Beranda » Humaniora » Sultan Nuku, The Lord of Fortune
Sultan Nuku. (Foto: tokoh.id)

Sultan Nuku, The Lord of Fortune

SULTAN Nuku Muhammad Amiruddin merupakan salah satu Pahlawan Nasional yang berasal dari Timur Indonesia, Maluku Utara. Lahir pada tahun 1738, Pangeran Nuku merupakan putra kesayangan Sultan Muhammad Mashud Jamaluddin, pemimpin Kesultanan Tidore yang bertakhta sejak 1757.

Sultan Jamaluddin sering tak sepakat dengan kepentingan VOC Belanda yang ingin menguasai perdagangan di Maluku. Hingga pada Mei 1779 Sultan Jamaluddin ditangkap atas perintah Gubernur Jenderal VOC. Kemudian ia dibawa ke Batavia untuk ditahan, lalu diasingkan ke Pulau Sailan atau Sri Lanka hingga wafat di sana.

Sebagai gantinya Belanda menunjuk Patra Alam, adik dari Sultan Jamaluddin, sebagai Sultan Tidore yang baru. Kendati sudah menjadi Raja, namun Sultan Patra Alam belum tenang karena keberadaan Pangeran Amiruddin alias Nuku dan adiknya yang bernama Pangeran Kamaluddin. Jelas, dua pangeran yang sebenarnya merupakan pewaris sah tahta Kesultanan Tidore itu merupakan ancaman bagi kekuasaannya.

Dengan dukungan dari Belanda, Sultan Patra Alam memerintahkan penangkapan terhadap kedua keponakannya itu. Namun keberuntungan berpihak kepada Pangeran Nuku sehingga bisa lolos, sedangkan adiknya, PangeranKamaluddin tertangkap.

 

Raja Perang

Lalu Pangeran Nuku melarikan diri ke Halmahera bagian selatan. Ia pun langsung mempersiapkan diri untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda sekaligus pamannya yang  menduduki singgasana Tidore. Pangeran Nuku mulai menghimpun kekuatan dengan mengirimkan utusan ke tempat-tempat yang kala itu termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore, termasuk  Seram bagian timur hingga Kepulauan Raja Ampat di Papua. Para pemimpin lokal di daerah-daerah tersebut ternyata bersedia mendukung perjuangan Pangeran  Nuku. Mereka memandang Patra Alam tidak berhak menjabat sebagai Sultan karena hanya merupakan keturunan raja muda. Sebaliknya, Pangeran Nuku dinilai paling layak menduduki tahta lantaran ia adalah anak laki-laki pertama penguasa Tidore sebelumnya, yakni Sultan Jamaluddin. Atas dasar itulah maka pada 11 November 1781 Pangeran Nuku diangkat sebagai pemimpin oleh para pendukungnya di tanah pelarian dengan gelar Sri Maha Tuan Sultan Amiruddin Syaifuddin Syah Kaicil Paparangan. Istilah “Kaicil Paparangan” berarti “Raja Perang” yang sekaligus menjadi sinyal bahwa Pangeran Nuku siap berperang demi menuntut haknya dan mengusir kaum penjajah dari Maluku Utara.

Simak juga:  Pemberdayaan Lanjut Usia Melalui Keahlian Mendongeng

Nuku tidak hanya dibantu oleh raja-raja kecil di sebagian kawasan Indonesia Timur saja. Ia juga melibatkan orang-orang Mindanao (kini termasuk wilayah Filipina) dan mendapat bantuan dari Inggris yang memang menjadi pesaing terkuat Belanda. Pada tahun 1783 pasukan Nuku menyerbu pos Belanda di Halmahera dan memperoleh hasi lgemilang. VOC yang murka mencoba membalas serangan namun selalu gagal karena Nuku menerapkan strategi pertempuran laut dengan sangat baik yang membuat Belanda kerepotan dan mengalami kerugian besar. Di tahun yang sama, Belanda mencopot Sultan Patra Alam dari singgasananya lalu membuangnya ke Jawa. Salah satu sebabnya adalah lantaran Patra Alam atas nama Kesultanan Tidore terindikasi telah melakukan kerjasama rempah-rempah dengan pihak lain tanpa sepengetahuan VOC. Tidak ada pilihan lain bagi Belanda selain menaikkan Pangeran Kamaluddin, adik Pangeran Nuku, sebagai Sultan Tidore berikutnya. Sementara itu, perlawanan  yang  dilakukan Nuku dari negeri pelarian masih berlanjut dan berlangsung cukup lama.

 

The Lord of  Fortune

Salah  satu pertempuran penting terjadi pada 1791. Belanda yang mendatangkan bantuan dari Ambon menggempur pasukan Nuku. Namun, serangan tersebut berhasil diatasi, bahkan Belanda terpaksa mundur. Perang demi perang berlangsung dalam beberapa tahun berikutnya. Selama masa genting itu, upaya Belanda untuk menaklukkan Nuku tidak pernah membuahkan hasil. Sebaliknya Nuku berulangkali membuat Belanda kewalahan. Itulah alasan mengapa Nuku diserahi gelar sebagai Jou Barakati atau “Tuan yang Selalu Diberkati”. Orang-orang Inggris, yang mendukung perlawanan Nuku terhadap Belanda, menjulukinya The Lord of  Fortune sebagai tanda pujian terhadapnya. Tanggal 12 April 1797 angkatan laut Nuku yang terdiri dari 79 kapal dan sebuah kapal Inggris muncul di Tidore. Lewat serangan massal, Tidore akhirnya bisa direbut. Belanda terpaksa angkat kaki bersama Sultan Kamaluddin yang melarikan diri ke Ternate. Sehari kemudian, tanggal 13 April 1797, Pangeran Nuku dinobatkan menjadi Sultan Tidore dengan gelar Sultan Syaidul Jehad Amiruddin Syaifuddin Syah Muhammad El Mab’us Kaicil Paparangan Jou Barakati Nuku. Dari Ternate, Belanda yang rupanya belum menyerah melancarkan serangan ke Tidore pada 15 Juli 1799 dengan tujuan  menduduki Tidore dan sekaligus menangkap Sultan Nuku. Namun, justru Belanda yang dipukul mundur. Dua tahun berselang, giliran Sultan Nuku yang mengirim serangan balasan ke Ternate. Ratusan perahu yang membawa lebih dari 5 ribu prajurit mengepung benteng Belanda di Ternate. Belanda menyerah dan terpaksa hengkang ke Ambon. Maluku Utara untuk sementara terbebas dari cengkeraman penjajah berkat andil besar Sultan Nuku. Di bawah kepemimpinannya, Tidore kembali meraih kejayaan. Wilayahnya meliputi Tidore, sebagian Halmahera, Seram Timur, hingga ke pesisir barat serta utara Papua, termasuk Raja Ampat dan sekitarnya.

Simak juga:  Tedy Rendra Membaca Puisi Si Burung Merak

Di tengah suasana damai dan tenang, Sultan Nuku berpulang pada 14 November 1805 dalam usia 67 tahun. The Lord of Fortune mewariskan masa-masa emas Kesultanan Tidore sebagai negeri yang diberkati dan berdaulat. ***  (Siti Mutiah Ali)

 

          *  Siti Mutiah Ali, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *