Senin , 29 November 2021
Beranda » Humaniora » Akhirnya Saya Bisa Menyanyi
Saat bernyanyi di Sanggar Melody. (Ist)

Akhirnya Saya Bisa Menyanyi

KETIKA saya menulis kisah ini, rasanya menjadi heran. Mengapa hal ini bisa terjadi? Padahal, tak ada bekal sedikit pun tatkala belajar menyanyi. Modalnya hanya “Siapa takut”, dan “Salah tidak dilarang”.

Pada sekitar tahun 2000, saya mendapat tugas kedinasan sebagai pekerja Radio Republik Indonesia (RRI) di Jawa Timur. Saya dan keluarga senang, karena suasana kerja amat kondusif, dan semangat kekeluargaan di sana cukup tinggi. Saya ditugasi oleh pimpinan pusat di bidang siaran dan seni. Dalam hal ini, rasa seni sedikit saja saya miliki. Tetapi menjadi pelaku seni, masih jauh panggang dari api, alias nanti dulu.

Suatu ketika, salah seorang pimpinan Kantor Pusat dari Jakarta berkunjung ke tempat kerja kami. Pimpinan itu berkesempatan memberikan arahan atau bekal-bekal penting kepada segenap jajaran dan kerabat kerja di tempat saya bertugas. Selain itu, sang pimpinan itu mengatakan, “Kalau mau menjadi orang nomor satu di instansi ini, kalian harus bisa menyanyi.”

Terlepas apakah hal itu dikatakan secara serius atau sekadar kelakar, saya menganggap pernyataan tersebut tidak main-main. Alasannya, pernyataan itu disampaikan dalam forum resmi.
Saya berpikir keras, dan tiba-tiba ada niat untuk belajar menyanyi. Meskipun selama itu, dalam keseharian saya hampir tidak pernah menyanyi, karena merasa tidak bisa. Bahkan, suatu ketika pada acara yang melibatkan peserta yang hadir diminta untuk membawakan lagu, saya minta ke pembawa acara agar jangan memberikan giliran kepada saya. Alasannya tidak bisa nyanyi, dan takut.

Hal itulah, paling tidak yang muncul di permukaan sebagai dalih agar tidak diminta menyanyi. Namun di dalam hati, kenyataannya lain. Saya selalu berpikir dan berniat untuk segera belajar menyanyi.
Atas dorongan teman-teman, dan dukungan fasilitas dari Dinas maka mulailah saya belajar menyanyi pada setiap hari Selasa, pukul 11.00 dibimbing teman dan player yang sangat sabar, serta tekun mendampingi. Namanya, Pak Gatot.

 

“Jatuh Cinta” dan “Terkenang-kenang”
Pertama belajar menyanyi, lagu dipilihkan teman. Judulnya “Jatuh Cinta” yang dinyanyikan Deddy Damhudi. Lagu ini akhirnya bisa saya nyanyikan, meski dalam waktu relatif singkat. Artinya, tidak sekali jadi. Diulang berkali-kali. Tetapi saya tidak patah arang. Pak Gatot yang mengiringi setiap kali latihan, dengan sabar dan tekun selalu mengingatkan dan memberikan pemahaman tentang nada serta Tempo.

Lagu lainnya, yang juga dipilihkan tentang, judulnya “Terkenang-kenang” ciptaan Sariwono. Lagu ini dipilihkan oleh Mbak Anik.
Dengan menyanyikan dua buah lagu itu, saya tambah tertarik untuk belajar menyanyi. Selain wawasan baru tentang ‘seni bernyanyi’ yang didapat, juga semakin memunculkan semangat untuk bernyanyi. Hari Selasa pun menjadi hari yang ditunggu-tunggu. Bila absen, seperti ada yang kurang dalam beraktivitas.

Cukup lama saya menekuni seni bernyanyi di Surabaya, sekitar tiga tahun. Setelah itu saya mendapatkan tugas baru di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Hobi menyanyi tetap melekat. Bahkan lebih menyemangati dalam iringan tugas. Setiap Jumat, seusai senam pagi diadakan kegiatan menyanyi bagi mereka yang ingin menyalurkan bakat seni tarik suara itu. Playernya teman karyawan, asli Kalimantan. Ia pernah studi pada sebuah pendidikan tinggi seni musik di Yogyakarta. Namanya, Pak Pilody (alm). Kesempatan menyanyi pun tak hanya di kantor, tapi di berbagai acara dan kesempatan di luar lainnya. Perbendaharaan lagu-lagu pun semakin banyak saya miliki.

Simak juga:  Indahnya Bersepeda, di Usia Tua

Setelah menjalankan tugas di Tanah Tambun Bungai, Provinsi Kalimantan Tengah, selama empat tahun kurang satu bulan, saya mendapat tugas baru di Manado, Sulawesi Utara. Di wilayah ‘nyiur melambai’ ini aktivitas olah suara tetap berlangsung lancar.

Sekitar dua tahun saya bertugas di Manado. Dan, tugas ini mengakhiri seluruh karier saya sebagai pegawai negeri di RRI hingga Purna tugas atau pensiun di tahun 2011. Masih segar dalam ingatan, selama bertugas di Manado itu, saya pun jadi hapal dan sering menyanyikannya lagu-lagu seperti “Balada Pelaut”, “Jangan Sampai Tiga Kali”, “Pulang Jo” dan “Lantaran Ngana”.

 

Pensiun, Kian Aktif Menyanyi
Ketika pensiun, saya semakin punya waktu banyak untuk menyalurkan kesukaan menyanyi. Saya kian aktif menyanyi.
Sebelum memasuki purna tugas, saya memang sudah mempersiapkan halapa saja yang nantinya dibutuhkan saat ingin twtap aktif menyanyi. Saya pun membeli keyboard, meski sederhana. Juga soundsystem yang cukup memadai, dan piranti lainnya sebagai pelengkap.

Setelah kembali tinggal di Yogya, setiap hari Kamis, pukul 10.00 sampai sekitar 13.00, di rumah saya, Prawirodirjan, Kemantren Gondomanan, Yogyakarta, diadakan kegiatan menyanyi. Pesertanya kebanyakan pensiunan, termasuk player Pak Suyanto, pensiunan BKKBN, dan Pak Sumarsono, pensiunan ISI Yogyakarta. Salah satu peserta yang rajin bernyanyi, tapi kini sudah tiada adalah Pak Kistomo. Peserta lainnya, Pak Daldjuri, Pak Hendratno, Mas Harto, Hesti, Pak Karman Among Wibowo, Ibu Quirina Pinta, Pak Apri, dan Bu Barinah (almh).

Kegiatan tersebut dilakukan secara sukarela. Tak ada dana atau uang tarikan dari para peserta. Playernya pun gratis. Jadi, benar-benar bernyanyi dengan meriah, murah dan dengan hati senang serta terhibur. Kegiatan ini berjalan sekitar tiga tahun dan berhenti karena keyboard rusak.
Walaupun keyboard rusak, tidaklah menyurutkan semangat untuk terus bernyanyi. Kebetulan ada teman yang baik hati meminjamkan keyboard miliknya untuk kegiatan bernyanyi. Akan tetapi teman itu beberapa tahun kemudian meninggal, yakni Pak Agus. Tempatnya pun difasilitasi oleh Pemerintah Kelurahan Prawirodirjan. Soundsystem dipinjami Pak Sri Widodo. Jadilah kami, setiap Sabtu malam menyanyi di Joglo Kelurahan Prawirodirjan dari pukul 20.00 sampai 23.00.

Banyaknya aktivitas bernyanyi seperti itu sungguh mengasyikkan. Kemudian saya pun punya kegiatan menyanyi juga di komunitas nasabah salah satu bank swasta di Bintaran Tengah, Yogyakarta, dan di Sanggar Melody, Gang Permadi, Nyutran, Yogya, pimpinan Mas Iman Santosa.

Komunitas Nasabah Bank tersebut pada setiap bulan sekali mengadakan kegiatan menyanyi di kafe. Dilakukan bergilir dari satu kafe ke kafe lainnya. Kegiatan ini didanai oleh bank bersangkutan. Sedangkan di Sanggar Melody, latihan menyanyi rutin baik secara pribadi, maupun komunitas (kelompok, grup).

Berkesempatan Mengaktualisasikan Diri
Latihan rutin baik secara perorangan maupun kelompok di Sanggar Melody membawa dampak positif, di antaranya bisa siaran di Radio Republik Indonesia (RRI), Radio Secara Kenanga, Radio Kartika, dan Radio Arma Sebelas.

Simak juga:  Pelukis Hardi dan Pointers Hidupnya

Sudah barang tentu untuk bisa siaran tersebut perlu proses ‘uji nyali’. Dibutuhkan persiapan, pembawa, dan penampilan prima dari seseorang. Tidak asal tampil, dan buka suara.ini merupakan pengalaman yang berharga.

Selain itu buah-buah ketekunan berlatih yang dilakukan Komunitas “Nyidakso” (_Nyanyo Pendak Seloso) berhasil membuat video klip.
Vedio klip yang diproduksi secara kelompok yakni “Andaikan Kau Datang” (Koea Plus) dan “Pamer Bojo” (Didi Kempot/. Sedangkan secara perseorangan duet saya dengan Bu Siti Amsiatun berjudul “Yang Pertama Kali”(Pance Pondaag) dan “Kusuma Hati” (WS Nardi).

Berbicara tentang Komunitas “Nyidakso”, komunitas ini baru berdiri sekitar setahun lalu, tepatnya pada tanggal 28 Juki 2021. Peringatan hari jadinya telah dilaksanakan pada 10 Agustus 2021, di Joglo Sawah TanNuko Resto, karena situasi dan kondisi Covid-19, dan mematuhi ketentuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Saya yang dipercaya selaku Ketua Komunitas “Nyidakso” ketika itu memohon dan restu agar komunitas ini dapat meneruskan aktivitas bernyanyi dengan gembira.
Acara ulang tahun “Nyidakso” itu juga dihadiri wakil sejumlah komunitas menyanyi yang ada di Yogyakarta, seperti Melody, Pelangi, Larosse, Aksy, Melati, Dendang Ria. LaNosta, Sensasi, GIK, Jonggrang, P2L3, SYB, Mawar dan MSM.

Komunitas “Nyidakso” berlatih atau bernyanyi setiap hari Selasa si Sanggar Melody. Sekarang jumlah anggotanya 15 orang, yakni Triwiyono Gunawan, Sri Palupiningsih, Siti Amsiatun, Ichin, Roemijati, Yanie Sukma, Bambang HP, Sri Subiyanti, Pujirahayu, Eny Susmono, Cicik Suronto, Dyah Tuti, Hemmy, Basriman, dan Nadi Mulyadi. Saya, Triwiyono Gunawan sebagai ketua, sekretaris Siti Amsiatun dan bendahara Sri Palupiningsih.

Demikianlah secara sekilas bagian perjalanan hidup saya, baik secara perorangan maupun kelompok di dalam menekuni, menghayati dan mengaktualisasikan kegemaran bernyanyi. Sungguh merupakan suatu yang melengkapi, mengisi, bahkan meyakinkan diri saya bahwa kehidupan ini begitu indah, seindah kita bernyanyi.

Kalau dahulu menyanyi dianggap sebagai sesuatu yang ‘menakutkan’, namun sekarang berubah menjadi ‘sesuatu yang kurang’ bila tidak menyanyi. Menyanyi sudah menjadi bagian hidup saya. Dan sampai kapan kegiatan ini akan berakhir? Tidaklah tahu.

Akhirnya, berikut ini saya kutipan pernyataan Aning Jati di salah satu media sosial pada 6 Mei 2021 tentang bernyanyi. “Bernyanyi merupakan satu di antara aktivitas yang banyak digemari semua kalangan, baik pria, wanita, tua, muda, bahkan anak-anak hingga kaum Lansia. Bernyanyi diyakini menjadi satu di antara cara kita mengekspresikan per. Bahkan ada yang menilai, bernyanyi adalah suara jiwa. Saat senang, sedih, kita bisa meluapkannya dengan bernyanyi, menyanyikan lagu-lagu kesayangan. Hal ini karena aktivitas satu seolah telah melekat dalam keseharian kita.”. * (FX. Triwiyono Gunawan)

FX. Triwiyono Gunawan, pensiunan pekerja media penyiaran, Radio Republik Indonesia, kini tinggal di Prawirodirjan GM 2/1219 Yogyakarta

1 komentar

  1. Fx.Triwiyono Gunawan

    Terima kasih, diberi kesempatan untuk menyalurkan isi hati lewat tulisan.Semoga Pewara selalu sukses.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *