Minggu , 29 November 2020
Beranda » Sastra » Puisi di Antara Taman, APD dan Manekin
Sindi Novitasari (Ist)

Puisi di Antara Taman, APD dan Manekin

Di masa pandemi covid 19 ini, membaca puisi tidak harus di panggung seperti biasa dilakukan selama ini. Namun bisa mengambil tempat di mana saja, di taman misalnya, di ruang tamu atau malah di tepi jembatan, atau di tepi sawah, seperti selama ini telah berlangsung di Sastra Bulan Purnama dalam seri Poetry Reading From Home

Sastra Bulan Purnama edisi 110, yang berlangsung Senin 2 Nopember 2020, pkl. 19.30 di kanal youtube Sastra Bulan Purnama, Poetry Reading From Home seri 9, para pembaca mengambil lokasi yang berbeda-beda, dan latar belakang yang  tidak sama. Rita Ratnawulan misalnya, yang tinggal di Jakarta mengambil taman di dekat rumahnya sebagai latar belakang dalam membaca puisi.

Lain lagi dengan MM. Tri Suwarni, tinggal di Magelang yang lebih akrab dipanggil Titin, sehari-harinya sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas, ia mengenakan APD dalam membaca puisi, sekaligus untuk menegaskan bahwa protokol kesehatan penting untuk dilakukan. Mengambil lokasi di Puskemas, Titin membacakan dua puisi di Sastra Bulan Purnama.

Ada juga yang membaca puisi dengan mengambil latar belakang menekine, barangkali di rumahnya sebagai butik, dan ada menekine, sehingga Sindi Novitasari membaca puisi sambil berdekatan denga menekine. Tedi Kusairi lain lagi, dia membaca puisi di ruang tamu rumahnya, dan hiasan drawing yang memvisualkan wajahnya menjadi dekorasi dalam membaca, tersedia pula segelas kopi yang tinggal separuh.

Simak juga:  Para Penyair di Bulan Purnama

Ada yang memilih lokasi lain, dengan latar belakang buku yang dipajang di rak, setidaknya memberi kesan, bahwa penyair memang perlu banyak membaca, atau setidaknya memiliki koleksi buku, hal ini setidaknya bisa dilihat dari penampilan 3  penyair Yogya, ialah Anes Prabu Sajarwo, Latief S. Nugroho dan S. Arimba. Buku, puisi dan penyair seolah saling terkait dan tak bisa dipisahkan.

Ada juga penyair membaca puisi dengan mengambil latar belakang jendela antik yang menjadi asesori dinding, dalam arti, jendela hanya ditempelkan di dinding sebagaimana lukisan, dan membaca puisi sambil mengenakan pakaian Jawa, hal ini dilakukan oleh Joko Pinurbo.

Pilihan latar belakang dan lokasi, dari penyair yang tampil di Sastra Bulan Purnama, karena sifatnya masih Poetry Reading From Home, sehingga setiap penyair bisa mengambil lokasi di mana saja, termasuk tidak harus keluar dari rumah.

Selama masa pandemi covid 19, yang sudah berjalan selama 8 bulan, Sastra Bulan Purnama, yang selama ini, sudah 9 tahun diselenggarakan, selalu dilakukan di ruang terbuka baik berupa Amphytheater atau di pendhapa, setidaknya ketika musim hujan tiba, SBP, kependekan dari Sastra Bulan Purnama tetap terus berjalan.

Simak juga:  Serat Sabda Tama Petunjuk Utama Kehidupan

Tidak hanya membaca puisi yang ditampilkan, tetapi juga lagu puisi, seperti apa yang dilakukan Kawan Doni, yang menggarap puisi S.Arimba dan Umi Kulsum menjadi lagu,. Dan ditampilkan di Sastra Bulan Purnama.

Selain penyair yang tampil membaca puisi, ditampilkan juga pembaca puisi tamu. Yang membawakan puisi karya penyair lain. Misalnya, Sri Suryawidati, yang pernah menjabat sebagai Bupati Bantul periode 2010-2015, membacakan puisi karya Umi Kulsum. Rita Ratnawulan (Jakarta) membacakan 3 puisi karya Ons Untoro dan MM.Tri Suwarni (Magelang) membacakan 2 puisi karya penyair yang sama.

Penyair lainnya membacakan puisi karya sendiri. Ada yang membacakan 3 puisi, 1 puisi dan 2 puisi. Dari 14 penampil, termasuk 3 pembaca tamu dan Kawan Doni yang mengalunkan lagu puisi, durasi waktunya satu jam, Padahal, biasanya, jika pentas dilakukan secara offline, memerlukan waktu 2-2,5 jam, sehingga SBP yang biasanya dimulai pukul 20.00 akan selesai puku 22.30.

Untuk kali ini, pada Sastra Bulan Purnama edisi 110, Poetry  Reading  From Home seri 9, menampilkan penyair dari Yogyakarta, tetapi ada pembaca tamu dari dua kota yang berbeda, yakni Jakarta dan Magelang. Padahal, selama ini, dan juga 8 bulan ini, para penampil selalu datang dari kota yang berbeda-beda.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *