Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Tugu Pal Putih, Simbol Persatuan Raja dan Rakyat Yogyakarta
Miniatur Tugu Golong-Gilig. (Foto: Ist)

Tugu Pal Putih, Simbol Persatuan Raja dan Rakyat Yogyakarta

TUGU Yogyakarta atau sering disebut dengan Tugu Pal Putih ( Pal yang berarti tugu, dan Putih karena cat yang digunakan sejak dulu adalah putih) ini merupakan simbol dari kota Yogyakarta dan juga merupakan simbol persatuan antara raja dan rakyat Yogyakarta. Selain itu, tugu ini juga menjadi obyek wisata bagi para wisatawan, sebagai tujuan yang harus dituju apabila berkunjung ke Yogyakarta.

Tugu ini dibangun Pemerintah Belanda setelah tugu yang sebelumnya (Tugu Golong-Gilig yang dibangun oleh Sultan HB I) runtuh akibat gempa yang terjadi saat itu.  Tugu ini juga mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan Laut Selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi. Konon Sultan Yogyakarta pada saat meditasi menggunakan tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak Gunung Merapi. Awal berdirinya tugu ini mempunyai makna semangat persatuan rakyat dan penguasa untuk melawan penjajah (yang disebut Golong-Gilig). Tiang nya berbentuk Gilig (silinder) yang mengerucut ke atas dan puncaknya berbentuk Golong (bulat) hingga akhirnya dinamakanlah Tugu Golong- Gilig yang tinggi awalnya mencapai 25 meter.

Setelah adanya gempa, Pemerintah Belanda pun merenovasi tugu ini dengan tiap sisi berbentuk persegi panjang dan dihiasi semacam prasasti yang menunjukkan siapa saja yang terlibat dalam renovasi itu. Kemudian juga bagian puncak tugu tidak lagi bulat tetapi berbentuk kerucut yang meruncing dan ketinggiannya menjadi hanya 15 meter. Dari fisik tugu inilah yang berubah, berbeda sekali dengan bentuk awalnya. Tujuannya adalah untuk memecah belah persatuan antara Keraton dan rakyat. Meski Pemerintah Belanda memugarnya dengan bentuk yang lain, namun masyarakat setempat tetap lekat dengan tujuan pembangunan awalnya yaitu agar masyarakat Yogyakarta  menjaga kebersamaan dan selalu menjunjung tinggi martabat diri. Terbukti, saat DIY akan dikendalikan hanya oleh  Pemerintah Pusat saja, masyarakat Yogyakarta kompak menolak dengan tegas dan dengan cara-cara yang artistik. Dan sejak perubahan itulah Tugu Yogya diberi nama Pal Putih atau De Wiit Paal yang diresmikan oleh Sultan HB VII pada 3 Oktober 1889.

Empat Prasasti

Simak juga:  Diskusi Kebangsaan XVII: Mendambakan Politisi Beretika

Di bangunan tugu ini terdapat empat prasasti yang pada setiap sisi merekam proses pembangunannya kembali, seperti :

  • Di sisi barat terdapat prasasti yang berbunyi, “Yasan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Kaping VII”. Prasasti ini menunjukkan bahwa tugu tersebut dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VII.
  • Di sisi timur terdapat prasasti yang berbunyi, “Ingkang mangayubagya Karsa Dalem Kanjeng Tuwan Residhen Y. Mullemester”. Prasasti ini menyebutkan bahwa Y. Mullemester, Residen Yogyakarta waktu itu, menyambut baik pembangunan tugu tersebut. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Pemerintah Belanda tidak terlibat dalam pendanaan
  • Di sisi selatan terdapat prasasti yang berbunyi, “Wiwara Harja Manggala Praja, Kaping VII Sapar Alip 1819”. Wiwara Harja Manggala Praja merupakan sengkalan yang menandai selesainya pembangunan Tugu Golong Gilig yang baru. Wiwara berarti gerbang, mewakili angka sembilan. Harja bermakna kemakmuran, mewakili angka satu. Manggala bermakna pemimpin, mewakili angka delapan. Sementara Praja bermakna negara, mewakili angka satu. Dapat diartikan bahwa perjalanan menuju gerbang kemakmuran dimulai dari pemimpin negara. Sengkalan ini menunjuk pada angka 1819, sesuai dengan tahun yang ditulis di bawahnya. Di atas tulisan tersebut terdapat lambang padi dan kapas dengan tulisan HB VII, juga lambang mahkota Belanda di puncaknya. Lambang ini adalah lambang resmi yang dipakai oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VII.
  • Di sisi utara terdapat prasasti yang berbunyi, “Pakaryanipun Sinembadan Patih Dalem Kanjeng Raden Adipati Danureja Ingkang Kaping V. Kaundhagen Dening Tuwan YPF Van Brussel. Opsihter Waterstaat”. Prasasti ini menyebutkan bahwa pelaksanaan pembangunan tugu dipimpin oleh Patih Danurejo V (1879-1899), dan arsitektur tugu dirancang oleh YPF Van Brussel, seorang petugas Dinas Pengairan Belanda yang bertugas di Yogyakarta.

Selain empat prasasti yang ada disetiap sisi, tugu ini juga mempunyai bangunan yang terdiri atas bagian puncak, batang, dan umpak. Bagian puncak berbentuk bulat dan runcing berdiri pada lapik berpelipik. Batang terdiri atas dua ruas, berdiri di umpak berbentuk segi empat dan berundak. Semenjak pembangunan kembali setelah rusak akibat gempa, tidak ada lagi perubahan atas bangunan tugu. Hanya ada pekerjaan yang bersifat perawatan dan penataan kawasan di sekelilingnya saja.

Simak juga:  Pemimpin Tanpa Rasa Bersalah

Pada tahun 2015, sebuah miniatur Tugu Golong Gilig selesai dibangun pada sudut perempatan sebelah tenggara tugu. Miniatur ini dibangun sesuai desain awal dan dilengkapi dengan keterangan mengenai sejarah perjalanan tugu sebagai salah satu simbol penting di Kesultanan Yogyakarta. Pembuatan miniatur ini menjadi jalan tengah bagi kebutuhan masyarakat untuk memahami bagaimana sejarah dan falsafah dari bentuk tugu hasil rancangan pendiri Yogyakarta, dan kelestarian tugu hasil desain orang Belanda yang kini telah menjadi bangunan cagar budaya dengan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI No. PM25/PW.007/MKP/2007. *** (Ngaini Masrurroh)

 

            * Ngaini Masrurroh, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *