Minggu , 7 Maret 2021
Beranda » Humaniora » Kisah Inspiratif: Dakwah Penjual Kerupuk Tenggiri
Pak Hari sedang bersiap menjajakan kerupuk tenggiri. (Nadia)

Kisah Inspiratif: Dakwah Penjual Kerupuk Tenggiri

SAAT ini dunia masih merasakan duka yang diakibatkan pandemi Covid-19. Ada banyak orang yang kehilangan pekerjaan maupun profesi yang biasa digelutinya sehari-hari. Walaupun demikian, hal ini tidak lantas menghalau semangat mereka untuk kembali bangkit dan berjuang demi menghidupi keluarganya. Meski tidak mudah, dengan kesabaran yang dimiliki akhirnya berhasil untuk mendorong tekad mereka mencari nafkah. Seperti satu kisah inspiratif  berikut yang bisa kita teladani dari seorang pria berusia lanjut yang masih mencari nafkah di tengah kondisi pandemi dan berniat mendedikasikan sisa usianya untuk berdakwah.

Namanya Hari Pudjo Wibowo, atau yang kerap disapa Pak Hari ini merupakan pria lanjut berusia 64 tahun yang bekerja sebagai penjual kerupuk tenggiri. Masa pandemi Covid-19 tak menyurutkan langkahnya dalam menjual kerupuk. Setiap harinya ia menjual kerupuk hasil produksi milik 250 Muslimah, Muncar, Banyuwangi. Berangkat dari rumahnya di daerah Sambilegi Lor RW 35, Maguwoharjo, Sleman, ia mengayuh sepedanya berkeliling Yogya untuk menjual kerupuk dari pukul delapan pagi hingga lima sore. Meski belum genap setahun berjualan, pendapatan yang diperoleh selalu ia syukuri karena masih bisa untuk mencukupi kebutuhandirinya dan keluarganya sehari-hari.

Di usia mudanya, pria kelahiran Surabaya ini ternyata pernah bekerja di dua perusahaan besar yang bergerak di bidang pesawat, yaitu Garuda Indonesia dan Gapura Angkasa. Ia tergolong sukses dalam pekerjaannya di masa itu, karena berhasil memimpin 10-12 departemen di dalamnya. Selepas pensiun pada usia 56 tahun, ia memulai kehidupan barunya setelah bercerai dengan istri pertamanya, dan kini telah dikaruniai seorang putra berusia delapan tahun.

 

Karena Seorang Teman

Meskipun telah memasuki usia lanjut, ia tidak pernah malu untuk berjualan kerupuk tenggiri. Saat ditanya apa alasan mendasar yang akhirnya menggerakkan hatinya untuk mau berjualan, jawabnya karena salah satu temannya. Ia bercerita bahwa perekonomian temannya tersebut kala itu tidak sedang dalam kondisi yang baik, dan akhirnya orang tuanya berpesan untuk meneruskan usahanya menjual kerupuk. Namun, hati temannya belum memiliki keinginan untuk dapat melaksanakan pesan orang tuanya yang sudah tiada. Dari cerita temannya, ia langsung teringat pesan orang tuanya yang juga diakui sering ia langgar semasa mereka masih hidup. Ia memutuskan untuk menawarkan diri dan bersedia membantu menjual kerupuk tenggiri milik usaha dari temannya ini.

            “Ya sudah, sekarang jualan kerupuk saja,” katanya.

            “Lalu yang jualan siapa?” tanya temannya.

            “Yang jualan saya,” jawabnya dengan lugas.

            “Lha kamu nggak ada motor,” kata temannya lagi.

            “Ya nggak masalah, saya punya sepeda,” pungkasnya.

Ia pun mengatakan bahwa ia tidak pernah memiliki pemikiran yang muluk dengan harus mempunyai fasilitas bagus seperti sepeda motor dan baju yang dikenakan untuk menjual kerupuk. Ketidakpercayaan diri saat ia menjual kerupuk tenggiri juga dirasakan oleh istrinya yang menilai bahwa dengan berjualan kerupuk dan berkeliling mengayuh sepeda merupakan pekerjaan yang memalukan. Namun ia justru membalas dengan kalimat pengingat yang baik.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVII: Budi Politik

            “Jangan seperti itu, nggak ada, Rasulullah sendiri juga berdagang, kok.”

Ia menyadari bahwa semasa mudanya ia terlalu fokus dalam mengejar dunia dan masih jauh untuk bisa mengenal akhirat.

 “Ya mungkin saya kurang, karena saya sibuk setiap hari dan yang dipikirkan mungkin dunia saja. Di otak ini bagaimana dapat duit banyak. Tapi itu yang salah, kalo saya bilang, kurang berkah. Atau memang strateginya Allah, Allah ingin menghukum saya. Nggak papa, saya terima.”

Namun, hal itu berubah ketika pasca perceraiannya dengan istri pertamanya, yang berlangsung sekitar 12 tahun lalu. Ia pun mulai menyadari bahwa pentingnya untuk selalu mengingat Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa, satu-satunya zat tempat bergantung dan memohon serta kembali ke jalan yang diridai-Nya.

 “Qul huwallahu ahad, Allahus shamad. Tuhan itu satu, saya yakin. Nggak mungkin Tuhan itu lebih dari satu. Jadi saya yakini itu, lalu saya lebih introspeksi kesalahan-kesalahan saya.”

 

 

Sempat Umrah Backpacker

Ia mengakui bahwa ketika masa mudanya dulu sering mengalami stres karena urusan duniawi. Sempat ia melaksanakan umrah, dan menjadikannya sebagai pengobat hati di kala peliknya persoalan hidup yang ia hadapi.

“Saya backpacker, ke Mekkah dan Madinah. Saya tidak tidur di hotel, saya tidur di Masjidil Haram. Saya pernah stres berat dan saya larinya ke umrah. Itu umrah kedua kalinya.”

Tidak lupa ia pun selalu mensyukuri kehidupan yang dijalaninya saat ini, disamping telah dipertemukan dengan seorang istri yang pandai membaca Alquran. Namun, ia menyadari bahwa meskipun istrinya pandai membaca Alquran, akan tetapi terkadang belum bisa memaknainya dengan baik dan benar. Maka dari itu, ia bertekad untuk mengajak keluarganya ke jalan kebaikan yaitu dengan cara berdakwah.

“Istri saya yang kedua ini pandai membaca Alquran, saya menghimbau dia untuk bisa memaknainya. Salah satunya denga jualan kerupuk ini. Saya pernah tanya, kamu tahu artinya ini nggak? Alquran ini gunanya apa, tahu nggak? Itu menantang bagi saya untuk mengedukasi orang yang bermasalah atau yang belum mengenal Alquran dengan baik.”

Ia tetap memberikan ketegasan kepada istrinya agar senantiasa berusaha untuk bisa mendalami dan lebih memahami makna-makna yang terkandung dalam kitab suci Alquran. Selain itu, ia juga terus berusaha mengalirkan dakwah dengan mengajak orang lain agar turut serta selalu mengingat Allah.

Simak juga:  Menyanyi Membuat Hidup Lebih Berwarna

“Ada janda dua anak membawa gerobak. Saya pernah tanya, shalatnya bagaimana? Nggak tepat waktu. Saya katakan, hanya Allah yang membuka permasalahan kita, nggak mungkin nggak. Pasti ada jalan keluarnya. Itu ada di Surah Albaqarah ayat terakhir. Yaa Allah, jangan beri aku ujian di luar daripada kemampuan. Jadi Allah itu tahu takarannya kita itu seberapa. Jadi, semua itu introspeksinya harus di Alquran, yang membongkar semuanya itu Alquran.”

Sedikit terselip mengenai cerita putra-putrinya dari istri pertamanya dulu. Ketika ditanya bagaimana hubungannya dengan putra-putrinya, ia menceritakan bahwa ia hanya bisa menyerahkan segala urusannya kepada Allah, termasuk kehidupan mereka.

“Susah, tapi masih kontak. Tapi saya katakan susah. Ya hanya Allah, itu prerogatif Allah. Saya hanya menyampaikan apa yang bisa saya sampaikan, saya hanya memohon, ya, sudah. Mau ngirimin saya uang, saya nggak butuh uang. Saya mau dakwah, kasihan banyak orang yang nggak tahu jalan mau ke mana.”

Sekali lagi, ia menyadari bahwa segala hal yang pernah dicapai semasa hidupnya, sejak muda hingga lanjut usia kini, sepenuhnya merupakan kehendak dari Allah. Ia sangat mensyukuri kehidupannya hingga saat ini dan segalanya yang masih ia miliki.

 “Saya bersyukur. Saya masih bisa bahasa Perancis, Inggris, dan Jepang, itu juga karena Allah,” ujarnya.

Begitulah kisah inspiratif yang diberikan sosok Pak Hari, sebagai pengingat kita dalam menjalani kehidupan. Meskipun saat ini dunia sedang tidak baik, hanya satu hal pasti yang dapat kita yakini, yaitu hikmah kebaikan.Jadi, marilah kita bersama untuk tetap bersyukur danmengingat Allah di setiap situasi dan kondisi yang kita hadapi. Sepelik apapun persoalan dan seberat apapun beban yang kita hadapi, semoga dengan mengingat Allah dan mensyukuri segala kenikmatan yang diberikan-Nya akan menjadi awal baru bagi kita semua dalam menempuh kehidupan di jalan kebaikan. *** [Nadia Khairunnisa]

*(informasi dari berbagai sumber)

 

* Nadia Khairunnisa, gadis manis kelahiran Banyumas, 20 April 2000 ini kini sedang menempuh pendidikan S1 Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Nadia, panggilan akrabnya, menyukai dunia seni sejak masih belia. Dimulai dari menjuarai lomba baca puisi, menjadikannya menyukai dunia tulis menulis. Ia pernah menjabat sebagai ketua ekskul Jurnalistik saat kelas 11. Tidak hanya itu, ia juga menekuni seni musik. Beberapa alat musik telah dimainkan, seperti keyboard dan gitar. Dengan menulis dan mengembangkan bakat melalui musik, diakuinya menjadi lebih mudah melahirkan inspirasi baru untuk dedikasinya dalam menumbuhkan semangat meraih mimpi dan cita-cita di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x