berbagai judul seperti Ta’aruf Rasa Pacaran, Cinta Harus Dibayar Lunas, Dari Hati ke Haji (FMM), Different World (Hijab Alila), BTS The Series (Hijab Alila), Namamu dalam Bait doaku (Teladan Cinema).

Chanel youtube di atas menampilkan beberapa film pendek yang seru untuk diikuti. Karena menyampaikan materi dakwah secara ringan yang disuguhkan melalui film. Jadi dakwah yang disampaikan tidak terkesan seperti menggurui. Salah satu contoh dakwah melalui film yang dibuat oleh channel youtube Film Maker Muslim dengan judul Ta’aruf Rasa Pacaran.

Film Pendek ini bercerita tentang proses ta’aruf yang dilakukan Dinar dan Dimas. Berawal dari Dinar yang kehilangan pacar setelah diputuskan di halaman rumahnya.  Lalu Dinar merasa kecewa karena di umur nya yang telah menginjak usia 25 tahun, dia belum juga menikah. Kemudian sahabatnya, Airin, memberikan solusi untuk melakukan ta’aruf. Akhirnya bertemulah Dinar dan Dimas, mereka merasa cocok satu sama lain. Akan tetapi proses ta’aruf yang dilakukan Dinar dan Dimas malah berujung seperti mereka sedang berpacaran. Akhirnya mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan ta’aruf. Pada saat itu, sahabat laki-laki Dinar yang bernama Yoga juga memendam perasaannya pada Dinar, ia ingin mengungkapkan perasaannya pada Dinar, tetapi Dinar sudah jatuh hati pada Dimas.

Simak juga:  Kassian Cephas Orang Yogya, Fotografer Pribumi Pertama

Secara garis besar film ini mengajak kita untuk tidak melakukan pacaran, karena dalam Islam pacaran merupakan perbuatan yang mendekati zina. Film ini memberikan solusi bahwa ketika perempuan dan laki-laki berkomitmen untuk menikah maka lakukanlah ta’aruf. Film ini sudah ditonton sebanyak 170 ribu orang  lebih di channel youtube FMM. Hal ini memberi harapan bahwa film-film bertema dakwah bisa diterima di Indonesia, tidak hanya film yang bergenre horror, percintaan remaja dan komedi. Hal ini bisa dijadikan modal besar bagi para sineas dakwah dalam mentransformasikan nilai keislaman pada media ini. Apalagi di masa pandemi ini banyak dari kita yang membutuhkan hiburan di rumah, maka berdakwah dalam bentuk film bisa dijadikan solusi.  *** [Aida Nurmajdina]

 

* Aida Nurmajdina, lahir di Kuningan, Jawa Barat, 4 April 1999. Kini menuntut ilmu di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam [KPI] Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Motto hidup: Setiap hari adalah hari yang baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x