Beranda » Musik » Musik Lokal Palembang, Permusikan Duniawi
Gambus alat musik Palembang (Foto: musik.faktualnews.co)

Musik Lokal Palembang, Permusikan Duniawi

HASRAT ingin menyanyi sudah sejak kecil ada pada diriku yang terlahir dari Ibu seorang pemain drama dengan suara vokal matang dan Bapak yang juga terkenal dalam teks-teks pidatonya dalam perlombaan di masanya.

Aku tak akan banyak menceritakan tentang jam terbangku sudah sampai mana bernyanyi, dan berapa banyak karya yang aku ciptakan. Tapi yang jelas sampai saat ini aku belum bisa terkenal. Entah karena keterbatasan, atau memang nasib yang sudah tertulis bahwa diriku tidak akan pernah terkenal. Aku tak peduli itu, karena diriku yakin dengan apa yang kusukai. Karena itu bisa membuatku bahagia.

Kesadaranku dalam bermusik baru sejak kuliah aku rasakan. Sadar  dalam artian aku harus masuk dan benar-benar mengetahui seluk beluk musik. Jika ditanya mengenai sejarah permusikan dunia atau pun lokal akan aku alihkan dengan seribu alasan bagaimana pembahasan ini berhenti atau mencari pembahasan lain. Aku pikir, saat ini bagiku ditanya tentang musik sama seperti nahwu sorof dalam mengaji atau seperti menulis puisi. Ya, itu aku anggap susah. Semoga nanti aku bisa. Aamiin.

Kebetulan aku kuliah di Yogyakarta, yang mungkin teman-teman tahu semua jenis kesenian akan bisa ditemukan di sana. Kesenian tradisonal maupun modern, seni pertunjukan apa pun dan sastra seperti apa pun. Aku yakin ini tidak berlebihan, karena ini benar-benar ada dan berkembang.

 

Alat Musik Daerah

Karena lingkungan yang tercipta seperti itu akhirnya kesadaran tersebut muncul, dengan melihat kegiatan teman-teman yang melestarikan atau membawa suatu kesenian dari daerahnya masing-masing. Dalam kegiatan seperti itu sering terlihat alat-alat musik daerah. Nah, ini yang membuat hati sedikit gugup ketika ditanya alat musik Palembang itu apa? Ketika aku telusuri di google, alat musik Palembang itu ada, tapi wujudnya sudah tidak jelas dimana.

Simak juga:  Kelahiran Arjuna, Nakula, dan Sadewa

Aku sempat bertemu seorang mahasiswa Sumatera Selatan, dari Pagaralam, bernama Andre. Memang bukan Palembang, tapi tetap satu Provinsi. Kebetulan di Yogya dia mengambil kuliah seni dengan jurusan Etnomusikologi atau sering kita dengar musik etnik. Mata kuliahnya belajar mengenai musik-musik lokal atau daerah, dan aku sempat ngobrol banyak dengannya tentang musik lokal dari Sumatera Selatan.

Bicara tentang musik lokal, Andre suka memainkan musik Batanghari Sembilan. Alat musik ini dulu ada di setiap daerah yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Mendengar itu aku  sangat senang, haru, bangga campur aduk. Tanpa pikir panjang langsung aku tanya alat musiknya ada? Ternyata dia juga memainkan musik itu dengan menggunakan gitar biasa, hanya chord gitarnya saja yang berubah. Karena alat musik Batanghari Sembilan ini mempunyai nada sendiri, tidak seperti gitar biasa. Memang secara senar sama-sama punya enam senar, akan tetapi bentuknya yang berbeda.

Ketika aku pulang ke Palembang karena kuliah libur, aku menemui guruku yang dulu mengajarkan aku saat mengikuti lomba-lomba ketika sekolah. Namanya Uzair, sampai sekarang masih aktif atau tetap berjuang dalam dunia musik. Dari dulu sampai sekarang masih menekuni dunia musik Nasyid dengan lagu-lagu kecintaan yang berlatar belakang Islam dan bernilai spiritual sangat tinggi.

Singkat cerita lagi, akhirnya aku ngobrol dari malam hingga pagi hari. Ngobrol tentang “permusikan duniawi”, itu sebutan milenial saat ini. Obrolan dari malam hingga pagi pun satu frekuensi, mengalir rapih ibarat malam menuju pagi dan gelap menuju terang. Ternyata Pak Uzair ini juga lagi berusaha dan berjuang untuk mengangkat lokalitas  musik Palembang. Ada suatu tujuan yang sama tanpa dugaan.

Pak Uzair cerita sudah sempat mendatangi orang-orang lama atau orang-orang tua yang diperkirakan mengerti tentang musik Palembang itu. Terapi dikarenakan keterbatasan materi dan lainnya,  langkahnya terkendala. Perjalanan untuk mendengar cerita-cerita orang lama mengenai sejarah musik di Palembang itu pun terhenti. Dan, sampau sekarang ia pun belum juga mendapatkan bentuk fisik alat musik Palembang tersebut.

Simak juga:  Sumpah Gandari Menutup Mata Seumur Hidup

 

Ada Tapi Hilang

Karena semangat semakin menggebu-gebu, pertanyaan-pertanyaan ini pun baru aku lontarkan kepada ibuku. Ibu pun teringat bahwa ada salah satu keluarga jauh yang masih mempunyai alat musik Palembang yang biasanya dulu dipakai dalam pesta-pesta perkawinan yaitu “jidor dan terompetnya”. Perasaan bahagia muncul kembali, akan tetapi ketika Ibu mengubungi keluarganya itu mendapatkan jawaban yang sangat mengharukan. Dikarenakan yang punya dan memainkannya sudah banyak yang meninggal dunia, alat musik itu pun ikut mati. Dengan kata lain, alat musik itu hilang tak tahu arahnya. Entah dijual atau dimana? Kkeluarga yang sekarang ada pun sudah tak mengerti tentang hal itu.

Sangat miris jika mendengar sejarah yang seperti ini. Bagaimana suatu kearifan lokal menjadi hilang dengan tidak jelas arahnya. Begitupun kesadaran-kesadaran untuk melestarikannya belum juga menjadi keinginan yang kuat. Hal ini menjadi PR buat kita semua bahwa kita adalah masyarakat berbudaya yang harus mengetahui identitas bersama, sehingga tidak menjadi masyarakat yang hilang jati diri identitasnya. Hal ini juga harus menjadi sikap bagi generasi tua dan muda, bagaimana ketika kita bisa mengajari dan belajar.

Mungkin ceita ini akan aku perdalam lagi dengan pencarian-pencarian baru. Bukan hanya alat musik, Palembang juga sebenarnya mempunyai bahasa yang sudah jauh dari bahasa keseharian yang digunakan saat ini. *** (Muhammad Nabil)

 

          * Muhammad Nabil, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *