Selasa , 14 Juli 2020
Beranda » Peristiwa » Valentine Ambyar di Sastra Bulan Purnama
Yuliani, Ida Fitri, Umi Kulsum, Rani dan Ninuk Retno Raras. (Foto: Ist)

Valentine Ambyar di Sastra Bulan Purnama

Menyanyikan lagu Cidro milik Didi Kempot, para perempuan ambyar seolah sedang memaknai valentine, sambil mengingat-ingat peristiwa patah hati yang pernah dialami, sekaligus untuk menandai Sastra Bulan Purnama edisi 101, yang diisi peluncurkan kumpulan cerpen berjudul ‘Firdaus yang Hilang’ dimulai. Cara mereka mengingat dalam bentuk kreativitas, yakni menulis cerpen dan diterbitkan dalam bentuk buku.

Sastra Bulan Purnama edisi 101 sengaja dibuat ambyar. Namun bukan berarti berantakan, sehingga penyelenggaraan Sastra Bulan Purnama menjadi kacau. Ambyar dalam arti, para penampil yang membacakan cerpen karyanya, semua mengambil tema patah hati, dan diselenggarakan saat hari valentine, 14 Februari 2020 di Tembi Rumah Budaya, jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Para penampil, yang membacakan cerpen dalam buku berjudul ‘Firdaus yang Hilang’, semuanya perempuan, dan mereka penggemar lagu-lagu Didi Kempot. Maka, mereka menyebutnya sebagai komunitas ambyar, dan valentine betul2 ambyar, dalam arti mereka semua seolah seperti ABG, yang penuh tawa dan penuh polah, padahal semuanya sudah berkeluarga, dan ada yang sudah mempunyai cucu.

Rupanya, sastra ditengah suasana ambyar, malah menyatukan dan memberikan rasa bahagia di antara sesama. Anggota yang lain, yang tidak bisa datang ke Tembi Rumah Budaya, seperti Endah Raharjo, memilih melihat melalui streaming Sastra Bulan Purnama, dan mengabarkannya melalui dinding facebooknya, yang dilengkapi fotonya.

Simak juga:  Danurejan Persiapkan Diri Jadi Kecamatan Inklusi

Sastra Bulan Purnama edisi 101, sejak sore sudah dipenuhi hujan deras, bahkan di tempat-tempat lain disertai angin kencang, sehingga ada pohon tumbang, dan beberapa titik sedikit banjir, atau mungkin bisa disebut sebagai air menggenang di tengah jalan. Dalam suasana seperti itu, Sastra Bulan Purnama tetap berjalan seperti biasa. Tentu, yang hadir tampak bajunya basah, namun demikian mereka berbaur bersama.

Mungkin hujan yang begitu deras, sejak Sastra Bulan Purnama belum dimulai, sehingga tidak banyak pecinta sastra yang datang, setidaknya seperti setiap Sastra Bulan Purnama diselenggarakan. Bukan kali ini hujan meggguyur Sastra Bulan Purnama. Hanya saja, biasanya, hujan turun ditengah acara sudah dimulai, atau malah setelah acara selesai, hujan turun.

Mengawali penampilannya, Rani Februandari membacakan cerpennya yang berjudul ‘Firdaus yang Hilang’. Nama Firdaus memang nama mantannya, sehingga, setidaknya seperti kata Rani, Firdaus tahu kalau cerpen itu untuknya. Rani, yang baru saja menyelesaikan S-3-nya. Tambah bahagia dan tertawa lepas sambil membacakan penggalan cerpennya. Artinya, tema patah hati tidak identik dengan rasa kesedihan, atau malah mengharu biru. Malah, bisa menertawakan masa lalu yang pernah dialami.

“Acara ini sungguh spesial bagi saya, karena sekaligus hari ini ulang tahun saya, sehingga ini merupakan kado terindah untuk saya” ujar Rani sambil tertawa.

Simak juga:  Obor dan Dupa Dalam Puisi Di Tembi

Seperti halnya Rani, pembaca lainnya, Savitri, Ninuk Retno Raras, Ida Fitri, Yeni Mada, Yuliani Kumudaswari, semuanya tampil dengan rasa gembira, sehingga rasa sedih tidak terlihat dari para penampil yang membacakan cerpen karyanya.

Umi Kulsum, yang tampil membacakan cerpen karyanya sambil menghadirkan latar belakang tarian, seolah hendak memghidupkan cerpen yang dibacakan, sekaligus memberi tekanan, bahwa cerpen perlu dibaca dengan riang, tidak dengan duka atau sakit hati.

Yeni Mada, tidak ingin terbawa suasana patah hati. Maka, dalam membacakan cerpennya diiringi petikan gitar. Yeni seperti ingin mengungkapkan pengalaman hidupnya dengan rasa senang, dan petikan gitar adalah tanda dari rasa senang itu.

Komunitas Ambyar kali ini memang berbeda dalam memaknai valentine dan ingatan akan patah hati. Hal yang sudah berlalu hanya secuil kisah yang tidak perlu diratapi, justru sebaliknya, jalan kebahagiaan yang perlu ditempuh, dan Sastra Bulan Purnama, sebut saja, adalah tempat pemberhentikan dari perjalanan yang membahagiakann, dan memang mereka seperti kembali seperti ABG. Penuh canda, tertawa lepas dan saling berpelukan. Sastra memang (selalu) membahagiakan.

Mengakhiri acara Sastra Bulan Purnama, yang dibarengi hujan reda, mereka bersama menyanyikan lagu ‘Kemesraan” sambil bercanda. Tanda mereka penuh bahagia. (*)

Lihat Juga

Dari Balkon Apartemen Lantai 6 dalam Poetry Reading from Home

Fajar Santoadi, orang Yogya dan pernah mengajar di Universitas Sanata Dharma, kini tinggal di Malaysia. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *