Selasa , 21 Mei 2024
https://henrygrimes.com https://monkproject.org https://dolar788.com https://carmengagliano.com
Beranda » Humaniora » Ada Lagu yang Akan Saya Sukai Sampai Akhir Hayat
Ketika tampil menyanyi di acara Senandung Malam Pro 1 RRI Yogyakarta. (Ist)

Ada Lagu yang Akan Saya Sukai Sampai Akhir Hayat

MENYANYI merupakan hobi yang sudah saya miliki sejak kecil. Ya, sejak masih di bangku Sekolah Dasar, sampai di usia yang sudah tak lagi muda ini, hobi menyanyi itu tak pernah sirna. Bahkan sekarang, kesukaan menyanyi itu seakan telah menjadi bagian hidup saya yang menyenangkan, menggembirakan, dan membahagiakan.
Maaf, saya bukan penyanyi, dalam pengertian penyanyi yang profesional. Saya hanya seseorang yang punya hobi atau kesukaan menyanyi. Ya, hanya sekadar hobi, itu saja.

Sebagai seseorang yang punya hobi menyanyi, saya tentu punya sejumlah lagu kesukaan, atau lagu-lagu yang paling disenangi. Lagu-lagu yang saya sukai itu biasanya karena lagunya indah, liriknya menarik dan mengena di hati. Iramanya pun pasti sesuai dengan irama musik atau lagu yang sesuai jiwa saya.

Saya ingat, ketika kecil dulu lagu anak-anak yang paling disukai adalah lagu Burung Kutilang. Hampir setiap hari di rumah, atau bila disuruh menyanyi di sekolah, lagu itu menjadi pilihan. Mungkin, lagu itu merupakan lagu anak-anak yang pertama kali bisa saya nyanyikan secara sempurna dan utuh.

Sedang untuk lagu remaja atau dewasa, ada beberapa lagu yang sampai kini saya sukai. Di antaranya, lagu Tiga Malam yang dinyanyikan Lilies Suryani, Terang Bulan di Gunung dari Titiek Sandhora, Mutiara yang Hilang yang dipopulerkan Ernie Djohan. Kemudian lagu Hello..Hello..Kita Jumpa Lagi lewat suara merdu Andi Meriem Matalatta, Dunia Belum Kiamat duet Titiek Sandhora dan Muchsin Alatas, Kau Bukan Dirimu dari Dewi Yul. Oh iya, ada satu lagi, lagu Asmaraku Asmaramu yang juga dinyanyikan Andi Meriem Matalatta.

 

Lagu Paling Berkesan
Dan, di antara sejumlah lagu yang saya sukai itu, ada beberapa lagu yang sangat berkesan. Lagu-lagu yang berarti dalam perjalanan hidup. Lagu-lagu yang penuh kesan. Lagu-lagu penuh kenangan.
Terus terang, di antara lagu-lagu paling disukai itu, ada beberapa lagu yang masuk kategori lagu paling berkesan dalam kehidupan saya.

Salah satunya lagu yang berjudul Asmaraku Asmaramu yang dinyanyikan Andi Meriem Matalatta, penyanyi cantik bersuara merdu dari Makassar. Lagu yang dinyanyikan penyanyi yang dijuluki ‘Mutiara dari Selatan’ itu sungguh sangat berkesan bagi kehidupan saya. Lagu yang sarat dengan kenangan. Kenangan yang indah dan takkan terlupakan sampai kapan pun. Kenangan saat bertemu dan bersama almarhum suami saya, Mas Bambang Sudarsono.

Sekarang, setiap kali mendengarkan lagu itu, atau menyanyikannya lagi, saya jadi teringat lagi dengan semua kenangan manis dan indah kala masih bersamanya. Kenang-kenangan penuh cinta. Kenang-kenangan berharga saat membangun keluarga dan membesarkan anak-anak.

Simak juga:  Menyanyi, Terapi untuk Perpanjang Usia

Ya, bagi saya, ada lagu yang tak bisa saya lupakan sampai akhir hayat, yaitu lagu Asmaraku Asmaramu itu. Lagu itu sungguh menyentuh. Lagu itu sungguh penuh kenangan. Tak jarang ketika mendengar kembali lagu itu, atau saat ingin lagi menyanyikannya, ada air mata yang menetes di pipi. Air mata haru karena teringat kembali dengan seseorang yang terkasih, seseorang yang dicintai, seseorang yang pernah bersama dalam suka duka kehidupan.

Saya menyukai lagu Tiga Malam yang dilantunkan Lilies Suryani itu, karena lagu itu memiliki kesan dan kenangan yang dalam kepada Ayah. Ayah saya dulu menyukai lagu itu, juga Ibu. Saat Ayah bertugas sebagai aparat atau abdi negara, lagu itu pun dulu sering didendangkan Ibu juga Ayah.

Setiap ingat Ayah, saya lalu teringat akan lagu Tiga Malam. Saya pun jadi ingin mendendangkan, menyanyikannya lagi.
Lagu Hello…hello…Kita Jumpa Lagi juga merupakan lagu yang penuh kesan. Lagu itu mengingatkan persahabatan saya dengan beberapa teman dulu. Persahabatan yang indah. Persahabatan yang penuh beragam kisah suka duka bersama. Penuh canda. Penuh tawa.

Dan, lagu Terang Bulan di Gunung, ini juga penuh kesan dan kenangan. Lagu yang menyimpan kenangan. Kenangan yang indah, kenangan yang selalu saya ingat hingga kini.

Menyanyi di Komunitas
Walau kesukaan menyanyi itu sudah ada sejak masih usia kanak-kanak, namun peningkatannya seingat saya terjadi ketika berusia 14 tahun. Tepatnya, sekitar tahun 1970.
Ketika itu saya mulai suka mendengarkan lagu-lagu melalui radio, kemudian lewat tayangan musik di TVRI dan lainnya lagi. Saya pun mulai berusaha menghafal lagu-lagu yang disukai. Mencatat atau menulis lirik-lirik lagu yang disukai dalam buku catatan khusus, atau buku nyanyian. Dan, yang pasti, saya pun mulai belajar menyanyikan lagu-lagu tersebut, menirukan sebagaimana lagu itu dinyanyikan oleh penyanyi aslinya. Oh, betapa bahagianya, tatkala bisa menghafal atau menyanyikan lagu-lagu yang disukai, dan sedang populer kala itu.

Demikianlah, waktu pun terus berjalan. Setamat sekolah, selesai kuliah lalu berkeluarga, hobi menyanyi itu pun tetap tak pernah pudar, tak pernah sirna. Seperti bara api, hobi menyanyi tetap membara. Tetap mengikuti langkah kehidupan saya. Saya memang berusaha menjaga hobi menyanyi itu dengan cara apa pun. Saya tak ingin hobi menyanyi itu hilang. Bila hilang, maka hal itu bisa melemahkan semangat dan gelora kehidupan.

Simak juga:  “TikTok” Media Dakwah di Masa Pandemi Covid-19

Untuk menjaga hobi menyanyi itu tetap menggelora, saya pun kemudian bergabung dengan beberapa perkumpulan atau grup-grup menyanyi. Sekarang mungkin populer dengan sebutan komunitas menyanyi atau komunitas tembang kenangan.

Sebelum di Yogya, saya sudah bergabung dengan grup atau komunitas menyanyi di Eka Nada, Adiwerna, Tegal. Juga di komunitas Bhayangkara Batang, dan IWAPI Blora.
Di Yogya, saya mengawali dengan bergabung di grup menyanyi RW di Golo, Umbulharjo. Kemudian di grup tembang kenangan Alumni YKPN Joglo, Yogya. Setelah itu saya pun bergabung di komunitas Melody atau Sanggar Melody yang bermarkas di Nyutran, yang kebetulan lokasinya dekat dengan tempat tinggal saya. Dan, sekarang hobi menyanyi itu lebih banyak saya salurkan di Sanggar Melody.

Bergabung di grup-grup menyanyi atau komunitas-komunitas menyanyi itu tak hanya bisa untuk menjaga agar hobi menyanyi tidak hilang, tapi juga telah memberikan kesempatan menyanyi di Radio dan TV.

Bersama Eka Nada, saya pernah tampil menyanyi di RRI Tegal. Lalu, bersama grup Ibu dan Bapak RW di Golo, saya pun sempat tampil menyanyi di Jogja TV. Dan, bersama komunitas atau Sanggar Melody, saya pun sempat tampil menyanyi di RRI Yogyakarta dan Radio Swara Kenanga.

 

Serasa Usia Muda
Menyalurkan hobi menyanyi di usia yang tak lagi muda, sungguh sangat mengesankan. Ketika menyanyi, apalagi saat menyanyikan lagu-lagu yang disukai, lagu-lagu kenangan, usia terasa kembali muda. Terasa kembali bersemangat seperti tatkala muda dulu. Hati sungguh gembira. Dan, saya merasa kegembiraan itu membuat hati dan jiwa terasa segar. Saya merasa hal seperti itu sesuatu yang menyehatkan.

Saya pun merasakan banyaknya manfaat dari menyanyi bersama di dalam grup-grup atau komunitas-komunitas menyanyi. Salah satu manfaat itu terjalinnya silaturahim dengan teman-teman yang berada dalam satu komunitas. Teman-teman yang sebelumnya belum kenal, dan baru kenal saat bersama di komunitas. Pertemanan itu telah menambah persahabatan dengan banyak orang.

Demikianlah, rasanya tidak berlebihan, bila saya katakan hobi menyanyi dan bergabung di komunitas-komunitas menyanyi seperti halnya Sanggar Melody, telah membawa manfaat yang berarti dalam kehidupan. *
(Dyah Abi Setyowati)

 

* Dyah Abi Setyowati, lahir di Purworejo, 3 Desember 1956. Alumni Akademi Akuntansi YKPN Yogyakarta dan FE Untag Semarang ini Ibu dari tujuh orang anak, dan nenek delapan cucu. Kini tinggal di Jl. Tohpati, Golo, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *