Minggu , 29 November 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Wong Jawa Ilang Jawane
Abdi Dalem beramai-ramai membersihkan kereta Kanjeng Nyai Jimat. (Foto: dok kratonjogja.id)

Wong Jawa Ilang Jawane

KETIKA manusia pertama jatuh kedalam bujukan setan, penyebab utamanya , keinginan menyamai penciptanya. Buah di Taman hanyalah simbolisasi. Semua karena nafsu serakah manusia. Keinginan manusia hingga kini tidak terbendung. Hutan dibabat tanpa ampun, tanpa penanaman kembali, semua demi kemajuan manusia, katanya. Juga hewan hewan dibantai demi memenuhi selera. Sampai keinginan menguasai bumi,  sehingga antar negara dan antar kelompok saling menjatuhkan satu sama lain dan ingin berkuasa. Nafsu ingin berkuasa, menguasai bumi sumber petaka dunia ini. Orang Jawa mengatakan, “ngemperi Jagad”.

Muncullah virus Korona menghentak dunia  dengan cepat dan menewaskan ribuan bahkan jutaan orang di dunia.  Persis seratus tahun lalu 1918 dunia juga digoncang Flu Spanyol, Jutaan orang juga meninggal. Menurut laporan surat kabar di jaman Hindia Belanda di negeri ini yang tewas sekitar 1500.000  orang. Memang waktu itu yang ada pemerintah Hindia Belanda. Di negeri ini masih dalam pergerakan yang dipelopori pemuda. Flu Spanyol berlangsung hingga 1920.Kelihatannya wabah penyakit ini berlangsung  seratus tahunan. Alam kembali menyeimbangkan bumi. Wabah Korona menyadarkan manusia mengerem kerakusan terhadap bumi  seisinya. Ketamakan itu juga membuat orang egois, narsis, hedonis, menangnya sendiri. Meniadakan orang lain. Korona menyadarkan kembali bahwa ia adalah mahkluk sosial.  

Manusia Jawa lupa kepada kearifan luhurnya, ketika hendak melakukan hajatan besar, membangun rumah, membuat pusaka, menikahkan anak, harus menanam pohon, menebar benih ikan di sungai di telaga, melepas burung ke udara, Bila hendak menebang pohon harus menanam bibitnya.

Simak juga:  KEPEMIMPINAN DALAM DEMOKRASI PANCASILA 'Membentuk Pribadi Yang Utuh'

Perbuatan, tingkah laku yang bersumber pada nalar lahir penilaian benar dan salah.  Sedang  dari tingkah laku yang bersumber pada karep, lahir penilaian baik dan buruk, dari perbuatan yang bersumber pada kepercayaan lahir sifat-sifat religius dan non religius.  Pelestarian penilaian dilakukan masyarakat, dan bangsa tertentu karena nilai merupakan ukuran yang diyakini harus ditegakkan untuk melestarikan irama kehidupan yang sesuai kodrat alam dan cita-cita luhur suatu masyarakat maupun bangsa tertentu.

Adanya penilaian, timbul larangan, aturan, dan pembatasan yang tujuannya untuk mengatur tingkah laku manusia agar sesuai dengan harkat dan martabat yang dicita-citakan masyarakatnya. Adanya penilai menyebabkan timbulnya tatanan di dalam masyarakat itu sendiri.

Dalam abad yang makin kompleks persoalannya kini apakah hal-hal di atas masih mendapatkan porsi besar dalam pemikiran? Setiap hari kita didera memenuhi kebutuhan hidup. Hidup jadi merobot dan porsi perenungan kian berkurang. Pola ibadah terkurangi. Perenungan juga makin dangkal. Kita jadi sering lupa pada tujuan akhir seluruh kehidupan manusia. Masihkah orang Jawa gemar maneges dan manekung pada Yang Maha Agung?

Masihkah orang konsekuen menghayati budayanya? Sikap isin, andhap asor, tepo sliro, rukun, ngajeni, sabar, nrima, serta menjauhi sikap kasar, drengki, srei, jail, methakil, mumpung, dahwen, open, dumeh, rasanya kurang terperhatikan lagi. Perseteruan, tawuran, korupsi, manipulasi, perjudian, penganiayaan, yang tak selaras dengan budaya Jawa dan mungkin juga budaya lain, makin menggila. Ini menjadi tengara bahwa tatanan moral yang diyakini dan dicita-citakan mendapatkan tantangannya. Banyak orang Jawa yang kini tak tahu bahasanya sendiri, lebih-lebih bahasa krama . Banyak rumah tangga enggan menggunakan bahasa Jawa lagi. Lalu bagaimana mungkin mengerti dan menghayati budaya Jawa kalau bahasa Jawa saja tidak tahu? (Jawa ilang budayane?) Jawa tidak hanya berarti etnis tetapi juga hidup secara arif bijaksana.

Simak juga:  Pasar Beringharjo, Dulu Terindah Di Jawa

Di era yang penuh iming-iming duniawi, manusia didorong meninggalkan hal-hal batiniah, yang seharusnya menjadikan manusia utuh. Manusia pada dasarnya memiliki hakikat yang kompleks, dan dituntut untuk senantiasa bekerja secara harmonis selaras dan seimbang. Di dalam manusia ada bagian yang lebih rendah yakni pancaindera dan yang lebih tinggi yakni akal budi. Kedua hal ini dipertahankan secara harmonis.  Kemampuan yang rendah mengabdi kepada yang lebih tinggi. Apabila ini tak terlaksana terjadilah pemberontakan dalam kodrat manusia. Keselarasan ini tidak saja ada diri manusia, tetapi juga di luaran dirinya. Konsepsi Aku-alam-Allah mendasari pemahaman ini.

Dalam setiap pertentangan antara berbagai hubungan, maka hubungan dengan Allahlah yang senantiasa dinomorsatukan, baru kemudian dengan sesama manusia. Oleh karena itulah muncullah pemahaman Surodiro jaya jayaningrat, lebur dening pangastuti.

*) Sugeng WA pemerhati dan pelaku budaya sekaligus Tim Pengembangan dan Pelestarian Keris Propinsi Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *