Minggu , 7 Maret 2021
Beranda » Humaniora » Adaptasi Sulit dan Perubahan Besar dalam Pandemi
Ilustrasi (net)

Adaptasi Sulit dan Perubahan Besar dalam Pandemi

SEJAK Januari 2020, saya terpilih menjadi peserta YDAT (Youth Disability Advocacy Training) di Malang selama seminggu. Saya masih melakukan banyak aktivitas yang menarik dalam tiga bulan pertama tahun 2020, seperti kegiatan kuliah, kerja, nongkrong, dan banyak hal yang dilaksanakan secara tatap muka. Saya senang dengan hal ini. Saya sangat suka kegiatan tersebut meski amat melelahkan karena padatnya kegiatan dan banyak tugas harus dikerjakan, Saya memiliki rencana untuk tahun 2020.

Saya sudah mengetahui bahwa Tiongkok telah terserang virus Covid-19 saat China sedang sibuk dengan arus mudik terbesar untuk merayakan Imlek. Virus ini menyebar dengan cepat di seluruh wilayah Tiongkok. Daerah Wuhan adalah daerah yang terparah, karena Wuhan menjadi lokasi penyebaran virus Covid-19. Tiongkok menjadi epidemik. Penyebaran virus ini akhirnya terjadi di luar Tiongkok hingga seluruh dunia. WHO pun resmi menetapkan status pandemi sejak tanggal 12 Maret 2020. Dengan status tersebut membuat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pun secara resmi menutup kuliah tatap muka dan menyelenggarakan kuliah online hingga sekarang. Kuliah online pun dimulai pada tanggal 16 Mare 2020.

Saya menerima kabar dengan perasaan khawatir dan takut terhadap penyebaran virus Covid-19 yang kian cepat menyebar dimana-mana. Saya menjalani isolasi diri di kost beberapa minggu dan akhirnya mudik ke Solo. Hingga sekarang masih tidak diizinkan untuk kembali ke Yogya, karena UIN Sunan Kalijaga masih menyelenggarakan kuliah online untuk semester ini. Artinya saya sudah hampir delapan  bulan di Solo.

Pandemi menyebar cepat di seluruh dunia, telah menbawa perubahan hidup besar bagi seluruh kehidupan manusia, termasuk saya. Saya dari awalnya terbiasa untuk bertemu dan bergaul dengan banyak orang secara tatap muka, namun kini saya hanya bisa bertemu  mereka melalui online, yaitu aplikasi video conference atau video call. Lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengerjakan tugas di depan laptop, di rumah. Saya tidak lagi bisa melakukan syuting film di lapangan karena pandemi. Ada beberapa film terpaksa dibatalkan karena pandemi. Banyak agenda saya tahun 2020 juga dibatalkan. Termasuk saya baru saja terpilih menjadi peserta pertukaran pemuda di Bangkok, Thailand, yang direncanakan akan digelar tanggal 26-29 Maret 2020. Tetapi saya tidak terbang ke Bangkok, karena virus Covid-19.

 

Dua Sisi Berbeda

Saya melihat ada dua sisi berbeda terkait kehidupan berubah selama pandemi. Sisi positif, saya memiliki waktu luang untuk menonton banyak film dan drama yang belum saya analisis, menulis pemikiran baru di Blogspot atau Medium, belajar bahasa Inggris setiap hari secara otodidak maupun mengikuti kelas bahasa Inggris online, berinteraksi dengan orang tua saya, dan  membaca beberapa buku yang belum selesai. Di sisi negatif, saya telah mengalami banyak tekanan, depresi, stres, dan merasa kecemasan dengan kegiatan online tersebut. Saya bahkan jatuh sakit, kepala pusing, dan mata melayang karena kelelahan dengan kegiatan online dari kuliah, kerja, tugas, rapat, hingga beberapa acara yang penting.

Hal ini membuat saya merasa tidak sanggup dan tidak mampu untuk menyesuaikan kegiatan online dan merasa tidak sanggup untuk melanjutkan kegiatan online dalam waktu lama. Saya juga telah menghabiskan banyak uang hanya dengan membeli kouta internet dalam sebulan 100 ribu untuk 30 GB, tetapi cepat habis dalam dua minggu, bukan satu bulan yang seharusnya. Dan akhirnya, saya memiliki wifi yang baru dipasang bulan September lalu. Artinya, saya telah menghabiskan jutaan rupiah untuk membeli kouta internet dalam 5 bulan.

Saya sudah mendeksripsikan dua sisi efek pandemi yang telah mengubah hidup saya secara keseluruhan. Saya tidak melihat bagaimana terjadi pada dalam diri sendiri, tetapi saya melihat proses sebagai pengalaman, pemikiran, dan perasaan saya. Saya melihat angka Covid-19 di Indonesia dan juga wilayah saya masih belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Semua terus naik setiap hari bahkan kadang ada beberapa kali mencatatkan 0 kasus positif dalam beberapa hari.

Simak juga:  Kelas Online: Dilema Mahasiswa Menghadapi Keadaan

Tidak ada hiburan pada awal karantina, karena tidak ada kegiatan olahraga yang berlangsung di tengah pandemi. NBA (liga basket terpopuler di Amerika) telah ditunda, NCAA (liga olahraga mahasiswa di Amerika) juga ditunda, dan masih banyak olahraga terfavorit saya ditunda. Hanya saya dapat terhibur adalah menonton film, drama, dan video di Youtube dan Netflix. Saya sedih dengan hal ini, karena saya biasa suka menonton acara olahraga. Acara olahraga adalah acara yang paling disukai dalam hidup saya, karena ada banyak momen yang menarik dan sulit terulang dalam sekali seumur hidup.

        

Diawasi Psikolog

Ketika saya sakit, saya memikirkan banyak hal tentang dampak dan bagaimana saya bisa bertahan di kegiatan online ini. Saya berusaha untuk mengurangi ketergantungan dengan hal yang menganggu hidup saya. Saya bahkan diawasi oleh seorang psikolog yang merupakan teman saya saat masih di Yogya, karena saya memiliki pikiran untuk bunuh diri.  Pikiran itu muncul karena saya merasa cemas dan tidak mampu untuk melanjutkan kegiatan online seperti ini, serta merindukan kegiatan tatap muka dengan bertemu banyak orang seperti dulu. Saya tahu ada protokol medis tetapi saya rasa itu tidak akan bisa dilakukan dengan baik. Saya bertemu psikolog secara online dan virtual. Dia memberikan tips, saran, pencegahan, dan solusi. Saya selalu mengikutinya dengan baik. Dia mengatakan bahwa memiliki pengalaman sama dengan saya terkait dengan kegiatan online ini. Dia juga masih terus berjuang melalui semua hal di tahun ini.

Saya selalu membeli banyak obat untuk menjaga apabila kembali sakit lagi dan akan meminum obatnya. Saya tahu efek jika terlalu sering minum obat, tetapi saya rasa itu menandakan bahwa saya sudah tidak mampu melanjutkan kegiatan online seperti ini dalam waktu lama. Hanya satu hal yang saya inginkan adalah ingin kembali tatap muka dan bertemu dengan banyak orang. Jika rencana tatap muka akan digelar bulan Januari 2021, itu artinya saya telah menghabiskan hampir 10 bulan kegiatan online ini. Saya benci dengan fakta tersebut.

Rencana new normal pernah ramai diperbincangkan di sepanjang bulan Juli ketika Presiden Jokowi telah membahas rencana membuka kembali kegiatan ekonomi yang sempat ditutup akibat pandemi dengan konsep new normal. Artinya pembukaan kembali kegiatan ekonomi harus mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.

Ada banyak toko, restoran, café, rumah makan, perpustakaan, tempat wisata, hingga instansi pendidikan seperti les bimbingan belajar telah dibuka, baik dengan mengikuti protokol medis maupun tidak mengikuti protokol medis. Nyaris semua tempat telah dibuka dan aktivitas masyarakat pun kembali aktif. Mereka memakai masker dan ada pula tidak memakai masker. Dan bahkan, ada beberapa perusahaan mulai membuka lowongan kerja dengan sistem WFO (work from office) bukan lagi sistem WFH (work from house) atau sistem hybrid (dengan menggunakan dua sistem bersamaan). Saya telah melihat dan mengobservasi dengan beberapa tempat di kota Solo. Rasanya tidak masuk akal dan tidak adil, karena semua lapangan kerja telah dibuka, kecuali sekolah dan universitas masih tutup. Dan  bahkan, saya telah bertanya pada beberapa teman dan juga orang lain tentang apakah mereka percaya dengan adanya virus? Mereka menjawab percaya dan tetap mengikuti protokol yang ada, ada juga menjawab tidak percaya dan itu hanya konspirasi atau alasan lain, dan ada juga masih ragu-ragu apakah virus itu nyata atau tidaknya. Saya sendiri masih percaya adanya virus karena adanya data menunjukkan kasus positif terus meningkat demikian juga data orang meninggal dan data orang sembuh.

Saya tahu banyak orang membutuhkan penghidupan agar dapat bertahan dengan situasi ini dan dapat menafkahi keluarganya. Akan tetapi, saya sendiri sebagai mahasiswa dan telah memasuki semester lima yang akan menemui banyak materi kuliah dengan sistem praktikum. Maka itu alasan saya merasa tidak masuk akal dengan situasi ini. Apalagi saya merasa tidak dapat mengikuti kuliah online ketika mata kuliah saya menggunakan praktikum, seperti reportase media penyiaran, jurnalistik penyiaran pada semester empat, sinematografi dan tata artistik pada semester lima.

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XIX: Pemimpin Pemimpi

Sayangnya, UIN Sunan Kalijaga masih belum membuka rencana kuliah tatap muka untuk tahun ajaran ini. Jadi, saya terpaksa tetap tinggal di Solo dan saya tidak mendapatkan izin dari orang tua untuk kembali ke Yogya. Saya berpikir kemungkinan dengan sistem campuran jika mereka membuka kembali kegiatan tatap muka.

        

Islam dan Pandemi

Islam pun memiliki hubungan ajaran Islam dengan pandemi. Di era Nabi Saw pun pernah mengalami wabah penyakit. Nabi Muhammad Saw pun memerintahkan tindakan pencegahan untuk tidak berdekatan dengan penderitanya maupun wilayah yang terkena wabah. Konsep karantina wilayah ini seperti diungkapkannya dalam HR. Bukhari yang artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” Pernyataan Nabi Saw ini sangat berkaitan dengan tindakan pencegahan virus Covid-19 seperti ini, yaitu anjuran karantina wilayah atau isolasi diri di rumah masing-masing agar aman dari penyebaran virus Covid-19.

Dalam Al Quran, terdapat ada dua surat ayat Al Quran memiliki hubungan dengan terjadinya pandemi.  

         Pertama:

Kami akan memperlihatkan kepada mereka, tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendirim sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qu’ran itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu.” (QS Al, Fussilihat: 53)

         Kedua:

Karena sesungguhnya sesuah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan..” (QS. Al Insyirah: 5-6)

 

Dalam tafsir Al Muyassar surat Al Fuslihat ayat 53 disebutkan: bahwa Kami akan memperlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di langit dan di bumi, Kami akan memperlihatkan ayat-ayat Kami pada diri mereka agar jelas bagi mereka sehingga terangkat keraguan bahwa Al Quran ini adalah kebenaran yang tidak ada kebimbangan padanya.

Apakah belum cukup bagi orang-orang musyirikin itu bukti bahwa Al Quran ini adalah kebenaran dengan kesaksian Allah bahwa ia datang dari sisi-Nya? Siapakah yang lebih besar kesaksiannya daripada Allah? Kalau mereka menginginkan kebenaran, niscaya kesaksian Allah Rabb mereka sudah cukup bagi mereka.

Dalam surat tersebut, terjadinya Covid-19 merupakan salah satu bukti bahwa itu adalah ujian dan cobaan dari Allah untuk seluruh umat manusia yang berjuang untuk melalui semua cobaan hidup seperti kondisi pandemi ini. Tidak ada seorang pun meragukan bukti bahwa virus itu tidak nyata atau hanya konspirasi, tetapi virus itu nyata dan merupakan ujian dari Allah.

Dalam tafsir Al Mukhtashar surat Al- Insyirah ayat 5-6 disebutkan bahwa sesungguhnya bersamaan dengan kesusahan dan kesempitan itu terdapat kemudahan dan kelapangan. Sesungguhnya bersamaan dengan kesusahan itu terdapat kelapangan. Jika engkau mengerti hal itu maka janganlah sampai gangguan kamu itu membuat takut dan janganlah sampai hal itu menghalangi dari dakwah ke jalan Allah.

Dalam surat tersebut, hendaklah untuk bersabar dan menerima cobaan hidup serta jangan menganggu orang lain dengan Covid-19. Tetap berdakwah di jalan Allah dengan apapun kondisi yang terjadi, seperti pandemi.  *** [Raka Nurmujahid Amrullah]

 

         *Raka Nurmujahid Amrullah, lahir di Sragen, 21 Mei 1998. Kini menuntut ilmu di Prodi Komukasi dan Penyiaran Islam [KPI] Fakultas Dakwah dan Komunikasi Sunan Kalijaga. Motto hidup: You have a freedom and justice should’ve you fought and it would be unforgotten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x