Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Peringatan Suran, Sebuah Permenungan
Prosesi mubeng beteng malam 1 Suro Kraton Yogyakarta tahun 2019. (Foto: Ist)

Peringatan Suran, Sebuah Permenungan

Landasan Fungsional ajang bagi kawula Mataram untuk ikut berpartisipasi dalam menyambut taun baru Jawa.

Landasan Filosofis, ajang permenungan diri dengan berbagai ritual , ngarak Kebo Bule dan pusaka Kraton, Surakarta Hadiningrat dengan mubeng Beteng arah Prasawiya ke kanan supaya selamat di dunia, maka yang diarak adalah Kangjeng Kyai Slamet. Dan pusaka dalem lambang pusaka nama. Sementara di Yogyakarta dilaksanakan ritual mubeng beteng budheg bisu, dengan arah pradaksina ke kiri (tawaf) dengan hitungan ganjil untuk memohon keslamatan batiniah..kemudian ada pula jamasan tosan aji dengan melalui tiga tataran, yakni mutih, atau methak, marangi dan meminyaki. Langkah ini sebenarnya merupakan langkah untuk mawas dhiri, dengan methak atau mutih manusia diharapkan mawas dhiri apakah sudah selaras dengan misi kehidupannya.  Perlu diketahui bahwa mutih ini memerlukan sarana jeruk tanpa sereng, yakni jeruk nipis yang sudah dihilangi kulitnya, artinya segala upaya untuk mawas dhiri harus dilandasi tanpa adanya campur tangan emosi, dan dilakukan di malam hari, supaya mawas diri berlangsung dengan tenang dan efektif. Mutih ini bisa berlangsung tiga atau empat hari.

Kemudian dhawahi warangan ini sebaiknya dilakukan di pagi hari menyongsong sinar yang penuh dari sang hyang bagaskara yakni sekitar jam Sembilan pagi ketika sinar ultraviolet masih ada sehingga pamor benar-benar keluar. Ini juga dimaksudkan agar manusia setelah mawas diri menyongsong sinar Ilahi, tajalining Nur apa sabda Allah dan alam agar bnisa dilakoni dengan baik. Pitutur luhur yang tercipta di dalam keris atau tosan aji lainnya bisa dibaca dan diterapkan di dalam kehidupan nyata sehingga membuat manusianya muncul pamornya.

Simak juga:  Mewujudkan Impian Luhur

Tataran ketiga adalah dengan meminyaki dengan minyak cendana wangi atau yang lain yang mempunyai semangat niyat ingsung nyebar ganda arum, tyas manis kang mantesi ruming wicara kang mranani sinembuh laku utama . Semua laku kehidupan membersihkan keris itu bukan melulu membersihkan besinya tetapi terlebih membersihkan diri pribadi dan hati sanubari si empunya keris. Dan semangat ini tentunya dilandasi oleh semangat yang dasariah yakni Mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi, Hamemayu hayuning bawana. Tri semangat Mataram ini perlu diejawantahkan di dalam kehidupan nyata dengan berbagai upacara ritual yang penuh simbolisasi, oleh karena itulah setiap upacara ritual menyambut sura sebaiknya dibedah untuk dimaknai arti dan maknanya di dalam kehidupan. Karena kalau kita kaji lebih jauh maka akan tercipta sebuah gerakan yang mengarah benjang menawi wonten manungsa jawi ingkang ngagem mata siji, gaman kawruh asma sepuh, negeri ini bakal tenteram dan aman dan sabda palon bakal meraja. Sabda palon bukan pertama-tama tokoh idola tetapi sebuah gerakan yang mengutamakan sabda alam dan Sabda Sang pencipta sendiri yang meraja di dunia ini seturut apa yang sudah diturunkan dalam berbagai kitab suci dari berbagai agama apa saja, bahwa agama itu adalah ageming aji, bukan sekedar gelar nama dan hiasan semata.. Kawruh atau ilmu bagi orang Jawa sudah didaraskan sebagai:

Simak juga:  Melestarikan Tekad Gajah Mada

Ngelmu iku, kelakone kanthi laku, lekase lawan khas, tegese khas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara.

Tujuan diturunkannya ilmu bagi orang Jawa hanya diupayakan untuk mengikis durangkara, selaras dengan memasuh malaning bumi, angkara murka yang ada di dalam tubuh manusia sendiri, kita semua dan yang ada di dalam masyarakat.

Setelah itu dijabarkan pula bahwa sebuah ilmu itu harus dimengerti sebuah pemahaman seperti yang tertera dalam Wulang reh,

Mangkono ngelmu kang nyata,
Sanyatane mung weh reseping ati.,
Bungah ingaranan cubluk,
Sukeng tyas yen den ina
Nora kaya si punggung anggung gumunggung
Ugungan sadina-dina
Aja mangkono wong urip

Inilah makna sejatinya hidup yakni memburu kebahagiaan lair batin membangun sebuah wahana kehidupan menjadikan mata hati kita satu yakni mengedepankan kebenaran, mata siji, gaman kawruh, asma sepuh.

Asma sepuh, dimaksudkan sepuh tuwa hawya kongsi tiwas, sepuh den upadiu tuwas, tumuwuh kang pupuse tansah ngengidung pepudyan jati. (Ki Juru Bangunjiwa)

Lihat Juga

Mempesona Karena Nilai-Nilai Moralnya

GAUNG seni Karawitan  mempesona, itulah salah satu cerminan budaya tradisi yang masih eksis dengan filosofi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *