Beranda » Humaniora » Sang Imigran Pendiri Permata Dunia
Masjid Cordova. (Foto: net)

Sang Imigran Pendiri Permata Dunia

IBUKOTA Damaskus dalam kondisi kacau. Pemberontakan Bani Abbas telah sampai puncaknya. Kota-kota besar berhasil direbut, masyarakat luas sudah terpengaruh dan mendukung pemberontakan ini. Titah pun diberikan, yang kelak akan tercatat dalam tinta sejarah. Titah itu berbunyi, ”Buru semua keturunan Umayyah!!”

Di tengah kondisi yang mengerikan itu, seorang pemuda berumur 19 tahun bernama Abdurrahman bin Muawiyah bin Hisyam bin Abdul Malik berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan Abbasiyah. Bersama dengan seorang pendamping setianya bernama Baddar, mereka berusaha untuk kabur menuju wilayah Maghrib (sekarang Maroko dan sekitarnya) menemui sanak saudara dari ibu mereka yang berasal dari daerah Maghrib.

Kehidupan ala istana yang dirasakan Abdurrahman selama ini beruah 180 derajat. Terlunta-lunta dalam pelarian panjang menuju Maghrib benar-benar menempa mental sorang pemuda 19 tahun itu. Kelak, perjalanan panjang Abdurrahman dalam pelarian akan menjadi sebuah cerita legendaris yang akan menginspirasi generasi berikutnya.

Bertolak dari Syam, mereka berjalan secara sembunyi-sembunyi menuju ke Iraq. Sesampainya di tepian sungai Eufrat, mereka berhasil terkejar oleh pasukan Abbasiyah. Abdurrahman bin Muawwiyah terus melanjutkan perjalannya menyebrangi sungai Eufrat. Ia berhasil lolos dari kejaran pasukan Abbasiyah dan terus melanjutkan perjalanannya. Melintasi panasnya Gurun Syria menuju ke Palestina, melewati gersangnya Gurun Sinai, Memutari kota-kota besar, melewati bukit-bukit berbatu dan sahara tandus yang sangat terik. Nyawanya senantiasa terancam setiap saat oleh pasukan Abbasiyah yang berusaha mencarinya. Rasa lapar, haus, letih, was-was senantiasa menghantuinya selama pelarian. Tapi tak pernah sedetikpun dalam benak seorang Abdurrahman untuk menyerah.Sejarah mencatat masa keemasan dan keagungan dinasti Umayyah yang diraih oleh nenek moyangnya senantiasa menempel lekat dalam benak Abdurrahman. Semangat itu menggelora dalam dadanyauntuk mewujudkan kembali keagungan Dinasti Umayyah di Andalusia.

Sesampainya di Burqah, Libya, ia bersembunyi berbulan-bulan lamanya sampai masa pengusiran dan pencarian mereda. Setelah kondisi membaik ia melanjutkan perjalanan ke Qairuwan, Maroko. Pada saat itu daerah Maghrib tunduk kepada Emir Andalusia yang berkedudukan di Toledo. Maka kemudian dikenallah Abdurrahman dengan julukan “Ad-Dakhil” yang berarti “masuk” atau dapat diartikan Sebagai “Abdurrahman sang Imigran”.


Berbekal Pasukan Budak

Simak juga:  SERI PANCASILA (14): Pancasila Setengah Hati

Sesampainya di Maroko, iya bercerita kepada sanak saudaranya mengenai perihal ia datang. Dengan berbekal pasukan budak yang berhasil ia himpun, ia mengawasi kondisi di Andalusia dari Maroko. Abdurrahman mengutus pendamping setianya untuk mempelajari situasi dan peta kekuatan yang menguasai Andalusia. Ia juga mengirimkan surat kepada para pendukung Bani Umayyah yang masih loyal dan benci kepada pemerintahan Andalusia saat itu, memaparkan ide dan siasatnya untuk kembali menaklukkan Andalusia. Semua gerakan itu dilakukan oleh Abdurrahman ad-Dakhil secara sembunyi-sembunyi bertahun lamanya. Waktu yang tepat pun datang, Abdurrahman ad-Dakhil menyiapkan seluruh kekuatannya untuk menyeberangi Semenanjung Iberia, menaklukkan Andalusia dan mendirikan Dinasti Umayyah baru.

Sesampainya Abdurrahman Ad-dakhil di Andalusia, ia mengumpulkan para pendukungnya, para pendukung Bani Umayyah, Kabilah Berber, dan beberapa kabilah yang menentang Emir Yusuf bin Abdurrahman Al-Fihri-Emir Andalusia saat itu. Juga beberapa kerabat Umayyah yang melarikan diri ke Andalusia ikut bergabung bersama Abdurrahman ad-Dakhil melawan Pemerintah Andalusia. Sebelum perang dimulai, Abdurrahman mengirim surat kepada Emir Yusuf untuk menyerahkan kekuasaan secara damai. Akan tetapi surat itu ditolak oleh Emir Yusuf sehingga pertempuran pun pecah.

Dengan mudah Abdurrahman mengalahkan pasukan Andalus pada saat itu, sehingga Cordova berhasil ditaklukkan dan dijadikan ibukota oleh Abdurrahman. Sebelum resmi dijadikan ibukota, Abdurrahman tinggal diluar kota Cordova dan memberikan waktu tiga hari bagi keluarga Yusuf al-Fihri untuk mengumpulkan harta mereka dan keluar dengan aman. Ini menjadi awal catatan sejarah kemuliaan dan keharuman  namanya di Andalusia.

Pada tahun 763 M, Abdurrahman menyatakan lepas dari Baghdad, ibu kota Daulah Abbasiyah pada saat itu. Kemudian mulailah Abdurrahman menjadi Emir bagi umat muslim di Andalusia. Ia sadar bahwa wilayah Andalusia sangat mungkin diserang dari berbagai sisi, maka hal pertama yang dibangun oleh Abdurrahman adalah angkatan militer. Ia membentuk angkatan militer tidak kurang dari empat puluh ribu personel. Andalusia yang dikelilingi oleh laut dari tiga penjuru pun perlu diperhatikan. Ia membangun armada laut pertama di Andalusia dan menjadi armada perang laut terkuat di Eropa dan Laut Tengah.

Simak juga:  Santrinya Tuhan dan Pusar Nabi Adam (Bedhol Negoro, 6)

 

Saingi Baghdad

Tidak hanya dalam urusan militer, hampir setiap aspek dibawah pemerintahan Abdurrahman berkembang sangat pesat. Bahkan Cordova mampu menyaingi Peradaban Baghdad dan Konstantinopel dalam aspek kemegahan, kemewahan, perkembangan ilmu pengetahuan dan seni. Cordova kemudian dikenal oleh dunia barat sebagai “Permata Dunia.”

Abdurrahman ad-Dakhil membangun istana yang megah dan Masjid Agung yang terkenal di Cordova, yaitu Masjid Cordova dengan luas 17000 meter. Dibangung dengan biaya 800.000 dinar, masjid ini terbesar dan termegah melebihi keindahan masjid-masjid di belahan timur dunia Islam, dengan menara yang tingginya 40 dzira’, kubahnya sebelah dalam terbuat dari kayu yang diukir indah. Tiangnya berjumlah 1.093 yang dihiasi dengan batu marmer berwarna seperti catur. Di dalamnya terdapat 19 ruangan yang luas dan panjang dan terdapat 38 ruangan biasa.

Abdurrahman ad-Dakhil memerintah selama 32 tahun. Wafat pada tahun 788 M dengan usia 61 tahun. Seorang pemuda berumur 19 tahun yang melakukan pelarian panjang menjadi seorang penguasa yang disegani dunia. Ia berhasil mengulangi kejayaan masa Dinasti Umayyah dan meninggalkan jejak besar dalam sejarah kekuasaan Islam di Andalusia. *** (Muhammad Farhan Mujahid Arrasyad)

 

* Muhammad Farhan Mujahid Arrasyad, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *