Sabtu , 5 Desember 2020
Beranda » Kesehatan » Dr. Handrawan Nadesul: Peran Matahari Terhadap COVID-19

Dr. Handrawan Nadesul: Peran Matahari Terhadap COVID-19

PAKAR kesehatan dan penulis buku-buku kesehatan terkemuka, Dr. Handrawan Nadesul menyebut ada tiga jenis ultraviolet (UV) yang diberi matahari, yakni UVA, UVB dan UVC. Akan tetapi di dalam akun facebooknya yang diunggah Senin (30 Maret 2020), dokter Handrawan  meminta untuk melupakan yang UVC, karena tidak menyentuh kita di bumi. Hanya UVA dan UVB yang tiba di bumi.

Menurut dokter Handrawan, sejatinya keduanya sama-sama berpengaruh buruk terhadap tubuh, khususnya kulit. Namun di balik keburukannya, ada sisi manfaat bila kita benar memanfaatkannya. Kita butuh keduanya untuk pembentukan vitamin D, tulang dan otot, terapi penyakit kulit (psoriasis), dan meningkatkan sistem imun.

Dulu, jelasnya, dianggap matahari pagi sebelum pukul 10.00 yang menyehatkan. Kini kita mengejar manfaat UVB lebih dari UVA. Panjang gelombang UVA lebih dibanding UVB, yang menembus lapisan kulit dalam (dermis), sedang UVB hanya sampai lapisan atas epidermis, maka lebih kurang merusak kulit. Tapi terpapar lama seperti yang pingin kulitnya lebih gekap (suntan), UVA maupun UVB sama-sama buruknya: bikin kulit cepat menua, lekas keriput, dan bikin kanker kulit, selain melemahkan sistem imun kalau terpapar berlebihan (Immune system suppression). Selain menembus kulit lebih dalam, kekuatan ratusan kali lebih kuat dari UVB, UVA bisa menembus kaca.

Simak juga:  Bioskop Bawah Bintang di Tengah Pandemi

Pengaruh UV terhadap tubuh, urainya, ditentukan oleh beberapa faktor, index UV, musim apa, lokasi equator, mendung tidaknya, dan jam operasi mataharinya. Makin di atas puncak langit matahari makin kuat index UV-nya. Makin kuat index UV makin perlu dikurangi waktu paparnya kalau tidak ingin merusak tubuh.

Dr Handrawan Nadesul mengemukakan, WHO menganjurkan cukup 5-15 menit bagian tangan, lengan, dan wajah terpapar matahari pukul 10.00 – 15.00 (cerah, di equator) seharinya, cukup seminggu 3 kali untuk memperoleh manfaatnya. Kelebihan paparan matahari pada jam puncak tersebut, selain merusak kulit sebagaimana sudah disebut di atas, juga merusak kornea mata (keratoconjunctivitis), berisiko katarak, serta merusak DNA kulit memunculkan kanker kulit (melanoma).

Oleh karena bibit penyakit termasuk virus terbunuh oleh UV dengan gelombang sekitar 250 nm (nanometer), maka menurutnya,  UVB yang tepat untuk dimanfaatkan membunuh virus. Walau memang belum ada penelitian ihwal virus baru Covid-19, kita anggap saja mampu sebagai tambahan manfaat berjemur.

Hari-hari ini, kata dokter Handrawan, begitu banyak orang jalan kaki siang hari ingin memanfaatkan matahari khususnya UVB yang punya kelebihan untuk kesehatan, termasuk meningkatkan sistem imun tubuh. Berjalan kaki sendiri selama berjemur bagian dari pilihan gaya hidup bila disertai pilihan menu seimbang (balanced diet), cukup jeda dan tidur, serta hidup penuh suka cita tanpa stres, serta jangan berpikir beremosi negatif yang justru melemahkan sistem imun.

Simak juga:  Pentingnya Pelayanan Kesehatan

Vitamin D, jelas dokter Handrawan Nadesul lagi, yakni vitamin D3 (cholecalciferol) yang dibutuhkan tubuh yang meningkat, juga meningkatkan hormon serotonin otak. Serotonin bagian dari “Hormon Kebahagiaan” yang memberi kita merasa nikmati dalam memberi (apa saja). Maka matahari juga sumber suka cita kita. *** (SEA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *