Minggu , 9 Agustus 2020
Beranda » Event » Poetry Reading From Home di Bulan Purnama
Adilla Widya Kirana. (Foto: Ist)

Poetry Reading From Home di Bulan Purnama

Di tengah pendemi covid 19, yang belum reda, Sastra Bulan Purnama edisi 104 kembali hadir, dalam seri Poetry Reading from Home #2. Kali ini diisi peluncuran antologi puisi berjudul ‘Mata  Air Hujan di Bulan Purnama’, karya 50 penyair  dari berbagai kota di Indonesia. Peluncuran secara ‘live’ melalui youtube sastra bulan purnama, Jumat, 8 Mei 2020, pkl. 19.30.

Jadwal pertemuan dan pembacaan puisi secara konvesional dibatalkan, karena kita tidak mungkin untuk bertemu dan berkumpul sambil membaca puisi, seperti tiap bulan purnama diselenggarakan. Namun membaca puisi tidak dilarang, tapi tidak boleh berkumpul lebih dari 5 orang, atau bahkan puluhan.

“Demi kesehatan bersama, masing-masing harus saling menjaga jarak, dan kita perlu mematuhi kebijakan pemerintah untuk tidak berkumpul supaya bisa memutus matarantai virus corona” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Puisi yang terkumpul dalam buku ‘Mata Air Hujan di Bulan Purnama’ sudah dikumpulkan sejak Mei 2019. Puisi-puisi ini, setiap jumat dipublikasikan di rubrik sastra tembi.net, dan setiap tahun diterbitkan, dan diluncurkan setiap bulan Mei tahun berikutnya. Jadi, puisi yang sudah ditayang sejak Mei 2019 sampai April 2020 diterbitkan dalam satu buku, dan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama setiap bulan Mei. Buku yang mestinya  terbit bulan Mei 2020 ini merupakan edisi ketiga dari seri sastra tembi.net. Seri pertama berjudul ‘Kepada Hujan di Bulan Purnama’ (Mei 2018), seri kedua ‘Membaca Hujan di Bulan Purnama’ (Mei 2019), dan seri ketiga ‘Mata Air Hujan di Bulan Purnama’ (Mei 2020).

Simak juga:  Maaf, Aku Terpaksa Jadi Pelacur (30)

“Jadi, agenda Sastra Bulan Purnama, bulan Mei 2020 memang untuk peluncuran buku Mata Air Hujan di Bulan Purnama, meskipun penerbitannya ditunda dulu. Para penyair, untuk sementara mendapat versi pdf-nya.” kata Ons Untoro.

Dalam Poetry Reading From Home seri 2 ini, dari 50 penyair tidak semua tampil mengisi dengan membacakan puisi karyanya, yang sudah siap untuk tampil lebih dari 20 penyair dari kota berbeda, seperti Fitri Manalu (Medan), Hafney Maulana (Riau), Susi Lestari (Palembang) Nok Ir, Rahem, Rofqil Junior, Ruhan Wahydi, Zen KR Hail (Madura), Kidung Purnama, Sahaja Santajana (Ciamis), Sulis Bambang, Yuliani Kumudaswari, Heru Mugiarso, Yanti S.Sastro (Semarang), Sus.S. Hardjono (Sragen), Kurnia Effendi, Romy Sastra, Marlin Dinamikanto (Jakarta), Bagus Putu Parto (Blitar), Indri Yuswandari, Kelana Siwi (Kendal), Adila Widya Kirana (Kebumen), Kurnia Wulansari (Temanggung) Suyitno Ethex (Sidoarjo), Wieranta (Solo), Harmono K (Surabaya), Aming Aminoedhin (Mojokerto), Chairul Anwar, Sutirman Eka Ardhana (Yogyakarta) dan beberapa penyair lainnya.

Karena bentuknya poetry reading from home, para penyair memilih tampil di tempat yang berbeda-beda, yang sifatnya di area rumahnya, atau lokasi yang tidak jauh dari rumahnya, dengan latar belakang macam-macam, sehingga kita bisa melihat dekorasi dari pembacaan puisi ini tidak tunggal dan sifatnya alami.

Dari 50 penyair yang puisinya masuk dalam buku ‘Mata Air Hujan di Bulan Purnama’ bisa dilihat usia mereka berbeda-beda, dan mempunyai pengalaman menulis puisi yang tidak sama. Ada yang sudah menulis puisi sejak tahun 1070-an, dan sekarang usianya sudah mendekati 70 tahun. Tapi ada penyair muda, yang usianya 20-an tahun, dan rajin menulis puisi serta dikirimkan di media berbeda-beda setidaknya seperti Rahem, Rofqi, adilla dan beberapa penyair muda seangkatan lainnya.

Simak juga:  Falsafah Wanita dan Garwa, Kunci Sukses Tugas Ibu Rumah Tangga

Yuladi, yang menangani IT Tembi, dan yang mengolah pertunjukkan secara ‘live’ melalui youtube  sastra bulan purnama, sehingga pertunjukan poetry reading from home terlihat hidup.

“Karena dihadirkan secara live dan masing-masing bisa saling berinteraksi, sehingga seolah masing-masing bisa saling bertemu, laiknya seperti di Sastra Bulan Purnama Tembi Rumah Budaya” ujar Yuladi.

Nuranto, Ketua Yayasan Rumah Budaya Tembi melihat, bahwa para penyair dari generasi yang berbeda masih terus mempunyai semangat menulis puisi dan membacakannya di depan publik, dan ini yang membuat puisi tidak pernah mati. Bahkan puisi terus ditulis.

“Melalui Sastra Bulan Purnama dalam versi konvensional dan digital, Tembi sebenarnya hanya menyediakan ruang  agar karya sastra, tidak hanya puisi, terus hadir.” ujar Nuranto.

Selama pendemi covid-19 belum punah, Sastra Bulan Purnama masih terus hadir di ruang digital. Namun, setelah kondisi kembali pulih, dan kita merasa nyaman berkumpul dan berinteraksi, kita bisa bertemu lagi membacakan puisi sambil menikmati bakmi jawa, wedang sere dan kopi di Tembi Rumah Budaya. (*)

Lihat Juga

Dari Balkon Apartemen Lantai 6 dalam Poetry Reading from Home

Fajar Santoadi, orang Yogya dan pernah mengajar di Universitas Sanata Dharma, kini tinggal di Malaysia. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *