Selasa , 29 September 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Pesan Ciptaning di Keris Kiai Pulanggeni
Proses Jamasan Pusaka Kereta. (Foto: dok kratonjogja.id)

Pesan Ciptaning di Keris Kiai Pulanggeni

KERIS Kraton Kasultanan Ngayogyakarta ini tergolong unik, dan kisahnya pun menarik untuk disimak. Dapur kerisnya termasuk sederhana yakni Tilam Upih, namun pamornya tidak disebutkan dalam ‘Buku Kagungan nDalem Pusaka Wangkingan lan sakpiturutipun’, tetapi kemungkinan besar adalah ‘Ron Gendhuru’. Warangkanya terbuat dari kayu trembalo, sedang pendoknya terbuat dari suasa, blewehan.

Awalnya keris ini milik Panembahan Mangkurat, putra dari Sri Sultan Hamengku Buwono II. Tetapi entah lantaran peristiwa apa keris ini kemudian menghilang dan anehnya baru diketemukan seorang pejabat Kraton di daerah pegunungan Dieng Wonosobo. Yang menemukannya pun unik, namanya R Harjuna. Persis nama wayang. Dan yang lebih khas lagi adalah nama asli keris ini adalah Kyai Pulanggeni, pusaka R Arjuna ksatria Madukara, atau putra Pandudewanata  dari negeri Hastina. Baru kemudian setelah kembali ke Kraton pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono V keris ini diberi nama Kyai Bromo Dedali. Lalu apakah kisah unik keris itu sebagai sebuah kebetulan atau mengandung sebuah wulang wuruk.

 

Sarat Makna

Simak juga:  KERIS SI GINJE DAN SINGA MARJAYA: Pertautan Keluarga Mataram-Jambi

Nama Kyai Bromo Dedali pun sudah mengandung makna. Pusaka ini juga milik pangeran Arjuna dari Pandawa. Bromo Dedali, ibaratnya adalah Garuda Api. Pusaka ini ibaratnya bisa melesat secepat Garuda, tetapi bersinar laksana api. Apa yang disentuhnya terbakar.

Bentuknya sederhana, Tilam Upih, tak perlu melihat wujud fisiknya, tetapi makna yang menyelimutinya perlu dipahami. Oleh karena itu si empunya keris ini juga harus meniru sifat dan tingkah laku Pangerah Arjuna yang halus, tidak begitu besar, tetapi mempunyai kekuatan yang luar biasa. Sebagai salah satu kekuatan negara Pandawa, Arjuna mempunyai kewajiban yang tinggi melindungi rakyat dan negara. Dan simbolisasi dari pusaka Bromo Dedali ini kiranya tidak bisa lepas dari tokoh satria Pandawa ini, baik tingkah laku, sifat, maupun simbolisasi dari penokohannya.

Tidak begitu aneh kalau pusaka ini pernah melesat ke Pegunungan Dieng di daerah Wonosobo, mengingat nama Wonosobo sendiri konon berasal dari kata Pangeran Sobo Wono.

Kita ingat kisah Raden Arjuna yang bertapa di gunung yang merubah dirinya menjadi Begawan Ciptoning ketika akan menjadi panglima perang untuk meminta senjata pamungkas. Dan tampaknya kisah-kisah wayang ini tak jauh dari budaya pakerisan yang hidup di kalangan masyarakat Jawa di saat lampau. Namun kini sudah tidak bisa dikenali lagi. Bisa jadi pusaka Kraton ini merupakan peringatan terhadap pemilik pusaka agar selalu ingat akan kisah-kisah yang tersimbolisasi dalam pewayangan. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Jogja International Keris Heritage Festival Menyadarkan akan Pentingnya Nilai nilai Budaya

Pagelaran keris sebagai sebuah pameran menjadi penanda penting akan sisi reproduksi pengetahuan perihal perkerisan. Keris …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *