Kamis , 22 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Suatu Ketika, Perjalanan ke Merbabu
Ini moment terakhir yang sempat diabadikan di pos 3. (Foto: Ist)

Suatu Ketika, Perjalanan ke Merbabu

PADA suatu hari saya berencana muncak ke Gunung Kembang, tapi ternyata teman saya mengajak ke Gunung Merbabu, bertepatan juga hari pertama dibuka tanggal 01 Februari 2020, setelah beberapa bulan ditutup akibat kebakaran. Saya dan tiga orang teman (Ardi, Aris, Didin) berangkat dari Yogya malam Sabtu kira-kira pukul 20.30, sampai di area Basecamp Wekas, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, sekitar pukul 23.00 (perjalanan Yogya-Wekas dua jam 30 menit).

Sesampainya di sana tidak ada satu pun basecamp yang buka, selain waktu sudah hampir larut malam, juga karena keesokan harinya jalur baru resmi dibuka sesuai dengan surat edarannya pada tanggal 01 Februari 2020 yang diposting di beberapa akun Instagram pendakian gunung.

Kami memutuskan untuk tidur di salah satu masjid yang letaknya hanya beberapa meter dari basecamp, tapi ternyata ada seorang Bapak yang menawari tempat menginap yang tak lain adalah rumahnya Bapak itu sendiri. Lalu sesampainya di rumahnya kami disuguhi teh panas, dan sempat ngobrol-ngobrol sebentar seputar pendakian via Wekas. Tak lama setelah itu kami pun tidur karna rencana akan naik esok paginya.

Setelah beres simaksi dan packing ulang apa saja yang akan dibawa, kami pun langsung bergegas berjalan dengan penuh semangat, disertai doa dan juga harapan dalam setiap langkah kaki. Start perjalanan dari basecamp pukul 08.30. Kami menikmati setiap sudut keindahan pemandangan alamnya, tak lupa juga sesekali kami berhenti untuk sekedar mengabadikan momen dalam bentuk foto atau video. Tak terasa kami sampai di pos 2 sekitar pukul 11.15, lalu memutuskan untuk istirahat dan shalat dulu di pos 2 itu, dan akan melanjutkan perjalanan selesai shalat.

Tapi tak lama setelah itu ada dua orang yang saya kira baru turun dari puncak, tapi ternyata setelah ditanya mereka salah jalur dan nyasar (sampai ke air terjun). Mereka tadinya mau tektokan (tidak ngecamp) naik lewat Genikan yang hanya bersebelahan dengan jalur via Wekas. Setelah berbincang, mereka memberi saran ke kami agar menunggu pendaki yang lain jika ingin melanjutkan perjalanan, karena jalur yang mereka lewati itu bukan jalur yang ke puncak melainkan ke air terjun. Seusai kami shalat, dua orang itu pamit mau langsung bergegas turun, karena harus pulang ke Jakarta, dan pada hari Seninnya sudah masuk kerja.

Simak juga:  SERI PANCASILA (8): Harga Mati NKRI

Tapi tak lama kemudian setelah dua orang itu turun, ada tiga pendaki lain yang baru sampai di pos 2, kami pun bercerita seputar dua orang yang salah jalur tadi. Akhirnya karena hujan kami memutuskan untuk bangun tenda dan akan melanjutkan perjalanan esok harinya, sembari menunggu juga pendaki yang paham betul terkait dengan jalur yang menuju puncak.

Semakin malam ternyata semakin banyak pendaki lain yang juga memilih untuk ngecamp di pos 2, tapi ada juga sebagian yang memilih untuk tetap lanjut sampai pos 3. Namun hampir semua balik lagi ke pos 2, karena salah jalur juga. Hanya ada satu kelompok yang berangkat pukul 22.00 yang tidak balik lagi, yang salah satu orang dari kelompok tesebut sempat meminjamkan kami kompor untuk memasak, karena kompor yang kami bawa rusak. Entah jalur mana mereka pilih untuk sampai puncak, lewat jalur yang benar atau jalur salah.

Pagi pun tiba, dan kami sebenarnya masih ragu untuk melanjutkan perjalanan ke puncak, karena malamnya banyak pendaki yang balik lagi diakibatkan salah jalur. Tapi dengan segala pertimbangan akhirnya kami memutuskan untuk tetap naik puncak (summit attack), karena kebetulan kami gabung dengan kelompok anak Banten (pecinta alam) yang memang sudah terbiasa naik gunung. Selain itu juga ada Om Ridho dari Solo Hiking dan bersedia untuk summit attack bersama kami. Kami pun langsung bergegas berangkat dengan keraguan lewat jalur yang orang-orang juga lewati sebelumnya, karena memang hanya itu saja jalur setapak yang nampak jelas.

 

Salah Jalur dan Kehujanan

Di tengah perjalanan kami bertemu dengan pendaki yang juga balik karena salah jalur. Nah, dari situ kami sudah mulai tambah ragu lagi kalau jalur yang kami lewati bukan jalur yang ke puncak. Akhirnya tanpa lama-lama kami memutuskan untuk balik ke tenda pos 2, sambil cari-cari jalur lain selain jalur yang telah dilewati. Tak lama setelah kami semua sampai di tenda, ada salah satu dari kami yang menyusuri rumput-rumput di belakang tenda. Dan benar saja, dia berhasil menemukan jalur yang sepertinya menuju ke puncak. Tanpa ragu kami yang berjumlah belasan orang langsung lewat jalur itu. Ternyata benar jalur itu yang menuju ke puncak, karena di tengah perjalanan ditemui petunjuk arah (patokan) yang biasanya memang ditemui di setiap jalur pendakian.

Simak juga:  FEATURE, dari Fakta, Kepekaan hingga Imajinasi

Sesampainya pos 3, tiba-tiba turun hujan. Kami hanya sisa berlima saja, karena yang lain sudah pada di depan, dan sialnya salah satu dari kami ada yang tidak bawa jas hujan, termasuk saya. Untung saja ada  Om Ridho yang bersedia memberi kami tempat berteduh di bawah jas hujannya. Meski kami sempat beberapa kali merasa tidak enak karena tahu Om Ridho ingin melanjutkan perjalanannya sampai puncak, tapi di sisi lain mungkin ia tidak tega meninggalkan dan membiarkan kami kehujanan begitu saja.

Kami berdiam diri sekitar 30 menit, berhubung hujannya tidak kunjung reda. Anginnya kencang, ditambah lagi suara petir pas di atas kepala. Akhirnya diputuskan untuk turun, karena kalau tidak, kemungkinan salah satu dari kami bisa saja ada yang mengalami hipotermia. Untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, akhirnya kami pun turun dengan perasaan kecewa, dan juga badan yang menggigil akibat kedinginan. Sesampai di pos 2 kami beres-beres dan langsung segera turun untuk kembali ke basecamp.

Terimakasih banyak untuk teman-teman yang sudah temani selama perjalanan. Terima kasih juga untuk Om Ridho yang sudah mengorbankan puncak demi menemani perjalanan kami, semoga kebaikannya kalian semua dibalas oleh Tuhan. *** (Ahmad Rifqil Ilmi)

 

* Ahmad Rifqil Ilmi, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

CUCU HB X RESAH INI ALASANNYA

Cucu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Raden Mas Gustilantika Marrel Suryokusumo resah dengan kelestarian alam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *