Jumat , 10 Juli 2020
Beranda » Peristiwa » Tarian Puisi di Bulan Purnama
Aurelia Theresia, Mukhlis & Marentine. serta Prit Timothy. (Foto: Ist)

Tarian Puisi di Bulan Purnama

Hujan yang mengguyur Yogya beberapa hari sebelumnya, sampai senin malam, hujan tidak reda. Padahal, senin 9 Maret 2020 digelar Sastra Bulan Purnama edisi 102, yang diisi peluncuran buku puisi “Batu Ibu’ karya Warih Wisatsana. Sejak pagi, hujan sudah mulai turun, dan hanya sesekali berhenti, dan matahari memperlihatkan wajahnya. Tetapi, mulai petang sekitar pukul 18.45 hujan kembali turun, bahkan semakin deras dan disertai angin, sehingga di beberapa tempat di wilayah DIY, ada pohon tumbang.

Ditengah hujan deras itu, Sastra Bulan Purnama terus diuadarakan, termasuk disiarkan melalui streaming youtube. Para penggemar sastra, khusnya komunitas Sastra Bulan Purnama, ditengah hujan deras, tidak surut semangatnya, mereka menerjang hujan untuk menikmati puisi dibacakan. Liek Suyanto, misalnya, seorang aktor teater senior, yang usianya sudah 70 tahun, menerobos hujan, dan terlihat bajunya basah. Ia memang termasuk rajin datang di Sastra Bulan Purnama, dan beberapakali ikut tampil baca puisi.

Sebelum hujan tiba, sore hari, tampak beberapa orang sudah terlihat ada yang hadir. Bahkan Joshua Igho penyair dari Magelang, yang akan tampil melagukan puisi karya Warih Wisatsana, sudah hadir sejak sore pukul 16.00, ketika hujan sudah agak  lama reda.

“Saya sengaja datang sore ketika hujan sudah mulai reda, karena saya dari Magelang dan hanya naik motor. Kalau datang malam, takut hujan lebat malah nggak jadi datang” kata Igho sambil duduk di angkringan Tembi Rumah Budaya.

Para pembaca puisi, yang tinggalnya di arah yang berbeda-beda, tampak sudah hadir setelah pukul 19.00,  justru saat hujan mulai deras, dan bebetapa tempat di Bantul, tak jauh dari Tembi Rumah Budaya, listrik mati. Warih Wisatsana sendiri, penyair yang bukunya diluncurkan, sebelum pukul 19.00 sudah sampai di Tembi Rumah Budaya.

Simak juga:  Pandu Siap Berperang

Pertunjukkan diawali pemutaran film, yang dinamakan dance poetry video, ‘City Solitude’, karya Vanesa Martida yang menafsirkan puisi karya Warih Wisatsana. Pemutaran film puisi ini, sebut saja, sekaligus untuk membangun suasana puitik, agar hadirin, di tengah hujan deras bisa menikmati puisi.

Selesai pemutaran film puisi, yang durasinya hanya sekitar 3 menit. Warih Wisatsana tampil membacakan 3 puisi karyanya, yang ada di dalam buku puisi ‘Batu Ibu’. Mungkin karena puisi karyanya, dan kiranya mengenal bentul suasana puisi. Penampilannya cukup menarik, dan menunjukkan, bahwa Warih sudah terbiasa tampil di panggung.

Pembaca puisi lainnya, setelah penampilan Warih, ialah seorang duta museum DIY dan kebetulan ditugaskan di Bantul, Daniella namanya. Penampilannya sekaligus untuk menyampaikan pesan, bahwa duta museum perlu sering menyapa publik, sekaligus mengenalkan museum kepada publik yang lebih luas.

Dua sejoli suami istri, Yuli Rukmi dan Kabul, duet membacakan puisi berjudul ‘Sehari Saja ‘Bebas’. Keduanya membaca puisi saling bergantian setiap satu baris puisi, dan pada alinea terakhir keduanya membaca puisi bersama. Kentik, menyusul membaca puisi berjudul ‘Ode Hari ini”.

“Wah, kali ini saya betul2 grogi membaca puisi dihadapan penyair” ujar Kentik.

Simak juga:  Kesan Indah Negeri Jiran, Malaysia

Nurul Indarti, seorang dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UGM, lagi-lagi tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Mungkin sudah terbiasa mengajar di depan kelas dan memberi seminar dibanyak tempat, terlihat sekali penampilan Nurul sangat tenang, dan menjiwai puisi yang dibacakan, sehingga puisinya terasa hidup.

Aurelia Theresia, yang membacakan puisi berjudul ‘Kaki Candi’, terlihat agak grogi, tetapi dia membaca puisi dengan cukup baik. Mungkin karena agak ragu2, sehingga terasa kurang los dalam membaca puisi.

Ni Made Purnamasari, yang sekarang menjabat Kepala Bentara Budaya Yogyakarta, membaca puisi karya Warih dengan mantap, sambil mengenang masa lalu, di masa kecil saat bersentuhan dengan Warih.

Prit Timothy, memang selalu mantap setiap  membaca puisi. Karena dia terbiasa tampil di panggung, termasuk di panggung film,  membuat Prit menguasai panggung, dan menyelami puisi yang dibacakan, sehingga dengan ringan dan rileks, puisi yang dibacakan terasa enak untuk didengarkan.

Puisi karya Warih Wisatsana memang tidak hanya dibacakan, tetapi juga dilagukan oleh Joshua Igho, seorang penyair dari Magelang, yang memang mempunyai spesialisasi mengolah puisi menjadi lagu.

Selain dilagukan, puisi berjudul ‘Kaki Merapi’ karya Warih, ditafsirkan oleh Wisnu Dermawan, seorang mahasiswa S2 ISI Yogya, ditafsirkan dalam bentuk tarian. Wisnu sebagai koregrafernya dan ditarikan oleh Mukhlis dan Marentine serta petikan gitar sebagai ilustrasi musik oleh Ricky O. Hernamsyah.

Garapan tari puisi karya Wisnu menghidupkan puisi Warih, sehingga puisinya memiliki dimensi lain. (*)

Lihat Juga

Dari Balkon Apartemen Lantai 6 dalam Poetry Reading from Home

Fajar Santoadi, orang Yogya dan pernah mengajar di Universitas Sanata Dharma, kini tinggal di Malaysia. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *