Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Teka-Teki Kyai Tunggul Wulung
Bendera Kanjeng Kyai Tunggul Wulung (ft. net)

Teka-Teki Kyai Tunggul Wulung

Pageblug yang menghantam negeri ini sulit diramal kapan berakhir. Bukan hal aneh di kalangan ‘Kawula Ngayogyakarto’ muncul andai-andai yang berbau mistik-irasional. Karena sesuatunya sekarang memang sudah bukan wewenang manusia mengatur, tetapi sudah kewenangan Yang di Atas. Manusia hanya bisa pasrah. Di tengah kepasrahan itu masih sempat berharap akan kemurahanNya.

Memang era legenda atau zaman dongeng telah lampau, namun suatu kabut mistik masih saja tetap menyelimuti kejadian-kejadian di seputar Kasultanan Yogyakarta. Pernah tercuat permohonan masyarakat agar Karaton mengkirabkan pusaka Karaton agar pageblug ini segera sirna. Seperti terukir dalam sejarah kota Yogyakarta pada tahun 1946 kota ini dilanda wabah pes yang amat hebat.

Setiap hari dilaporkan puluhan orang mati misterius. ‘Pagi sakit, sore meninggal’ demikian digambarkan. Bila sore sakit, esoknya tewas. Secara medis penyakit ini adalah penyakit pes yang ditularkan tikus. Waktu itu orang yang diduga sakit pes dibarak atau dikarantina. Perlu diketahui bahwa rumah-rumah ketika itu dibuat dari bambu yang kerap digunakan tikus sebagai sarang.

Masyarakat kemudian memohon Karaton Yogyakarta mengkirabkan bendera pusaka Kangjeng Kyai Ageng Tunggul Wulung. Harapan masyarakat ketika itu terbaca Sri Sultan Hamengku Buwono IX, kemudian perintah Sultan muncul untuk mengkirabkan pusaka Tunggul Wulung, yang tidak sekadar pesan mistis tetapi juga filosofis.  Tradisi dan nalar naluri para leluhur mengungkap pengalaman, bila bendera yang berwarna biru tua kehitaman ini dikirab sekeliling kota wabah akan sirna.

Demikianlah bendera pusaka itu dikelilingkan semalam suntuk di seluruh pelosok kota. Berangkat dari Karaton jam 20.00 malam. Suasana ketika itu hujan rintik-rintik. Namun begitu, tidak menyurutkan langkah para peserta kirab. Diawali dari karaton berjalan kearah utara melewati Malioboro, Tugu, ke utara sampai di Jetis Pasiraman belok ke barat, sampai di Jl Magelang ke selatan, kemudian ke barat lewat pingit dan kemudan ke selatan. Puluhan kilometer memutar kota dilakoni berejalan kaki, diawali manggala yuda berkuda. Dan menurut Mbah Slamet yang menjadi pembawa Bendera Pendamping Kiai Tunggul Wulung yakni Kangjeng Kyai Pare Anom itu, suasana seperti terang benderang sepanjang jalan. Aneh bin ajaib, dan demikianlah faktanya, hanya sehari kemudian tidak ada lagi orang meninggal karena penyakit pes. Hal ini mengingatkan kejadian serupa di tahun 1932. Pada waktu itu kota Yogyakarta juga dilanda wabah pes. Baru reda setelah pusaka itu dikelilingkan di dalam kota. Mengenai Kyai Ageng Tunggul Wulung adalah sobekan Kiswah penutup Ka’bah. Usianya sudah amat tua, sehingga dibuat duplikat pada tahun 1905. Meski hanya kembaran, namun setiap dikirabkan bendera ini selalu disertakan bersama yang asli yang tersimpan dalam kotak. Warna bendera ini biru kehitaman. Tepi bendera berwarna kuning. dua bulatan dan dua bulatan lonjong itu berwarna merah. Sedang bentuk seperti V itu berwarna putih. Kata Arab seperti Ayat itu artinya kurang lebih  damai, jangan memerangi kami.

Sumber lain mencatat bahwa pusaka Kyai Tunggul Wulung ini juga pernah dikirabkan pada 22 Januari 1932 pada jaman Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Yogyakarta ketika itu tengah dilanda penyakit muntah berak-muntaber. Sri Sultan dhawuh untuk mengibarkan dan mengarak Kangjeng Kyai Tunggul Wulung, karena banyak warga masyarakat yang meninggal terkena wabah penyakit tersebut. Prosesi terakhir sebelum itu, terjadi pada bulan Desember 1918, pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII. Pusaka Tunggul Wulung, ketika itu dikirabkan karena Yogyakarta terlanda penyakit ‘Flu Spanyol’. Kendati Kangjeng Kyai Tunggul Wulung sangat terkenal, tak banyak warga masyarakat yang tahu persis wujud pusaka penolak bala itu. Kangjeng Kiai Tunggul Wulung sebenarnya gabungan dua pusaka sekaligus yakni bendera berupa sobekan Kiswah yang dibuat bendera yang disebut Kyai Dudha dengan sebuah tombak yang bernama Kyai Slamet berpamor Wahyu Tumurun. Apabila Kangjeng Kiai Dudha diikatkan pada ujung Kyai Slamet, maka disebutlah gabungan dua pusaka itu sebagai Kangjeng Kyai Tunggul Wulung yang siap dikirab.

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (44)

Tunggul Wulung konon nama Senapati Majapahit pada pemerintahan Prabu Brawijaya. Sebenarnya nama senapati itu Tunggul Sabdojati Amongrogo, bergelar Ki Ageng Tunggul Wulung. Senapati Majapahit diam-diam meninggalkan kerajaan setelah Majapahit mengalami kemunduran. Ini berarti akhir abad 15.

Ki Ageng Tunggul Wulung berjalan kearah barat , dan berhenti di dusun Beji di daerah Sleman. Di dusun ini, tokoh sakti itu kemudian mendirikan padhepokan dan menjadi pandhita. Setelah sekian lama mesanggrah di situ kemudian Ki Ageng muksa (hilang bersama raganya) di bawah pohon Timoho di dekat Sungai Progo. Di lingkungan inilah kemudian dilestarikan dengan upacara bersih dan merti desa disertai dengan mengarak gunungan- tumpeng. Di samping itu juga dilaksanakan tirakatan, baik di makam maupun di rumah juru kunci serta napak tilas perjalanan Ki Ageng Tunggul Wulung di Dusun Tengahan, Sendang Agung, Minggir Sleman .

 

*) Penulis adalah Ki Bangunjiwa pelaku Budaya tinggal di Bangunjiwa, Kasihan Bantul

Lihat Juga

Di Balik Peringatan “Hadeging Karaton”

SETIAP TAHUN  Kota  Yogyakarta  senantiasa memperingati ulang tahunnya. Lantunan doa dan harapan biasanya terdengar menggema …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *