Minggu , 7 Maret 2021
Beranda » Humaniora » Ngaji Gus Baha: Dakwah Menjadi Lebih Asyik pada Masa Pandemi
Gus Baha. (suaraislam.id)

Ngaji Gus Baha: Dakwah Menjadi Lebih Asyik pada Masa Pandemi

HAMPIR satu tahun kita melewati hari-hari bersama wabah mematikan Covid-19. Dan seharusnya bukan 19 lagi, tapi kita sebut saja Covid-20 karena kemarin November 2020 Covid baru saja merayakan hari lahirnya (Just kidding). Saat berada di penghujung tahun 2020 lalu, ramai sekali para netizen di media sosial terutama Twitter, membuat twit yang mengharapkan semoga bulan Desember menjadi bulan terakhir Covid-19 di tahun 2020, sekaligus yang memberikan kebahagiaan dan kabar baik.

Ada juga yang  lucu ketika para netizen menunjukkan rasa kekecewaan mereka itu dengan memelesetkan kalender 2020 menjadi Januari, Februari, Pandemi, lalu Desember. Menyedihkan memang, karena satu tahun ini berbagai aktivitas outdoor kita menjadi terhambat dan kurang maksimal. Pendidikan harus tetap berjalan, kebutuhan banyak tidak bisa sembarangan pergi ke pasar atau supermarket, liburan untuk refreshing juga susah, resesi ekonomi, belum masalah-masalah politik, bencana yang lain, dan masih banyak lagi.

 

 

Menjaga Imunitas Tubuh

Di situasi seperti sekarang ini, selain kita harus menjalankan protokol kesehatan, Juru Bicara Satuan Tugas (satgas) Penanganan Covid-19 Reisa Broto Asmoro, mengimbau masyarakat agar tetap melaksanakan jargon baru ‘3M’ yaitu, Mencuci tangan, Menjaga jarak, dan Menjauhi kerumunan.

Kita juga tidak boleh lupa untuk selalu menjaga imunitas tubuh sebagai upaya menjauhkan tubuh dari berbagai penyakit. Bisa dengan olahraga ringan secara teratur, memperbaiki pola makan, memperbanyak konsumsi vitamin, berjemur, tidur yang cukup. Dan hal yang tidak kalah penting dari menjaga imun adalah meningkatkan kualitas iman kita.

Seringkali kita lupa, bahwa segala yang terjadi di dunia ini sudah menjadi ketetapan dan ketentuan Allah SWT. Hanya saja manusia itu tidak bisa lepas dari rasa serakahnya, sehingga pada akhirnya bumi tempat tinggal kita menjadi tidak seimbang, menjadi rusak, karena ulah tangan manusia-manusia serakah itu. Secuil lirik lagu Nissa Sabyan yang berjudul Al Wabaa’, sebagai ekspresi harapan akan kebebasan Indonesia dari Virus Corona:

         Begitu banyak raga ku lihat tanpa nyawa
         Kau ambil mereka, tua dan muda
         Bencana kian meraja, datang tak menyapa
         Manusia sembunyi dalam atapnya
         Tak sedikit air mata, tak sebab Allah yang tega
         Kita yang salah dalam menata dunia

 

Demikian secuil lirik lagu Nissa Sabyan ‘Al Wabaa’ semoga bisa menjadi reminder kita untuk selalu ingat bahwa segala yang terjadi di dunia ini tidak terlepas dari campur tangan Allah. Dan apa pun rencana Allah, tidak boleh menyalahkan Allah, kita harus tetap berhusnudzon kepada Allah. Karena Allah tidak akan pernah membuat kita menderita. Sekalipun iya, itu adalah bentuk kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya, supaya kita bisa kembali ke jalan kebenaran yang diridhai Allah.

Selanjutnya, dalam proses meningkatkan kualitas iman, kita tidak boleh sengaja melupakan Allah, apalagi menyibukkan diri dengan hal-hal yang tidak disukai Allah. Oleh sebab itu, kebutuhan mengaji, memperkuat akidah atau keyakinan kita, menyirami hati dari kekeringan iman, menjadi sangat penting. Salah satu caranya adalah dengan ikut mendengarkan ceramah Gus Baha.

 

KH Ahmad Bahauddin Nursalim

Pasti sudah tidak asing lagi kan di telinga kita mendengar nama Gus Baha, ulama ahli tafsir santrinya Mbah Moen yang membawakan dakwahnya dengan guyonan khas ala Gus Baha, yang kemana-kemana selalu tampil sederhana dengan peci hitam, ageman putih, dan sarungnya. Siapa sih Gus Baha? Kenapa sih bisa memiliki banyak penggemar?

Seorang dai yang baik adalah dia yang bisa menempatkan dirinya di manapun tempatnya berada. Bisa menyesuaikan kapasitas akal para pendengarnya, materi yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh para pendengarnya, dan yang terpenting adalah ceramahnya tidak membosankan.

Simak juga:  Zulfa, dan Usahanya Mengajar Anak TPA Ketika Pandemi

KH. Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang kita kenal dengan sapaan Gus Baha adalah putra dari seorang ulama ahli Al-Quran, KH. Nursalim Al-Hafizh dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Sedangkan silsilah keluarga dari garis ibu, Gus Baha merupakan keturunan keluarga besar ulama Lasem, Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban yang pesareannya ada di area Masjid Jami Lasem. Gus Baha menikah dengan seorang ‘Ning’ dari Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, Ning Winda.

Sejak menjadi santri, Gus Baha sudah tampak kecerdasan dan wawasan keilmuannya. Sampai sampai teman santri seangkatan Gus Baha mencium tangan Gus Baha setiap kali bertemu dengannya. Begitulah kira-kira gambaran di dunia pesantren, bukan tentang muda atau tua, senior atau junior, tapi yang paling luas kedalaman ilmunya itu wajib dihormati. Di samping itu, menjaga adab juga sangat penting, meskipun Gus Baha adalah seorang yang cerdas dan berwawasan luas, ia selalu menjaga akhlaknya ketika bertemu dengan orang yang lebih sepuh atau dengan guru-gurunya. Ada istilah yang sering kita temui yaitu “Ilmu tinggi tidak berarti apabila tidak berakhlak”.

Santri didikan Mbah Moen ini benar-benar tidak bisa diragukan lagi keilmuannya. Sejak kecil, Gus Baha sudah banyak belajar dan menghafalkan Al-Quran yang dididik langsung oleh ayahnya dengan disiplin menggunakan metode tajwid dan makhorijul huruf. Sehingga di usia muda Gus Baha, mampu mengkhatamkan hafalan Al-Quran 30 Juz lengkap dengan qiraahnya. Maa syaa Allah

Selain menghafalkan Al-Quran, Gus Baha’ juga berhasil mengkhatamkan hafalannya di berbagai bidang keilmuan. Di bidang Ilmu Hadis, ia hafal Shahih Muslim lengkap dengan matan, rawi, dan sanadnya. Di bidang Ilmu Fikih, ia hafal isi kitab Fathul Muin. Kemudian di bidang Ilmu Tata Bahasa Arab, hafal kitab-kitab nahwu seperti Imrithi dan Alfiyah Ibnu Malik.

Selain mengasuh pengajian, Gus Baha juga mengabdikan diri di Lembaga Tafsir Al-Quran UII. Satu-satunya pendatang baru dalam dunia Tafsir Al-Quran di Indonesia dari jajaran Tafsir Nasional yang berlatar belakang pendidikan non formal dan non gelar. Saat ini, Gus Baha menjabat sebagai Ketua Tim Lajnah Mushaf Universitas Islam Indonesia (UII), bersama dengan Profesor, Doktor, dan para ahli Al-Quran, seperti Prof. Dr. Quraish Shihab, Prof. Zaini Dahlan, Prof. Shohib, dan para anggota Dewan Tafsir lain.

Pada suatu kesempatan Prof. Quraish Shihab pernah berkata, “Sulit ditemukan orang yang sangat memahami dan hafal detail-detail Al-Quran hingga detail-detail fikih yang tersirat dalam ayat-ayat Al-Quran seperti Pak Baha.”

Atas dasar inilah, penulis pribadi sangat menggemari Gus Baha. Selain karena sanad keilmuannya yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, gaya penyampaiannya saat mengisi pengajian juga asyik, bisa diterima di kalangan muda, dan tidak monoton.

 

Menyikapi Pandemi Ala Gus Baha

Virus Corona yang mewabah di Indonesia sejak Maret 2020 lalu, hingga hari ini tidak terhitung berapa banyak korban yang didiagnosis terkena virus mematikan itu. Kita tidak bisa lari dan menghindar dari adanya virus ini. Karena keberadaannya sudah menjadi bagian dari rencana Allah. Sebagai umat Muslim yang beriman, kita tidak perlu takut dan menyikapi pandemi yang terjadi saat ini secara berlebihan. Kita juga tidak perlu panik dan curiga kepada orang lain. Kematian adalah sebuah keniscayaan, tapi takut mati karena Corona ini pemikiran yang kurang tepat. Kita percaya bahwa hidup dan mati kita sudah diatur oleh Allah, kita bisa lihat, banyak orang-orang sembuh dari virus mematikan itu. Meskipun kita akui banyak juga yang mati akibat virus itu.

Simak juga:  Kesempatan Menjadi Guru Ngaji, di Masa Pandemi

Dalam ceramahnya Gus Baha di Channel YouTube-nya NU Online yang berjudul, “Gus Baha: Kalau Sakit, Saya Takut Ibadah Saya Berkurang” Gus Baha mengatakan, dosa besar tidak akan menjadi besar jika dibandingkan dengan luasnya ampunan Allah. Tapi, dosa kecil tidak akan menjadi kecil karena yang kita langgar adalah Allah. Itu berarti, tidak ada dosa besar dan tidak ada dosa kecil, tinggal mengepaskan saja. Kalau pas Allah menggunakan Ghafur-Nya ya aman, kalau pas pakai syadiidul ‘iqab Nya ya tidak aman.

Allāhumma inī a‘ūdzu bi ridhāka min sakhathika, wa bi mu‘āfātika min ‘uqūbatika. Wa a‘ūdzu bika minka, lā uhshī tsanā’an alayka anta kamā atsnayta ‘alā nafsika. Artinya, “Tuhanku, aku berlindung kepada ridha-Mu dari murka-Mu dan kepada afiat-Mu dari siksa-Mu. Aku meminta perlindungan-Mu dari murka-Mu. Aku tidak (sanggup) membilang pujian-Mu sebanyak Kau memuji diri-Mu sendiri,” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Doa di atas sangat penting untuk kita baca setiap hari, karena kita hanya bisa berlindung dari Allah dengan kekuatan Allah sendiri.

Menyangkut virus corona, Gus Baha bercerita tentang Sayidina Ali di mana Sayidina Ali itu pernah berada dalam ancaman pembunuhan. Ketika Sayidina Ali ingin melaksanakan shalat, ia tetap bersikap biasa, shalatnya tanpa dikawal. Itu juga menjadi dalil Gus Baha sampai ke hati.

Dan ketika Sayyidina Ali ditanya, “Kenapa engkau tidak takut pada kematian? Padahal yang ingin membunuh engkau banyak.” Jawaban Sayidina Ali itu unik, yaitu “Khisni ajali” (bentengku adalah jatah matiku). Makanya kata Gus Baha, mau ada kita diancam mau dibunuh orang, mau ada Corona, ada kolera, ada apa-apa tetap kita mati ya sesuai kontrak. Ya sudah, tapi bukan berarti kita tidak berusaha, harus tetap ada usaha, seperti selalu memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan meningkatkan daya tahan tubuh kita dengan mengatur pola makan, pola hidup, atau memperbanyak konsumsi vitamin.

Sehingga, ketika kita takut virus Corona, bukan lagi ketakutan nanti kita mati karena Corona, tapi takut nanti kalau kita sakit jadi merepotkan orang, kalau kita sakit sujud kita kurang, ngaji kita kurang, jadi ketakutan-ketakutan kita untuk aktivitas ibadah.

Kesimpulannya, ketika musibah datang, kita tidak boleh menyalahkan Allah, karena segala yang terjadi di dunia ini sudah menjadi urusan Allah. Kita harus yakin bahwa adanya pandemi ini adalah salah satu bukti kecintaan Allah terhadap kita, supaya kita kembali mengingat Allah, kembali ke jalan yang diridhai Allah. Selain itu, menyirami hati kita dengan ikut mengaji bersama orang-orang yang memiliki wawasan keilmuan yang luas, sanad keilmuan yang jelas, menjadi penting di masa-masa sulit seperti sekarang ini.*** [Amelia Insani]

 

          *Amelia Insani, lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 29 JUNI 2000. Kini merupakan mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Gadis yang hobi bernyanyi dan mendengarkan musik ini juga menjadi santri di Ponpes Al-Luqmaniyah, Umbulharjo, Yogyakarta. Motto hidupnya, “Berpikirlah positif sekeras apa pun hidupmu”.(Ali bin Abi Thalib).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x