Minggu , 25 Juli 2021
Beranda » Humaniora » Dakwah, Media Sosial, dan Pandemi Covid-19
Ilustrasi beragam aktivitas menghadapi Covid-19. (cultura.id)

Dakwah, Media Sosial, dan Pandemi Covid-19

PANDEMI Covid-19 belakangan ini menjadi persoalan dan sorotan dunia. Tidak terkecuali Indonesia, dimana beberapa sektor kehidupan di masyarakat begitu pelik dan menyulitkan. Sektor pendidikan yang harus menyesuaikan keadaan dengan cara yang baru, sektor kesehatan yang harus bekerja lebih keras dari biasanya, sektor ekonomi yang menjadi salah satu persoalan paling serius setelah kesehatan. Kegaduhan, kesulitan, dan kebingungan mungkin melanda hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Sebagai mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi, saya tertarik untuk berbicara dan sedikit mengintip persoalan dakwah di era pandemi dengan begitu banyak persoalan dan tentunya kebingungan di tengah masyarakat.

Dakwah merupakan salah satu tugas mulia yang harus selalu dilakukan oleh umat Muslim. Namun belakangan ini dakwah yang sering dilakukan oleh para ulama dan kyai sedikit agak berbeda karena situasi dan kondisi saat pandemi.

Dimana Tabligh Akbar yang biasanya menjadi satu sarana aktivitas dakwah bagi para dai, hari ini tidak dapat dilakukan karena pandemi, pengajian-pengajian rutin yang sering kali diadakan sudah tidak lagi diadakan dengan alasan yang sama.

Namun dengan berkembangnya zaman hal itu tidak bisa dijadikan sebuah alasan untuk tidak melakukan kegiatan dakwah. Zaman sudah menunjukan betapa pentingnya kehadiran media sosial di tengah masyarakat, tentunya media positif yang tidak menyebarkan berita-berita bohong.

 

Alternatif yang Bermanfaat

Dakwah melalui media sosial hari ini menjadi alternatif lain dan sangat amat bermanfaat bagi keberlangsungan dakwah di era pandemi. Pemanfaatan media sosial harusnya dapat dilakukan dengan tepat dan bertanggungjawab. Mengingat kontrol media sisial hari ini amat sangat sulit dilakukan, bahkan nyaris tidak dapat dilakukan,  di sinilah pentingnya analisis media diadakan.

Di tengah era globalisasi, sudah seharusnya media menjadi sarana manusia untuk bertukar informasi dan wawasan dengan baik. Dan dengan adanya pandemi Covid-19 ini tentunya menjadi tantangan tersendiri untuk para dai untuk sekreatif mungkin mengemas pesan yang akan disampaikan melalui sarana media.

Pada era milenial, ilmu yang berkembang bersifat multi disipliner dan komplementer. Ilmu agama yang selama ini menjadi pegangan dai sebagai sumber utama perlu diperkuat dengan keilmuan lainnya agar apa yang disampaikan ke masyarakat menjadi kokoh dan dapat dioperasionalkan di lapangan. Ilmu agama Islam dapat diperkuat dengan menggunakan kajian ilmu psikologi, sosiologi, sejarah dan sebagainya.

Hari ini dakwah melalui media sosial memang sudah bukan lagi menjadi hal yang tidak biasa, akan tetapi belakangan ini kita sering kali merasa dilematis akan beberapa informasi ataupun pengetahuan yang bertolak belakang antara satu dai dengan yang lain. Artinya memang diperlukan pondasi yang kokoh dan analisis media yang baik agar tidak begitu saja menerima informasi ataupun ajaran yang tidak sesuai dengan ajaran agama yang baik, mengingat dakwah tidak lagi menjadi tugas ataupun otoritas ulama saja. Dimana pun, kapan pun dan siapa pun dapat melakukan kegiatan dakwah.

Simak juga:  Jokowi Berkarakter Solidarity Maker

Dinamisasi kehidupan modern yang semakin tinggi dan sangat kompetitif telah banyak mempengaruhi umat manusia yang senantiasa memandang persoalan hidup secara pragmatis, logis, serba instan dan bahkan metematis. Keadaan yang demikian ini di samping membawa manfaat berupa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin memudahkan aktifitas manusia, juga telah membawa implikasi negatif berupa lemahnya semangat transendental dan memudarnya hubungan sosial. Implikasi tersebut berlangsung demikian lama, sehingga dewasa ini telah melahirkan berbagai kenyataan sosial yang cukup bertentangan dengan cita-cita.

Sebagaimana fatwa Syekh Adil al-Kalbani, yang melawan arus pendapat umum di kalangan ulama Saudi. Al-Kalbani, yang semula membela pendapat  yang mengharamkan musik dan nyanyian tiba-tiba berubah pikiran dan menganggap bermain musik dan menyanyi tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam. Fatwa ini mendapat kritik keras dari kalangan ulama yang menganggap bermusik dan bernyanyi diharamkan oleh syariat Islam. Jika fatwa tersebut hanya berpedoman pada sumber agama saja tanpa memperhatikan kajian sosiologi masyarakat, maka fatwa tersebut akan bertabrakan dengan realitas yang berkembangan di masyarakat bahwa musik merupakan kebutuhan masyarakat dan bahkan menjadi industri kreatif yang bisa mensejahterakan.

Beberapa waktu lalu, saya sempat berkomunikasi dengan salah satu kawan yang berasal dari Palembang dan sedikit berbicara persoalan pandemi dan aktivitas dakwah yang hari ini ada di daerah tersebut. Obrolan berawal dari keresahan akan hal yang sama, dimana peribadatan tidak lagi dapat dilakukan secara berjamaah seperti sedia kala, melakukan kegiatan dakwah tidak lagi dapat dilakukan dengan cara berkumpul di suatu tempat.

Kami coba sedikit mengulik persoalan tersebut, dan ternyata ada beberapa fakta yang saya temukan dari obrolan panjang yang berlangsung kurang lebih enam jam tersebut, bahwa ada persoalan yang cukup sama dengan apa yang saya rasakan di Yogyakarta. Dimana pengajian atau tabligh akbar sudah jarang sekali ditemukan, bahkan tidak lagi dapat ditemukan, termasuk ibadah shalat Jumat sekalipun. Lebih parahnya lagi, dengan situasi pandemi Covid-19 yang ditayangkan oleh hampir seluruh media televisi nasional maupun internasional yang cukup membuat masyarakat benar-benar membatasi aktivitas di luar rumah.

Simak juga:  Cara Ustad Pertahankan Dakwah di Tengah Pandemi Covid-19

Tak Menyurutkan Dakwah

Dengan terbatasnya aktivitas di luar rumah tersebut memberikan waktu cukup banyak untuk masyarakat mengakses informasi lewat media-media yang mudah dijangkau, seperti facebook, Instagram, dan media-media televisi. Dengan masifnya masyarakat mengakses media-media mainstream tersebut banyak informasi yang sebenarnya tidak dapat dipastikan kebeneran akan berita tersebut namun tetap menjadi berita yang hangat untuk diperbincangkan antar warga sekitar.

Inda Melinda, mahasiswa asal salah satu perguruan tinggi di Sumatera Selatan mengamati bahwa hari ini banyak sekali persoalan-persoalan yang menyoal informasi dan komunikasi di kalangan masyarakat, terutama yang paling banyak adalah persoalan ketakutan warga akan Covid-19 ini, tetapi tidak menurunkan minat masyarakat untuk mendengarkan dan melakukan kegiatan dakwah.

Artinya, pandemi Covid-19 ini tidak menurunkan minat dakwah di tengah masyarakat, karena bagi mereka banyak alternatif untuk melakukan kegiatan tersebut, salah satunya melalui media-media yang sudah penulis sebutkan sebelumnya.

Fenomena yang sering disebut sebagai konvergensi media ini memunculkan beberapa kemajuan penting. Di ranah praktis, konvergensi media tidak saja memperkaya informasi yang disajikan, namun juga memberi berbagai alternatif pilihan kepada khalayak untuk memilih informasi yang sesuai dengan seleranya.

Konvergensi media memberikan kesempatan baru dalam penanganan, penyediaan, distribusi dan pemrosesan seluruh informasi, baik yang bersifat visual, audio, data dan sebagainya. Salah satu bentuk kebermanfaatan dari munculnya era korvergensi media ini adalah jurnalisme online. Fenomena jurnalisme online yang dimanfaatkan oleh media massa dalam menyajikan materi informasinya dalam bentuk online sekarang ini, merupakan contoh menarik. Di mana, khalayak selaku pengakses media alias pembaca, tinggal meng-click informasi yang diinginkan di internet, dalam waktu sekejap ribua ninformasi yang dicari pun akan mudah didapatkan.

Memang ada kekhawatiran dari munculnya konvergensi media ini. Namun jika isinya betul-betul terjaga, terlebih lagi ada muatan dakwah yang pesannya sudah terbentuk dengan rapih, minimal kekhawatiran akan efek negatif dari konvergensi media ini tidak akan ada lagi. Bahkan sebagian kalangan merasa aman, pasalnya bahwa isi konvergensi media yang berorientasi dakwah, pada bagian tertentu akan mengamankan moral generasi muda, dan ini merupakan salah satu poin penting  yang harus dipikirkan para dai terhadap perkembangan dunia konvergensi media. *** [Aris Lukmana Putra]

 

* Aris Lukmana Putra, sekarang sedang menuntut ilmu di Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam [KPI] Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x