Beranda » Humaniora » Minang Berarti Tanduak (?)
Istana Pagaruyung yang megah. (Foto: detiktravel)

Minang Berarti Tanduak (?)

MINANGKABAU atau yang sering dipanggil suku “Minang” adalah salah satu suku dengan populasi masyarakat yang cukup banyak di Indonesia dan tersebar luas pula di mancanegara. Suku ini berasal dari barat Nusantara yaitu Sumatra Barat, yang masyarakatnya lebih dikenal dengan sebutan orang Padang. Suku ini memiliki banyak keunikan budaya dan keberagaman bahasa serta adat istiadat yang saling mengikat.

Banyak juga yang berpendapat bahwa Minang bukannlah sebuah suku, melainkan etnis. Hal ini berkenaan dengan Minang itu sendiri memiliki banyak suku di dalamnya dan ini merupakan hal pembeda antara etnis dan suku. Minang berasaskan pada “adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah” yang berarti “adat berdasar syari’at, syari’at berdasar kitabullah (kitab suci)”. Berdasarkan asas tersebut maka hukum, tatanan kehidupan dan norma atau niai adat yang dianut oleh suku ini adalah nilai-nilai ke-Islaman.

Minangkabau memiliki keunikan tentang sejarahnya. Sejarah merupakan asal-usul atau kronologi bagaimana suatu kegiatan maupun peristiwa yang benar benar terjadi di masa lalu. Seperti halnya nama seseorang, nama daerah, bagaimana suatu peristiwa bersejarah terjadi, dan banyak hal lainnya yang memiliki nilai penting, mendalam, penuh makna bahkan sangat berpengaruh bagian sebagian besar masyarakat.

Berbeda dengan nama suku atau tempat lainnya yang lebih dikenal dengan sejarah yang pasti, Minang justru malah lebih mengenal sejarahnya yang telah bercampur dengan kepercayaan masyarakat yang sering disebut dengan “tambo”. Tambo merupakan rangkaian sejarah yang sudah bercampur dengan legenda, yaitu cerita masyarakat dari mulut ke mulut yang tidak pasti kebenarannya. Namun tambo ini sangatlah dipercayai kebenaranya oleh masyarakat dan sering kali menjadi salah satu sumber sejarah mengenai bagaimana asal muasal suku ini dan tak jarang para sejarawan ikut mempelajarinya.

 

Peristiwa Bersejarah

Berdasarkan tambo,  asal nama Minangkabau berasal dari suatu peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di daerah ini. Dahulu kala, datanglah rombongan dari Kerajaan Majapahit yang meminta agar daerah ini menjadi wilayah kekuasaannya. Pada masa itu pusat peradaban masyarakat daerah ini adalah Kerajaan Pagaruyung, yang terletak di Nagari Paruyuang, Kecamatan Tanjung Emas, Kabupaten Tanah Datar atau daerah yang lebih dikenal dengan Batusangkar.

Maka niat kedatangan rombongan Kerajaan Majapahit ini pun diperbincangkan oleh pemuka adat dan seluruh niniak mamak (pemuka adat) di Istana Pagaruyung. Istana saat itu dipimpin oleh Datuak Katumanggungan (kepada adat suku Koto Piliang) dan Datuak Parpatiah nan Sabatang (kepala adat suku Bodi Caniago). Kedua datuak dan seluruh niniak mamak berunding bagaimana cara agar tidak adanya pertumpahan darah di ranah Minang. Hal ini mengingat akan banyak sekali kerugian yang akan diderita masyarakat, mulai dari rusaknya lahan persawahan, rumah-rumah masyarakat, fasilitas-fasilitas. Bahkan tak menutup kemungkinan akan sepenuhnya dijajah oleh orang lain. Akhirnya dari musyawarah yang dilakukan oleh kedua datuak dan niniak mamak memberikan hasil.

Simak juga:  Kelola Desa Wisata Jangan Hanya Bermodal Semangat

Saat hari itu tiba, rombongan Kerajaan Majapahit datang dengan persiapan perang yang lengkap dan mereka rombongan yang cukup besar. Lalu rombongan disambut ramah oleh kedua datuak lalu dijamu dengan sangat baik. Para gadis telah dipersiapkan dengan pakaian yang indah lalu menarikan berbagai tarian di depan para tamu. Kemudian para bundo kanduang (istilah Minang untuk perempuan yang sudah menikah) juga telah mempersiapkan berbagai jenis makanan dan minuman agar para tamu merasa nyaman dan dihargai. Maka terenyuhlah para tamu yang datang karena mereka disambut dengan cara yang tak pernah mereka duga.

Karena para tamu sudah merasa senang dan nyaman, mereka pun kembali mengutarakan niatnya. Kerajaan Majapahit ingin daerah Minang atau seluruh daerah kekuasaan Istana Pagaruyung menjadi wilayah kekuasaan Majapahit. Maka hal ini disambut dengan senyuman oleh para datuak dan niniak mamak.

 

Adu Kerbau

Pembahasan demi pembahasan dengan berbagai pertimbangan dilakukan dengan baik dan terkontrol. Pada akhirnya mereka membuat sebuah kesepakatan, bahwa tidak akan ada perang. Tapi peperangan akan diganti dengan adu kerbau. Kedua pihak dipersilahkan menyiapkan kerbau terbaik mereka dan nanti akan diadu tiga bulan kemudian. Dan siapa yang kerbau siapa yang kalah pada pertarungan nanti maka harus meninggalkan ranah Minang. Tidak boleh lagi menginjakan kaki ke daerah ini dan yang kalah juga tidak dibolehkan membawa hartanya keluar dari ranah Minang.

Pada hari yang telah dijanjikan, Rombongan kerajaan Majapahit kembali datang dengan dengan membawa seekor kerbau. Kerbau yang dibawa rombongan sangatlah besar, bahkan banyak yang mengatakan kerbau itu hampir sebesar gajah. Matanya memerah, warnanya sangat hitam dan tenaganya sudah bisa dipastikan pasti tak kalah beda dari seekor banteng. Masyarakat yang melihat kerbau tersebut langsung pesimis karna tak mungkin datuak memiliki kerbau sebesar itu. Karena mereka saja baru pertama kali melihat bahwa kerbau bisa menjadi sangat besar dan jumbo.

Sedangkan kerbau yang dipilih oleh datuak adalah seekor anak kerbau. Datuak mempersiapkan anak kerbau yang berumur satu bulan dan masih menyusu pada induknya. Kerbau ini memang dicari yang induknya sehat dan bugar. Karena jika induknya sehat dan bugar, anaknya juga pasti sehat. Tiga hari sebelum hari itu tiba, anak kerbau tersebut dipisahkan dari induknya. Ia tidak disusui melainkan hanya diberi air saya.

Simak juga:  “MIRROR #1” Pameran di Tembi Rumah Budaya

Saat sudah tiba di lapangan pertarungan, para masyarakat dan seluruh rombongan yang datang berdiri di luar pagar. Maka kerbau yang di bawa oleh rombongan digiring ke tengah lapangan. Kemudian baru anak kerbau yang dimiliki oleh datuak yang juga digiring dan dipasangkan tali pada hidungnya serta dipasangkan tanduk buatan yang berbahan besi runcing di sisi kepalanya. Tanduk runcing besi ini dinamakan “minang”. Ukuran kedua kerbau ini sangat kontras, bahkan kerbau rombongan itu lebih empat kali kerbau datuak.

Saat sudah ada intruksi untuk mulai, kerbau rombongan Kerajaan Majapahit berjalan dengan berlahan tapi pasti pada anak kerbau datuak. Setelah tali anak kerbau dilepaskan, maka ia langsung berlari pada kerbau raksasa itu. Ia menyerundup pada arah perut kerbau rombongan. Ia mengira bahwa kerbau itu adalah induknya. Bagaimana tidak kerbau itu sudah tiga hari tidak menyusu, ia ingin disusui karena lapar.

Perut kerbau besar milik rombongan pun terkoyak karena tanduk runcing yang dipakaikan pada kepala anak kerbau tersebut. Anak kerbau itu terus mengira itu induknya, ia menyeruduk-seruduk hingga kerbau besar itu akhirnya tumbang dan mati. Seluruh masyarakat yang tadinya pesimis dengan ukuran kerbau jumbo tersebut langsung takjub dan terdiam, begitu pula dengan rombongan Kerajaan Majapahit. Matinya kerbau rasaksa itu disambut dengan sorak sorai teriakan bahagia seluruh rakyat Kerajaan Pagaruyung.

Dengan kalahnya rombongan Kerajaan Majapahit pada pertarungan kerbau tersebut, maka mereka pun harus melakukan apa yang sudah disepakati sebelumnya. Seluruh rombongan pergi dari ranah Minang dan tidak pernah kembali lagi. Sedangkan masyarakat sangat bahagia dan merasa sangat mempercayai para datuak dan seluruh niniak mamak.

Sejak saat itu, daerah ini dikenal dengan taktik yang luar biasa cerdas. Orang Minang sering bilang “alum takilek alah takalam”yang berarti  “dapat membaca atau melacak apa yang akan dilakukan oleh orang lain sebelum ia melakukannya” dengan kata lain menjadi orang yang arif lagi bijaksana. Sehingga karena nama tanduk besi yang dipasangkan pada anak kerbau itu maka masyarakatnya sering disebut Minang. Hal ini terus terjadi dari keturunan ke keturunan selanjutnya dan hingga saat ini suku ini dikenal dengan nama Minangkabau yang berarti tanduak kabau (tanduk kerbau). *** (Mishbahu Rahmah)

 

* Mishbahu Rahmah, mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.

Lihat Juga

Rao, Dulu Sempat Jadi Pusat Perlawanan Kaum Paderi

NOVEMBER lalu saya sempat sekitar seminggu berada di Rao, sebuah kota kecil atau kota kecamatan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *