Minggu , 9 Agustus 2020
Beranda » Humaniora » Pak Jum, Dulunya Tak Dianggap Kini Disegani Masyarakat
Jumbriyadi, dari penjual ikan sampai kepala sekolah. (Foto: IH)

Pak Jum, Dulunya Tak Dianggap Kini Disegani Masyarakat

MENTARI baru saja menampakkan sinar, namun pria yang berusia 50 tahun ini sudah siap dengan seragamnya. Mengalahkan rasa kantuk, selepas subuh ia telah berangkat ke tempatnya mengabdi. Semua itu dilakukannya untuk keluarga, negara, dan generasi sang harapan bangsa. Kulitnya yang tak lagi kencang dan keriput di mana-mana menjadi saksi betapa melelahkan hari-hari yang terlewati. Duapuluh empat tahun sudah ia mengabdikan diri pada negara sebagai seorang tenaga pendidik, manis-pahit kehidupan telah dilewati bersama keluarga, namun tak pernah sekalipun ia mengeluh pada dunia.

Jumbriyadi namanya, atau Pak Jum, demikian namanya sering dipanggil merupakan  anak dari nelayan yang penghasilannya pas-pasan, kini mampu membungkam semua cemooh yang pernah menerpanya. Berkat perjuangan dan pengabdiannya ia dipercaya menjabat sebagai Kepala Sekolah di MAN 2 Jembrana, Bali. Namun jabatannya sebagai kepala sekolah itu tak lantas membuatnya besar kepala, ia masih rendah hati. Terbukti dari gayanya yang sederhana, baju kaos dan topi yang kerap kali dikenakannya sama sekali tak ada unsur mewah di sana.

Di sudut warung tua depan rumah, ditemani segelas kopi susu panas yang menjadi favoritnya, wajah yang tak lagi muda itu baru-baru ini bercerita tentang perjalanan hidupnya. Untuk mencapai semua keberhasilan itu, Pak Jum harus berhadapan dengan masa-masa tersulit dalam hidupnya. Ditinggalkan sosok ayah di usianya yang masih belia memaksanya bekerja paruh waktu untuk melanjutkan sekolah dan membiayai keperluan sekolah kedua adik perempuan yang menjadi tanggungjawabnya dan kakak-kakak di atasnya.

“Saya ditinggal ayah sewaktu saya masih duduk di bangku SMA, Bapak meninggal dengan meninggalkan seorang istri dan delapan anak. Saya anak laki-laki terakhir dan punya dua adik perempuan, jadi mau nggak mau juga harus bantu kakak-kakak saya untuk ngelanjutin sekolah saya dan adik-adik. Ibu saya cuma penjual ikan, uangnya nggak cukup untuk biayain semua kebutuhan anak-anaknya seorang diri,” kisahnya.

 

Penjual Ikan Keliling

Sambil menggali kembali ingatannya, dahi Pak Jum berkerut. Ia menceritakan bagaimana dirinya memulai perjalanan angkuhnya roda kehidupan yang dihadapi. Sepeninggal sang Ayah, ia menyambung kehidupan dengan menjadi nelayan dan penjual ikan keliling bersama kakak. Sebelum pergi ke sekolah, pagi-pagi buta ia telah bersiap ke pasar bersama sang kakak untuk membantu ibunya menjual ikan laut hasil tangkapan berlayar kakaknya yang lain di Pasar. Sesudah membantu sang ibu, ia melanjutkan perjalanan ke sekolah. Untuk pergi ke sana pun dirinya harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dengan berjalan kaki.

Simak juga:  Pecah Kepala Khalifah

“Saya masih ingat dulu, waktu saya masih SMP saya harus jalan kaki ke sekolah yang jaraknya lumayan jauh, mungkin sekitar 6 km dari rumah kalau dihitung-hitung. Waktu itu karena habis dari pasar, seragam saya ya bau keringat sama amis ikan ya jadi satu. Belum lagi sepatu saya itu dulu bolong di mana-mana. Hahaha, sering diejek sama teman-teman, tapi ya nggak apa-apa, sudah biasa,” urainya.

Sepulang sekolah pun ia harus kembali menuntaskan pekerjaannya menjual ikan selagi masih ada yang tersisa, agar lekas habis. Supaya ibunya tak bersedih hati karena sisa ikan yang masih utuh. Terik matahari seolah tiada berarti untuknya demi mendapat sesuap nasi dan untuk menyongsong masa depan yang didambakan.

“Kalau ada sisa uang lebih dari jualan, saya tabung biar bisa sekolah lebih tinggi lagi, biar saya bisa banggakan Ibu,” katanya.

Memiliki mimpi yang tinggi ternyata membuat orang-orang di sekitar meremehkannya, bahkan sang paman yang sangat ia hormati pun memandangnya sebelah mata. Namun siapa sangka? Dengan semangatnya yang gigih dan menjadikan cemooh orang-orang di sekitarnya tersebut sebagai motivasi untuk menggapai mimpi menghantarkannya pada gelar sarjana.

Meski telah mendapatkan gelar, ia tak serta merta langsung berhasil menjadi ‘seseorang’. Kala pengabdiannya menjadi guru pun diwarnai dengan bumbu-bumbu yang membuat dada sesak. Sekali lagi ia mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman sejawatnya. Olokan dan makian kerap kali menemani hari-harinya. Tapi, ia tak peduli. Hal-hal semacam itu sudah sering kali diterimanya, dan malah membuatnya semakin membakar semangat untuk menunjukkan kemampuan.

 

Dipandang Sebelah Mata

Sambil menyesap kembali kopinya, Pak Jum melanjutkan ceritanya, “Saya waktu masih ngabdi sering banget dipandang sebelah mata, kemampuan saya diremehin. Pernah sekali waktu itu saking omongan yang dilontarin terlalu nyakitin, saya yang posisinya sudah punya istri, kena damprat dari istri. Istri saya sampai marah mengetahui ada orang memperlakukan saya seperti itu. Sampai ia terlibat cekcok dengan orang kebetulan ngomong menyakitkan itu, kebetulan dia teman juga. Tapi ya sekarang, Alhamdulillahnya hubungan kami semua baik-baik saja”, ujarnya.

Simak juga:  Mengenang Perjuangan Pangeran Diponegoro (2): Perang Melebar ke Surakarta, Bojonegoro dan Madiun

Berangkat dari kegigihan dan kesabaran yang selama ini dipegangnya, Hal tersebut memang berbuah manis. Kini keberhasilan berada pada genggaman, ia membayar semua cemooh dengan menjadi seseorang yang memimpin sebuah sekolah. Bercermin dari bagaimana pengalaman kesulitan dalam menjalani hidup, ia tak segan untuk menolong orang-orang yang meminta bantuannya.

 “Alhamdulillah, sekarang keadaannya nggak kayak dulu, kalau dulu apa-apa susah. Sekarang Alhamdulillah, bisa tercukupi. Anak-anak juga bisa sekolah tanpa harus mikir biaya. Yah, memang untuk menuju sukses itu prosesnya panjang, jatuh bangun dulu dan selalu ikhtiar sama Allah supaya dimudahkan segalanya. Sekarang kalau ada yang minta bantuan, saya bantu sebisanya. Hidup saling membantu itu enak kok. Kalau kita susah ya pasti dibantu juga,” ungakpnya lagi.

Bersamaan dengan kopinya yang telah habis, Ia menuntaskan ceritanya. Sekarang, tak ada lagi cemooh dan cacian, orang-orang menyegani kegigihan dan keberhasilannya. Ia mampu menghidupi keluarga dengan cukup dan selalu menanamkan pada tiga anaknya untuk bersikap rendah hati serta memaknai kerasnya hidup sebagai proses pendewasaaan.

Melihat dari bagaimana proses panjang yang dilaluinya, wajah tua dan keriput yang tak sesegar dulu seolah menjadi saksi dan bukti betapa sulit dan berat jalan yang harus ditempuh untuk mencapai pada puncak seperti yang diraihnya sekarang ini. Butuh kesabaran, kegigihan, serta ikhlas yang begitu luas agar tiap setapak yang dilewati tak jadi beban, melainkan semangat yang berkibar. *** (Indah Hikmatul  Faizah)

 

* Indah Hikmatul  Faizah, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Pesona Nusa Dua

BALI merupakan salah satu pulau dari sekian ribu pulau yang berada di Indonesia. Bali merupakan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *