Sabtu , 16 Oktober 2021
Beranda » Event » Puisi dan Cerpen di Tengah Pandami
Herlinatiens. (Ist)

Puisi dan Cerpen di Tengah Pandami

Masih dalam situasi pandemi covid 19 yang belum punah, dan tentu saja tidak berani berkerumun. Maka, Sastra Bulan Purnama  (SBP) edisi 111, digelar secara virtual, yang diberi tajuk Poetry Reading From Home seri 10. SBP kali ini akan diisi pembacaan cerpen dan puisi, dan akan ditayang melalui youtube Sastra Bulan Purnama secara live, Senin 1 Desember 2020, pkl. 19.30.

Puisi dan cerpen yang ditulis oleh para penulis puisi dan cerpen dari kota yang berbeda-beda, dan semuanya perempuan, mengambil situasi pandemi sebagai  bahan untuk ditulis. Ada yang menulis puisi seperti Rosana Hariyanti (Malang), sehari-harinya sebagai pengajar di FIB, Unibraw, Retno Darsi Iswandari, perempuan penyair asal Yogya, yang sekarang tinggal di Australia, Ana Ratri, Ratih Alsaira, Sashmytha Wulandari dan Umi Kulsum, semuanya dari Yogyakarta.

Para penulis cerpen, Asmarani Februandari, Dyah Merta, Herlinatiens, Ninuk Retno Raras, Savitri Damayanti (Yogyakarta), Yeni Mada (Pontianak) dan Yuliani Kumudaswari (Semarang).

Puisi dan cerpen yang mereka tulis dikumpulkan untuk diterbitkan menjadi buku, dan diberi judul Nyonya Pandemi, yang diambilkan dari judul cerpen karya Ninuk Retno Raras. Karya-karya tersebut akan dibacakan oleh penulisnya, dan khusus karya cerpen tidak dibacakan secara utuh, tetapi diambil bagian yang menarik untuk dibacakan, sehingga tidak memerlukan waktu panjang.

Simak juga:  Kepada Hujan di Sastra Bulan Purnama

Selain itu ada lagu puisi yang digarap oleh mahasiswa dari FIB Unibraw. Dua puisi Rosana Hariyanti akan digarap menjadi lagu oleh tiga mahasiswa. Satu Mahasiswa menggarap satu puisi namanya Ibriza Fasti Ifhami, dan dua mahasiswa menggarap satu puisi judul yang berbeda, nama keduanya Gazarasta Malibu dan Erlangga Diwa.

“Awalnya, mereka akan saya minta untuk mengiringi saya membaca puisi, tetapi mereka meminta akan membuat lagu dari puisi saya, setelah lagu puisinya selesai dan saya dengarkan, saya menjadi tersipu dan mbrebesmili, kok apik” ujar Rosana Hariyanti wajahnya berbunga-bunga.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyampaikan, tidak seperti puisi yang setiap acara sastra bulan purnama pasti dibacakan, cerpen memang pernah dibacakan, tetapi tidak rutin setiap bulan. Kali ini, sengaja cerpen diberi ruang lebih banyak, dan para penulis cerpen akan memilih bagian yang dianggap menarik untuk dibacakan.

“Membacakan cerpen memang memerlukan waktu sedikit panjang dibandingkan membacakan puisi. Oleh sebab itu, pembaca cerpen diminta untuk memenggal bagian yang menarik dari cerpennya, dan kemudian dibacakan” ujar Ons Untoro.

Simak juga:  ‘Apokalipsa Kata’ di 10 Tahun Bulan Purnama

Selama 9 tahun, Sastra Bulan Purnama digelar secara offline di Tembi Rumah Budaya, dengan mengambil dua tempat. Jika musim penghujan tiba, Sastra Bulan Purnama digelar di Pendhapa Tembi Rumah Budaya, dan ketika musim kemarau, Sastra Bulan Purnama digelar di Amphytheater Tembi Rumah Budaya.

“Jadi, sepanjang tahun, setiap bulan Sastra Bulan Purnama selalu digelar menghadirkan penyair dari berbagai kota” kata Ons Untoro

Di masa pandemi covid 19 ini, ada larangan untuk berkumpul  agar tidak menyebarkan penularan virus covid 19, sejak bulan April 2020 Sastra Bulan Purnama digelar secara virtual melalui youtube sastra bulan purnama.

“Jadi, sudah 9 bulan sempai edisi Desember 2020 ini SBP diselenggarakan secara daring, sekaligus supaya pergelaran sastra tidak menjadi klaster penularan covid 19” ujar Ons Untoro. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *