Selasa , 29 September 2020
Beranda » Humaniora » Walau ‘Jatuh Bangun’, Menyanyi Itu Indah
Ketika menyanyi di radio. (Foto: Ist)

Walau ‘Jatuh Bangun’, Menyanyi Itu Indah

MENYANYI itu sesuatu yang menyenangkan. Sesuatu yang membahagiakan. Menyanyi bisa membuat hati riang, gembira. Bisa menghibur hati ketika berduka. Bisa mengusir perasaan sedih. Bisa menghalau gelisah, resah, risau, dan hal-hal senada lainnya. Menyanyi bisa menjauhkan rasa putus asa, dan kecewa. Menyanyi bisa menumbuhkan tekad untuk terus menjalani kehidupan dengan ceria dan penuh semangat.

Ya, setidaknya hal semacam itulah yang saya rasakan dari kesukaan atau hobi menyanyi selama ini. Atau dengan kata lain, sekali pun ‘jatuh bangun’ dalam menjalankan kesukaan menyanyi, menyanyi itu tetap sesuatu yang indah. Sejak kecil, saya sudah suka menyanyi. Di rumah, di sekolah ketika pelajaran kesenian, atau saat bersama teman-teman sebaya, saya selalu ingin menunjukkan kemampuan dan kesukaan menyanyi itu. Bahkan, sejak kelas dua SMP, saya sudah mulai berpikir bagaimana caranya untuk memperoleh penghasilan uang dari menyanyi.  

Menjadi penyanyi profesional dan rekaman? Di pikiran remaja saya, pikiran semacam itu memang sempat berkelebat. Tapi yang menguat dalam pikiran sederhana seorang remaja pelajar SMP seperti saya ketika itu adalah gagasan untuk mengamen. Mengamen? Ya, mengamen. Saya pikir, ini adalah cara termudah mencari uang dari kesukaan menyanyi.

Kebetulan ada teman yang mendukung gagasan mengamen itu. Tak hanya mendukung, teman itu juga memprovokasi saya agar tidak ragu dengan keputusan untuk mengamen. Sebelumnya memang sempat ada perasaan ragu, apakah tidak malu bila mengamen? Tapi perasaan ragu itu berhasil saya singkirkan jauh-jauh. Saya kuatkan tekad dan langkah untuk mengamen. Ya, mengamen.

 

Menyanyi dari Rumah ke Rumah

Bersama teman, di tahun 1981 saya memulai pengalaman baru dalam menyalurkan kesukaan atau hobi menyanyi, yaitu mengamen. Menyanyi dari rumah ke rumah. Dari pintu ke pintu. Dari toko ke toko. Dari warung ke warung. Dari kampung ke kampung. Bahkan dari kota ke kota lainnya.

Menyanyi dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung itu, banyak suka dukanya. Sukanya, bisa dapat uang, walau tak seberapa. Apalagi kalau ada pemilik rumah yang justru minta dinyanyikan beberapa lagu lagi, atau meminta dinyanyikan lagu-lagu tertentu. Betapa suka dan bahagianya bila bisa memenuhi menyanyikan lagu yang diminta. Dukanya, ya sering disepelekan, sering dipandang sebagai pengganggu kesenangan.

Masa itu saya sedang suka-sukanya dengan lagu-lagu yang dinyanyikan penyanyi Jamal Mirdad. Dua lagunya yakni Hati Lebur Jadi Debu dan Lembayung Sutra benar-benar saya sukai. Kesukaan terhadap kedua lagu itu mengalahkan lagu-lagunya yang lain. Kebetulan memang kedua lagu itu sedang hits. Sedang disukai banyak remaja atau kaum muda.

Simak juga:  Dari Menyanyi di Kelas, Sampai Depan Presiden

Hampir setiap hari lagu-lagu tersebut berkumandang di Radio-radio. Dan, setiap kali melakukan aksi mengamen, menyanyi dari rumah ke rumah, dan lokasi-lokasi lainnya, kedua lagu itu tak pernah ketinggalan. Pasti saya nyanyikan. Rasanya mengamen tidak akan lengkap bila tidak menyanyikannya.

 

         Hati Lebur Jadi Debu

         Titik-titik noda, tertinggal di dalam dada
         Guratan hatiku masih ada
         Terguris di mata, pahit kurasakan
         Hari ini hati masih luka 

         Telah aku coba, melupakan segalanya
         Namun titik terang tiada datang
         Langit makin kelam, luka makin dalam
         Hati ini hancur jadi debu 

         Hanya satu, yang kusayangi
         Tiada pengganti, sampai saat ini
         Hari-hari, langit kelabu
         Menutup hatiku, serasa kan mati

         Bukit kan kudaki, laut pun kuseberangi
         Agar dapat lupakan dirimu
         Namun apa daya, aku manusia
         Gagal menghapus kenangan lama

          

       

 

Tekuni Campursari

Setelah beberapa waktu asyik mengamen, saya pun kemudian berpikir perlunya langkah meningkatkan kualitas diri, tak hanya menyanyi dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, tapi menyanyi ke arah yang agak profesional. Tak mungkin selamanya jadi pengamen, pikir saya.

Lalu, di tahun 1986, saya mencoba menekuni lagu Campursari. Saya merasakan sesuatu yang pas dengan lagu-lagu Campursari. Mungkin karena saya lahir dan besar di Yogya, berkultur Jawa, jadi rasanya tidak mengalami kesulitan untuk mendalami dan menyukai lagu-lagu Campursari tersebut.

Langkah saya menekuni lagu-lagu Campursari tidak sia-sia. Di lingkungan penggemar atau pendengar lagu-lagu Campursari, saya sudah disebut sebagai penyanyi Campursari. Saya tidak lagi menyanyi dari rumah ke rumah, tapi sudah menyanyi dari satu panggung ke panggung, dari satu pentas show ke pentas show lainnya. Betapa bahagianya saya kala itu bisa menghibur banyak orang, terutama pecinta dan penggemar lagu Campursari.

Sejak menyukai lagu-lagu Campursari, saya pun sudah berangan-angan membentuk grup musik Campursari sendiri. Dan, angan-angan itu terwujud di tahun 1996. Saya punya grup Campursari Bondo Aji, dan punya peralatan musik yang lengkap.  

Sejak terbentuknya Grup Campursari Bondo Aji, saya benar-benar merasakan hal yang menggembirakan dan membahagiakan dalam bermusik dan menyanyi.   Ya, dari 1996 sampai 2005, memang boleh dibilang masa-masa jaya bagi Grup Bondo Aji. Masa-masa Bondo Aji sedang naik daun di Yogya.

Sampai kemudian ada tawaran rekaman di  DASA Record. Untuk mempersiapkan rekaman itu diperlukan biaya yang tak sedikit. Dan, saya sampai jual mobil guna biaya membuat rekaman sampel atau contoh lagu di Radio Reco Buntung untuk dikirim ke Semarang.

Simak juga:  Menyanyi Membuat Hidup Lebih Berwarna

Tapi kemudian yang saya alami adalah kepedihan. Saya ‘jatuh’, kecewa. Karena pada akhirya rencana yang awalnya menggembirakan itu harus kandas tidak kesampaian. Saya benar-benar terpukul. Betapa tidak. Sudah jual barang-barang untuk biaya mempersiapkan lagu atau sampel lagu, tapi rencana itu tak terwujud.

Terus saya mawas diri, tidak boleh ngoyo, karena nasib itu di tangan yang Maha Kuasa. Walau sempat patah semangat, sempat ‘jatuh’, saya tetap berusaha bangun, tetap membangun diri.

 

Bergabung Komunitas

Walaupun ‘jatuh bangun’, tapi kesukaan atau hobi menyanyi saya tak pernah pudar. Saya tetap berusaha menyalurkan kesukaan menyanyi di berbagai kesempatan. Dalam menyalurkan aktivitas menyanyi itu, saya sempat ikut komunitas lagu Campursari di Radio Swara Kenanga Jogja. Kemudian sekitar Maret 2020 saya diajak untuk terlibat di dalam komunitas menyanyi Pelangi yang kebetulan sering tampil rutin di Radio Swara Kenanga.

Selama bergabung di komunitas lagu Campursari Radio Swara Kenanga maupun komunitas menyanyi Pelangi, saya boleh dibilang sampai sekarang sering tampil menyanyi di Radio Swara Kenanga. Tapi ketika di tahun 2000, bersama Grup Campursari Bondo Aji pernah menjadi juara di RRI. Di tahun 2010 saya pernah menjadi 10 besar se-Jawa Tengah juga untuk lagu Campursari, terus mewakili Jawa Tengah ke Jakarta. Waktu itu audisinya berlangsung di TPI.

Oh iya, di TVRI Yogyakarta dulu pada tahun 1998 saya pernah rutin setiap malam Kamis tampil menyanyikan lagu-lagu Campursari. Sedang  di Radio Swara Kenanga sampai sekarang, masih sering nyanyi setiap hari pukul 08.00  sampai 11.00 dengan judul menyanyi lagu suka-suka.

Ya, walaupun ‘jatuh bangun’, buat saya, menyanyi itu sesuatu yang indah dalam banyak hal.  Menyanyi bisa menghilangkan pikiran stres, perasaan kembali menjadi muda. Dan, apabila badan terasa tidak sehat, tidak nyaman, begitu diajak menyanyi, rasa sakitnya hilang. Bilang bergabung di dalam komunitas menyanyi, maka manfaatnya akan mendapat banyak saudara, sahabat, dan selalu terhibur. Memperoleh banyak pengalaman dan pelajaran yangt sebelumnya tidak tahu.

Selain itu, karena banyak sahabat, maka bisa saling tukar informasi tentang apa pun, dan saya pun bisa mempromosikan di  komunitas bahwa saya punya sanggar busana, persewaan pakaian daerah. Bisa sewa dan rias di sanggar Yudhistira. *** [Waldiyono]

 

*** Waldiyono, lahir di Yogyakarta pada 12 Desember 1965. Kini sibuk sebagai wiraswastawan yang bergerak dalam sanggar busana, persewaan pakaian daerah, dan tata rias. Bersama istri dan anaknya, ia tinggal di Yogyakarta.

Lihat Juga

Menyanyi Sambil Membayangkan . . . . .

SAAT ini, menyanyikan sebuah lagu tidak diharuskan untuk hafal liriknya. Sudah banyak sekali fasilitas yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *