Beranda » Humaniora » Meski Kaki Harus Diamputasi, Pak Endang Tetap Gigih Merajut Asa
  Pak Endang ketika sedang menjajakan dagangan ciloknya. (Foto: Tsani)

Meski Kaki Harus Diamputasi, Pak Endang Tetap Gigih Merajut Asa

BERJUANG mencari nafkah adalah pengorbanan mulia, setiap tetes yang keluar dari tubuhnya akan menjadi saksi bagaimana seseorang memperjuangkan rupiah untuk menghidupi keluarganya, tak pernah kenal menyerah dan tak sempat menyampaikan rasa lelah.

Itulah yang senantiasa dilakukan Pak Endang, demikian ia selalu dipanggil, lelaki paruh baya kelahiran Cianjur, 51 tahun lalu. Sudah tujuh tahun lamanya ia merajut asa dengan berjualan cilok di Jalan Gunung Batu, Bandung. Setiap hari ia menghabiskan waktunya di jalan, sembari mendorong gerobak kecilnya yang menjadi alat yang menghasilkan uang untuk menyambung hidupnya.

Tanah Bandung inilah yang menjadi saksi perjuangan Pak Endang dalam  memperjuangkan rupiah, mencari nafkah untuk keluarga tercintanya. Bahkan untuk hari Minggu yang biasa nya para pedagang libur berjualan, ia tetap setia berjualan. Libur berjualan ia lakukan bila ingin berjumpa dengan keluarganya, itu pun hanya satu bulan sekali, jika ada uang lebih untuk ongkosnya.

“Kalo saya meliburkan diri untuk jualan, nanti saya mencukupi keperluan keluarga pakai apa, Mbak,katanya lirih ketika ditemui saat ia sedang menunggu kedatangan pembeli, beberapa waktu lalu, sebelum isu virus Corona merebak luas.

 

Gigih dan Jujur

Waktu tujuh tahun merupakan waktu yang bukan sedikit. Selama itu ia menjalani hari-harinya berjualan makanan sederhana seperti Cilok. Cilok yang ia jual pun tidak mengandung pengawet dan menggunakan bahan-bahan aman, karena dikhawatirkan tidak baik di perut. Ia juga membayangkan bagaimana jika keluarganya memakan makanan yang mengandung pengawet, tentunya akan sakit. Maka ia pun berprinsip harus menjual makanan yang sehat tanpa ada pengawet.

Karena tahu bahwa cilok ini merupakan makanan yang sering dicari masyarakat Bandung, dan memang sudah menjadi makanan ciri khas daerah ini, maka ia pun harus menjual makanan yang aman untuk dimakan tanpa menggunakan pengawet serta bahan-bahan berbahaya.

Setiap harinya, Pak Endang memulai jualannya dari jam tujuh pagi sampai mahgrib atau  menunggu sampai cilok yang ia jual habis. Untuk di hari-hari libur ia memulai jualannya pada pukul  delapan pagi sampai cilok nya habis.

Ketika ditanya berapa penghasilan per hari nya, ia hanya menjawab,  “Namanya juga jualan, Mbak. Kadang jam lima juga sudah habis, dan dapat dua ratus ribu, tapi ya terkadang sekarang  jam setengah enam pun masih banyak. Ini juga baru dapat seratus empat puluh ribu rupiah. Itu juga masih uang kotor, Mbak.”

Simak juga:  SERI PANCASILA (4): Simpan Dulu Sila Pertama

“Kita cuma bisa ikhtiar sama tawakal, yakin saja sama Allah rezeki sudah ada yang ngatur,” tambahnya lagi.

Di dalam tas kecilnya juga terdapat sarung, ketika ditanya, “Untuk shalat, Pak?”

“Iya, Mbak. Setidaknya ketika saya menghadap Allah sesudah jualan, saya mengenakan sarung yang bersih untuk shalat”.

Terlihat jelas dari binar matanya,  Pak Endang ini seorang penjual yang gigih dan jujur.

 

Kaki Seharusnya Diamputasi

Ketika ia mendorong gerobak kecilnya, terlihat jelas jalannya agak pincang. Ketika ditanya ada masalah apa dengan kakinya, ia pun menjawab apa adanya, “Harusnya kaki saya yang satu ini diamputasi, Mbak. Karena sembilan tahun yang lalu kaki saya digigit ular, dan kebetulan daerah saya itu di pegunungan jauh dari kota dan Puskemas. Itu pun hanya mendapatkan pertolongan seadanya, dengan obat-obat alami.”

Pak Endang  menjelaskan lagi, sebelum berjualan tepatnya sembilan tahun lalu, ia pernah bertani di kebun tetangganya, pernah pula menjadi kuli bangunan. Namun setelah kecelakaan itu, dan kaki yang satunya lagi terkena rematik, ia pun tak bisa bekerja apa-apa. Hanya bisa di rumah. Karena merasa bahwa mencari nafkah adalah kewajibannya, ketika sakit pun ia masih bekerja menerima pesanan kasur kapuk. Selama sakit ia menjahit kasur kapuk untuk menghidupi keluarga nya. Ketika sudah satu tahun hanya bekerja di rumah, dan merasa sudah membaik, ia pun berinisiatif untuk mencari pekerjaan lain. Ia pun kemudian memilih berjualan cilok, yang tidak terlalu banyak menguras tenaga.  

Meskipun seharusnya kaki Pak Endang ini diamputasi, tapi karena biaya yang membatasinya, ia pun hanya bisa berikhtiyar berobat dengan obat-obat alami dan berharap semoga kakinya baik-baik saja. Ia pun berpikir jika kakinya diamputasi, dirinya tak akan bisa maksimal mencari nafkah untuk keluarganya.

Akhirnya, sampai saat ini sudah tujuh tahun lamanya ia berjuang, sepanjang hari berjualan cilok, meski pun dengan tertatih-tatih mendorong gerobak kecilnya.

“Ya, gimana lagi, Mbak. Kalau saya duduk saja di rumah, nanti yang menghidupi keluarga saya siapa, keluarga saya mau makan apa. Mungkin ini salah satu bentuk ikhtiyar saya mencari nafkah untuk keluarga, kata-kata indah yang sangat menginspirasi ini, keluar dari seorang penjual cilok yang gigih dan tak pernah lelah berjuang itu.

Simak juga:  Membasmi Kejahatan dengan Pers

Di tengah-tengah merebaknya ancaman Corona, ketika orang-orang tak boleh lagi berkerumun, dan masyarakat diimbau untuk tidak keluar rumah jika tidak perlu, jualan ciloknya pun pasti mengalami kendala. Tidak lagi seperti hari-hari aman sebelumnya. Tapi pejuang gigih seperti Pak Endang tetap berupaya berjuang, dengan tetap waspada, berhati-hati, semaksimal mungkin.

 

Kenapa Harus Meminta-meminta?

Dengan kondisi keterbatasan diri, tentu saja jika orang yang tak mau berusaha dan maunya meminta-meminta, kesempatan ini akan menjadi kesempatan berharga untuk memanfaatkan keadaannya. Namun, Pak Endang tetap kukuh untuk selalu berusaha dan gigih mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Lebih baik bekerja keras dengan segala keterbatasannya daripada memanfaatkan keterbatasan nya itu untuk meminta-minta iba dan belas kasih dari orang-orang.

Ia berprinsip, selama bisa berusaha kenapa harus meminta-minta? Cukuplah apa-apa yang sudah Tuhan anugerahkan kepada nya dimanfaatkan dengan cara dan jalan yang benar. Meskipun ia harus tertatih-tatih mendorong gerobak kecil, justru keterbatasannya itulah yang dijadikan motivasi menyambung hidupnya.

Mencari rezeki yang halal, itu juga menjadi salah satu motivasinya menyambung hidup. Karena jika memberikan rezeki dengan cara yang tidak halal, hidupnya pun akan jauh dari keberkahan. Dan, ia tak mau menghidupi keluarganya dengan rezeki yang tidak halal itu.

Pak Endang menjalani hidupnya dengan sederhana, dengan semangat penuh gigih dan tak kenal pantang menyerah hanya untuk menghidupi keluarganya dengan cara dan jalan yang benar. Sehingga cita-cita luhurnya pun bisa tercapai, yakni menafkahi keluarganya dengan rezeki yang halal.

Maka dari itu, untuk kita yang sudah Tuhan berikan kesempurnaan, sudah saatnya bersyukur memanfaatkan karunia yang diberikan-Nya dengan cara yang benar selalu berusaha, bersemangat menjalani hidup. Jika kita mengeluh dan tak bersyukur, ingatlah masih ada orang-orang di luar sana yang berjuang untuk menghidupi keluarganya dengan segala keterbatasannya. *** (Tsani Najiah)

 

          *Tsani Najiah adalah mahasiswi Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga.                        

Lihat Juga

Pernikahan Jawa – Sunda, Dibayangi Legenda

CINTA dalam diri manusia merupakan salah satu hak paling asasi yang dimiliki setiap  manusia yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *