Minggu , 29 November 2020
Beranda » Kawruh Bangunjiwa » Peringatan dari Karaton Yogyakarta

Peringatan dari Karaton Yogyakarta

MASYARAKAT Yogyakarta khususnya dan Nusantara heboh. Ada penampakan ular melingkar di saka atau salah satu tiang penyangga Pendapa Magangan Karaton Yogyakarta. Harinya pun pas Jumat Pon, hari wafat Panembahan Senapati. Ular melingkar utuh atau Jawa Tepung Gelang. Hal yang terjadi di Keraton menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat. Untuk orang yang masih menghayati budayanya hal ini bukan hal yang lumrah.

Sementara bagi orang orang yang rasional akan mengejar jenis ular ini ular apa dan biasa hidup dimana. Dan benarlah menurut orang yang ahli reptil di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI mengatakan, bahwa ular jenis itu adalah ular pemakan cecak (Licodon Capucinus) atau ular genteng yang biasa mencari mangsa di malam hari (nocturnal). Ular ini biasa hidup berdampingan dengan manusia dan tidak berbahaya.

Meski demikian masyarakat Jawa bisa menginterpertasikan bermacam ragam, bahkan bisa menjadi pertanda sesuatu yang bakal terjadi di dalam masyarakat. Hal ini berkaitan yang namanya ular, atau sawer dalam pemahaman Jawa penuh lambang” Sapa weruh sapa tambuh:.

Kalau kita mau menghubungkannya dengan hal bakal terjadi dengan pilkada yang berlangsung beberapa waktu mendatang sangatlah relevan karena ini sesungguhnya merupakan pepeling-peringatan, atau prasapa.

Simak juga:  Zaman Jaran Mangan Sambel

Mengapa yang dilingkari ular di tiang Pendapa Magangan. Ini suatu pertanda bagi yang magang calon calon pemimpin masyarakat di masa datang. Siapa calon pemimpin harus ingat akan prasapa atau peringatan para leluhur yang berbunyi demikian:”

Pertama, Benjang Sang Aji mijil, lathinya ngendhali wuwus. Besuk kalau ada pemimpin baru muncul harus mampu berbicara meyakinkan masyarakat dan gagasannya didukung masyarakat serta mampu untuk melaksanakannya dengan baik. Inilah pemimpin yang diharapkan dan dinanti natikan. Dia bersemboyan ‘Lumuh ing arta basukining alit. Dia bertekad untuk menyejahterakan masyarakat. Mendahulukan kepentingan orang banyak daripada mementingkan kepentingannya sendiri dan kelompoknya. Tak bergeming dengan uang dan harta yang dikejar adalah kesejahteraan masyarakat kecil. Pemimpin seperti ini oleh Ranggawarsita diberi penghargaan dengan nilai utama. Penuh inovasi dan kejutan yang membuat rakyat merasa bangga dan dihargai.

Yang kedua Benjang Sang Aji mijil, lathinya ngedali wuwus. Artinya orang ini hanya pandai berbicara dan berbusa busa kalau bicara untuk meyakinkan orang dan masyarakat tetapi orang ini tidak akan mengerjakannya sendiri. Orang lain yang disuruh untuk mengerjakannya. Pemimpin yang seperti ini banyak di masyarakat lebih mendahulukan pencitraan daripada kerja.Kalau meminjam istilah Raden Ngabehi Ranggawarsita pemimpin semacam ini mendapatkan kriteria madya. Pejabat pejabat seperti ini di masyarakat hanya sekedar menjalankan kekuasaannya dengan normatif. Belum ada greget dan tidak ada inovasi yang signifikan.

Simak juga:  Abad Samudera dalam Angan-angan

Sedang yang ketiga adalah” Benjang sang aji mijil lathinya medal ilunya. Ini merupakan kriteria pemimpin yang sangat berbahaya. Karena dia tidak akan memikirkan rakyatnya malahan hanya merugikan dan menyengsarakan rakyat karena omongannya selalu membuat resah masyarakat. Pemimpin pemimpin semacam ini digolongkan oleh Ranggawarsita sebagai pemimpin yang nistha. Mereka memimpin hanya demi kepentingan dan kedudukannya sendiri.

Melihat prasapa dan peringatan yang terwujud dalam penampakan ular di tiang penyangga pendapa Magangan ini masyarakat Jawa, khususnya masyarakat Yogyakarta pada umumnya harus jeli dan berpikir. Karena bagaimana pun ular kalau Jawa disebut sawer, merupakan sebuah perlambang. . Sapa weruh sapa tambuh.

Inilah satu tafsir yang ramai dan menghebohkan masyarakat Yogyakarta khususnya dan masyarakat Jawa di Nusantara pada umumnya. Saya kira peringatan dan prasapa ini tidak hanya untuk wilayah Yogyakarta saja, tetapi juga untuk Indonesia, meningat pilkada dilakukan serentak di bumi Indonesia.

Mengenai benar tidaknya, walahualam bisabab.

*) Ki Juru Bangunjiwa Penulis buku budaya Jawa dan pelaku Budaya Jawa tinggal  di Bangunjiwa Kasihan Bantul Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *