Beranda » Humaniora » Pernikahan Jawa – Sunda, Dibayangi Legenda
Dramatari Perang Bubat yang pernah ditampilkan di Korsel beberapa waktu lalu. (Foto: tribunnews.com)

Pernikahan Jawa – Sunda, Dibayangi Legenda

CINTA dalam diri manusia merupakan salah satu hak paling asasi yang dimiliki setiap  manusia yang hidup di bumi. Namun, seringkali cinta tersebut harus dikandaskan oleh pusaran adat masyarakat yang membelenggu. Fanatisme berlebihan terhadap agama, etnis, suku, golongan, keturunan, dan lainnya yang tidak dapat ditolerir sehingga menyebabkan manusia tercerabut dari akar kemanusiaanya. Karena dari itu saya hendak menuliskan bahwa cinta antara manusia harus diberikan haknya tanpa menghilangkan tanpa merendahkan sesuatu yang ada sejak dulu tanpa membeda-bedakan manusia satu dengan manusia lainnya.

Saya akan sedikit menceritakan salah satu kisah di dalam legenda atau mitos yang berkembang dalam  masyarakat Suku Jawa dan Suku Sunda. Mitos yang berkembang hingga saat ini adalah dimana bila perempuan Sunda dan laki-laki Jawa menikah atau sebaliknya akan mendapat hal-hal buruk. Di balik itu semua tentu saja ada yang melatar-belakangi. Latar belakang yang terkenal hingga sekarang adalah Perang Bubat. Perang Bubat, perang antara Kerajaan Sunda Galuh dan Kerajaan Majapahit. Kisah ini berawal dari Prabu Hayam Wuruk hendak mempersunting Putri Kerajaan Sunda Galuh yang cantik jelita bernama Dyah Pitaloka Citraresmi. Namun, niat itu tidak mulus karena Mahapatih Gajah Mada yang ingin mewujudkan Sumpah Sakti Amukti Palapa menghendaki Sunda Galuh tunduk terlebih dahulu dan menyerahkan putrinya itu sebagai tanda mengakui kekuasan Majapahit.

Rombongan Raja Sunda Galuh Prabu Maharaja Linggabuana yang datang membawa putrinya dengan niat untuk menikahkannya dengan Raja Majapahit, disambut Gajah Mada yang menginginkan Kerajaan Sunda itu tunduk. Kontan saja ambisi politik Gajah Mada ini menyakiti harga diri Prabu Maharaja Linggabuana.

Mereka menolak keinginan Sang Mahapatih dan siap bertempur sampai mati demi mempertahankan harga diri dan martabat Sunda Galuh. Dan akhirnya tragedi itu pun terjadi. Lapangan Bubat memerah karena darah prajurit Majapahit dan rombongan Sunda Galuh tumpah. Gajah Mada dan prajuritnya menumpas habis rombongan kerajaan Sunda Galuh yang tanpa persiapan karena datang bukan untuk berperang. Prabu Maharaja Linggabuana, permaisuri dan putrinya Dyah Pitaloka juga turut gugur.

 

Tak Terlepas Kontroversi

Perang Bubat tersebut tidak terlepas dari kontroversi. Kontroversi terkait Perang Bubat berakar dari bahan-bahan tertulis yang dijadikan sumber dan rujukan dalam penulisan narasi sejarah tentang peristiwa berdarah ini. Tuturan tentang Perang Bubat yang selama ini menjadi tulisan di buku-buku sejarah berkiblat dari empat manuskrip yaitu manuskrip Serat Pararaton, Kidung Sunda, Cerita Parahiyangan dan Kidung Sundayana. Keempat manuskrip ini ditulis lebih dari 200 tahun setelah Perang Bubat itu terjadi. Di Serat Paraton disebutkan dalam cerita Pasunda Bubat, seperti yang disebutkan dalam Kidung Sunda juga, dan Manuskrip itu berada di Pulau Bali.

Simak juga:  Material Gamelan dan Konteks Budaya

Dari banyaknya manuskrip tersebut masih saja diragukan oleh para arkeolog dan peneliti sejarah. Alasan itu didasari tidak kuatnya bukti-bukti terjadinya Perang Bubat tersebut. Perang Bubat syarat dengan mitos dan legenda, dikarenakan waktu itu penulisan-penulisan di dalam sejarah dalam prasati sudah tidak ada lagi dan dikatakan telah berakhir pada 150 tahun setelah itu terjadi, serta dianggap kejadian  itu kejadian “out of the record”.

Keraguan kebenaran terhadap Perang Bubat pun didasarkan pada sejumlah argumen. Karena narasi tentang peristiwa tersebut tidak pernah dituliskan di dalam sekitar 50 prasasti terkait Kerajaan Majapahit yang sejauh ini telah ditemukan. Perang Bubat pun dianggap cerita yang dimitologisasi padahal belum tentu kebeneran historisnya. Disebutkan juga, kemungkinan adanya cerita Perang Bubat itu berasal dari fakta sosial atau kongruensi antara orang Sunda dengan orang Jawa dalam ekonomi, kekuasaan, atau fakta sosial lainnya.

Keraguan kebenaran tentang Perang Bubat ini juga muncul dari penilaian atas lemahnya tingkat kelayakan  informasi yang termuat dalam naskah kuno yang menjadi dasar penulisan sejarah Perang Bubat. Sejumlah pihak misalnya meragukan isi Serat pararaton atau Kidung Sunda untuk dijadikan sumber utama penulisan sejarah Perang Bubat karena naskah kuno ini ditulis bercampur kisah yang berbau mitologis dan detail diskripsi yang bercorak fiktif.

Proses penerjemahan beberapa naskah kuno yang memuat narasi tentang Perang Bubat, seperti Serat Pararaton pada abad  ke-19 juga memunculkan beragam analisis yang sebagian berdimensi politis. Salah satunya, analisis yang mencurigai narasi sejarah Perang Bubat sengaja dihadirkan oleh penjajah kolonial Belanda sebagai wacana untuk melemahkan rasa nasionalisme kebangsaan masyrakat pribumi terpelajar kala itu. Pakar sejarah mengatakan kolonial Belanda memanfaatkan untuk memecah belah kesatuan dan persatuan orang pribumi dengan cara sengaja memilih teks dari Serat Pararaton untuk menjadi bahan bacaan di sekolah menengah atas zaman Belanda, Argumen tersebut juga dikuatkan cara kolonial Belanda untuk menjajah saat itu adalah dengan cara politik adu domba. Selain itu, pada abad ke-19 saat penerjemahan Kidung Sunda dilakukan oleh sejarawan Belanda C.C Berg, dan kemudian diterbitkan pada tahun 1927 banyak bermunculan  karya-karya sastra yang kontroversial.

 

Tak Ada di Negarakertagama

Simak juga:  Tradisi Desa Jatimulyo Petanahan Dalam Hadapi Wabah Penyakit

Keraguan argumen tentang kebenaran Perang Bubat juga dikuatkan melalui tidak disebutkannya Perang Bubat dalam Kitab Negarakertagama yang ditulis setahun setelah meninggalnya Gajah Mada. Meski demikian, beberapa kalangan yang menyakini Perang Bubat benar-benar terjadi juga memiliki argumen yang tidak kalah kuat. Argemen tersebut diantaranya menyamakan tahun penulisan Kitab Pararaton dengan  peristiwa tersebut.

Lepas dari perdebatan yang ada, apakah Perang Bubat benar-benar terjadi atau tidak? Berbagai kontroversi terkait yang tercantum pada buku-buku sejarah menujukkan satu fakta  adanya banyak masalah dan pertanyaan yang masih kerap muncul dan harus dipelajari serta dijawab dalam kajian sejarah kita. Karena hanya lewat sejarah yang jernih bertutur kita bisa menyerap banyak pelajaran yang bermakna bagi peradaban.

Dari peradaban itulah kita belajar bagamaimana hidup, berdampingan di antara perbedaan tanpa adanya sikap merendahkan satu sama lain. Adanya mitos itu pun tidak sedikit orang yang berhasil melakukan pernikahan antara Jawa dan Sunda. Seperti halnya yang terjadi pada lingkungan Jawa sekarang, seorang lelaki Jawa beristrikan orang Sunda sudah tidak lagi menjadi hal yang tabu. Dan tidak lagi menjadikan legenda ini sebagai landasan untuk merendahkan satu sama lain. Seperti di daerah Jawa barat atau biasa disebut dengan Tanah Sunda tersebut, sudah menjadi hal biasa pula pasangan Jawa dan Sunda. Seperti di Daerah Jawa Barat yang biasa untuk pusat daerah  industri seperti Sukabumi, Bandung, atau Bogor banyak orang  Jawa yang bekerja lama di Tanah Sunda mendapatkan pasangan hidup orang Sunda dan  hidup rukun berdampingan tanpa menghilangkan kultur budaya yang sudah ada.

Seperti contoh Rahman, seorang yang berasal dari Jawa, memiliki istri dari Ciamis atau  pusat Kerajaan Galuh pada saat itu. Bagi Rahman, mitos yang selalu membayangi itu tidak sedikit pun mengurangi cinta kepada istrinya. Rahman dan istrinya dapat hidup dengan saling menghormati antara perbedaan, melengkapi yang kurang dan tidak merendahkan satu sama lain. Rahman memaknai kisah tersebut aslinya bisa dipandang secara positif untuk kita menjadi seorang yang tidak serakah dan menerima sesuatu yang apa adanya. Hingga kini ia memiliki buah hati, dan baginya sebuah cinta tetaplah cinta, antara dua insan manusia yang perlu untuk disatukan dengan menyatukan segala jiwa dan raga. ***  (Mahdy Perwira Utama)

 

          * Mahdy Perwira Utama, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Meski Kaki Harus Diamputasi, Pak Endang Tetap Gigih Merajut Asa

BERJUANG mencari nafkah adalah pengorbanan mulia, setiap tetes yang keluar dari tubuhnya akan menjadi saksi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *