Sabtu , 27 Februari 2021
Beranda » Pendidikan » Belanda Beri Beasiswa untuk Pengelolaan Cagar Budaya
(Ist)

Belanda Beri Beasiswa untuk Pengelolaan Cagar Budaya

Cagar budaya merupakan identitas suatu bangsa. Warisan budaya berupa benda atau bangunan itu merupakan bukti perjalanan sejarah suatu bangsa. Sebagai bukti sejarah, tentu nilainya agak sulit bila diukur dengan uang. Boleh dikata, cagar budaya itu tak ternilai.

Karena itu, upaya melestarikan cagar budaya merupakan wujud tanggung jawab yang penting untuk menjaga nilai sejarah. Nilai-nilai itulah yang akan diwariskan secara turun-temurun dan dapat menjadi aset untuk pembangunan sebuah kota. Sayangnya, pemerintah daerah masih kekurangan tenaga untuk bisa menguasai pengelolaan cagar budaya yang selaras dengan pemberdayaan perekonomian setempat.

Beruntung ketika Pemerintah Belanda memberikan kesempatan kepada Indonesia untuk mengikuti pelatihan Heritage and Economic Development secara cuma-cuma melalui program Beasiswa StuNed. Kesempatan itu diberikan kepada 20 staf Pusat Dokumentasi Arsitektur (PDA) beserta pemerhati cagar budaya dari beberapa kota di Indonesia.

Penyerahan beasiswa dilakukan secara daring (dalam jaringan) dan disampaikan langsung oleh Direktur Nuffic Neso Indonesia, Peter van Tuijl, kepada Nadia Rinandi, Direktur Eksekutif PDA. Acara itu berlangsung bersamaan dengan pembukaan pelatihan yang dihadiri oleh Alonso Ayala, Ahli Senior The Institute for Housing and Urban Development Studies (IHS), pada hari Senin (18/1-2021).

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XI: Negeri ini Tidak Bisa Dibangun Hanya oleh Laki-laki

Pusat Dokumentasi Arsitektur merupakan lembaga pemerhati arsitektur Indonesia, khususnya kawasan cagar budaya. “Saat pelatihan, kami akan uji cobakan membuat perencanaan pengelolaan cagar budaya Kota Tua Jakarta. Kemudian, hasil pelatihan ini nanti akan berupa manual pengelolaan cagar budaya, untuk kami sebar ke pengelola cagar budaya di kota-kota lainnya,” kata Nadia Rinandi saat pembukaan pelatihan.

The Institute for Housing and Urban Development Studies (IHS), bagian dari Universitas Erasmus di kota Rotterdam, Belanda, dipilih karena mempunyai banyak pakar di bidang manajemen perkotaan. “Pengelolaan cagar budaya merupakan salah satu bagian manajemen perkotaan,” tutur Alonso Ayala dalam kesempatan yang sama.
Dijelaskan, pengelolaan cagar budaya melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Untuk itu, PDA mengajak peserta pelatihan juga dari berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM), pemerintah pusat (Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat), pemerintah daerah (Jakarta, Depok), universitas (Universitas Indonesia, Universitas Riau, Universitas PGRI Semarang, Universitas Hindu Indonesia Denpasar, UNS Surakarta, serta Universitas Pembangunan Panca Budi Medan), serta komunitas wiraswasta Kota Tua.

Simak juga:  Kapan Dunia Belajar Makan dengan Tangan?

Dalam kesempatan yang sama, Peter van Tuijl mengutarakan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk kerja sama Belanda dan Indonesia di bidang peningkatan ekonomi. “Selain pengembangan Kota Tua Jakarta, StuNed juga mendukung bidang pengembangan pariwisata di danau Toba. Pariwisata sangat penting untuk peningkatan ekonomi masyarakat sekitar,” tambahnya.

Beasiswa StuNed
StuNed, singkatan dari Studeren in Nederland, atau studi di Belanda, adalah program beasiswa yang merupakan bagian dari kebijakan kerjasama pembangunan pemerintah Belanda. Kerangka kerjasama bilateral tersebut tercantum dalam Multi-Annual Policy Framework, yang memiliki beberapa bidang prioritas, termasuk diantaranya Perdagangan Internasional, Keuangan dan Ekonomi (International Trade, Finance and Economics), Keamanan dan Penegakan Hukum (Security and Rule of Law), serta Agro-Pangan dan Hortikultura (Agro-Food and Horticulture). Sejak diluncurkan tahun 2000, StuNed sudah memberikan beasiswa bagi sekitar empat ribu tujuh ratus pelajar Indonesia. (Laksmi Wuryaningtyas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *