Jumat , 10 Juli 2020
Beranda » Event » Poetry Reading From Home Seri 3 Diisi Pantun Karya Simon Hate
Butet Kartaredjasa. (Foto: Ist)

Poetry Reading From Home Seri 3 Diisi Pantun Karya Simon Hate

Sastra Bulan Purnama edisi 105, dalam Poetry Reading From Home seri 3  diisi pembacaan pantun  karya Simon Hate berjudul ‘Hamba Tak Layak Menjadi Budak’, akan dibacakan oleh para aktor teater yang pernah aktif di  teater Dinasti Yogyakarta ialah Joko Kamto, KRT Agus Istijantonegoro, Butet Kartaredjasa , Eko Winardi, yang sekaligus sebagai sutradara dalam pertunjukan ini dan Isti Nugroho. Sejak tahun 1980-an mereka sudah saling bersahabat sampai sekarang. Dua orang di antaranya tinggal di Jakarta, yang lain tinggal di Yogyakarta.

Acara  diselenggarakan secara live  di youtube Sastra Bulan Purnama, jumat, 12 Juni 2020, pukul. 19.30. Masing-masing  membacakan pantun dalam judul yang berbeda, dan keseluruhan pantun karya Simon Hate, seorang penyair, yang  pernah aktif di teater Dinasti, dan dikenal sebagai seorang aktivis LSM sampai sekarang.

Simon Hate, selaku penulis pantun menyebutkan, pantun ini saya tulis sebagai bagian dari gerakan mengembalikan puisi ke dalam kehidupan. sudah terlalu lama puisi jauh dari kehidupan sehari-hari. karenanya perlu ada karya tulis yang bicara mengenai kehidupan sehari-hari, dan dalam bentuk yang juga dikenal masyarakat secara luas, dalam hal ini pantun.

“Dengan demikian, puisi bisa akrab kembali dengan masyarakat, dan dengan demikian, masyarakat juga berkesempatan untuk merenungkan makna kehidupannya”, kata Simon

Para pembaca pantun jawa, yang berjudul ‘Hamba Tak Layak Menjadi Budak’ adalah orang2 teater, yang sudah lama bergelut dengan dunia teater dan dikenal sebagai aktor, sampai sekarang mereka masih bergiat teater, selain mempunyai kegiatan sosial lainnya. Joko Kamto misanya, aktor dari teater Dinasti, sekarang aktif di Komunitas Kyai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Najib, KRT Agus Istijantonegoro, pernah aktif di teater Dinasti, dan sekarang menekuni profesi penulis, Eko Winardi, alumni jurusan teater ISI Yogya, dan sekarang aktif di teater Perdikan pimpinan Cak Nun, juga memiliki kegiatan pengembangan pertanian.

Simak juga:  Metruk Kanthong Bolong

Pembaca yang lain, Isti Nugroho, selain pernah aktif sebagai penyair, sekarang lebih dikenal sebagai seorang aktvitis dan mengelola Rumah Dokumentasi Politik Guntur 49 di Jakarta, dan pembaca satunya, Butet Kartaredjasa, selain pernah aktif di teater Dinasti, dan dikenal sebagai aktor, dia sekarang kembali aktif menjadi seorang pelukis, satu aktivitas yang pernah dipelajari sejak masih muda, dan agak lama ditinggalkan.

Karena format pertunjukannya tidak di panggung seperti biasanya  Sastra Bulan Purnama diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya. Di masa pendemi ini, dialihkan di area digital. Mereka mengambil gambar di bebarapa lokasi, untuk memberi suasana berbeda pada setiap momentum, dan masing-masing mengambil gambar di lokasi berbeda, Isti Nugroho membaca di Jakarta, dan yang lain di Yogyakarta.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyampaikan, bahwa pantun karya Simon ini merupakan puisi yang agak panjang, dan terdiri dari beberapa bab, sehingga masing-masing pembaca memilih judul dari bab yang berbeda, sehingga kisahnya nyambung, bukan terlepas-lepas seperti umumnya puisi.

Simak juga:  Mencari Jati Diri di Tanah Kelahiran Kedua

“Jadi, pertunjukan ini seperti kisah drama, hanya ditulis dalam bentuk pantun, tetapi ceritanya runtut” ujar Ons Untoro.

Eko Winardi, yang bertindak selaku sutradara menyebutkan, bahwa pertunjukan pantun karya Simon ini, akan bisa dilihat secara enak, dan bukan sekedar membaca puisi sebagaimana laiknya orang membaca puisi.

“Kami berusaha memperhitungkan dalam penggarapan, sehingga meski dilihat melalui layar, tetapi terasa nyaman dan tidak menjemukan” ujar Eko Winardi.

Sejak pertemuan dalam bentuk kerumuman tidak diperbolehkan, karena untuk memutus mata rantai covid 19, Sastra Bulan Purnama, mulai April 2020 dipindahkan secara digital di youtube dan diberi tajuk Poetry Reading From Home.

“Tetapi membaca puisi tidak dilarang, asal tidak dalam bentuk kerumunan berupa pertunjukan di panggung yang menghadirkan orang untuk datang melihat” kata Ons Untoro.

Poetry Reading From Home bisa dilihat dari rumah dari kota mana saja, dan bisa menggunakan hp maupun laptop. Setiap orang bisa sambil santai, tanpa perlu meninggalkan ruang tempat tinggalnya untuk menikmati acara ini. Yuladi, yang mengelola IT Tembi Rumah Budaya, yang akan mengerjakan secara teknis pertunjukan ini secara live sehingga publik bisa melakukan interaksi melalui chat. (*)

Lihat Juga

Poetry Reading From Home di Bulan Purnama

Di tengah pendemi covid 19, yang belum reda, Sastra Bulan Purnama edisi 104 kembali hadir, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *