Senin , 30 November 2020
Beranda » Humaniora » Menyanyi, Terapi untuk Perpanjang Usia
Tampil menyanyi di suatu acara. (Foto: Ist)

Menyanyi, Terapi untuk Perpanjang Usia

ANDAI waktu di Sekolah Rakyat [SR] dulu, tidak menyukai pelajaran kesenian, terutama menyanyi, sepertinya kesukaan atau hobi menyanyi itu tidak saya miliki sampai hari ini. Beruntunglah ketika itu saya sangat menyukai pelajaran menyanyi. Setiap kali mengikuti pelajaran menyanyi, betapa senang dan gembiranya hati. Betapa bahagianya.

Terlebih lagi, Guru yang mengajar pelajaran menyanyi selalu memberi ruang atau kesempatan yang luas kepada saya untuk menunjukkan kemampuan bernyanyi. Sehingga, kesan dari pelajaran menyanyi semasa di Sekolah Rakyat dulu terbawa sampai kini. Ya, sampai hari ini saya memiliki kesukaan atau hobi menyanyi. Saya merasakan, kesukaan menyanyi yang dimiliki itu merupakan imbas atau buah dari kesukaan mengikuti pelajaran menyanyi di sekolah dulu.

Bagi saya, menyanyi itu seni suara yang indah dan menyenangkan. Menyanyi, membuat hidup dipenuhi warna. Karena senandung lagu yang mengalir lewat nada-nada mampu mengekspresikan segala rasa suka, bahagia maupun gundah, duka, dan kepiluan. Dan, saya merasakan suatu hal yang terpenting, menyalurkan hobi menyanyi merupakan terapi untuk memperpanjang usia.

Ya, kesukaan menyanyi itu, sejak kecil, remaja, dewasa, tua, bahkan sampai saya berstatus nenek tujuh orang cucu dan nenek buyut dari lima orang cucu buyut terus menggelora. Sejak Sekolah Rakyat, kuliah, kemudian bekerja seakan terus mengikuti langkah-langkah kehidupan saya.

Kebetulan saya bekerja sebagai penyiar di media TVRI. Pekerjaan yang banyak bersentuhan dengan masyarakat luas, terutama yang berkaitan dengan komunikasi, seni dan budaya. Dan, pekerjaan yang penuh nuansa intertaint itu sangat seiring serta seirama dengan kesukaan saya menyanyi. Walau sesungguhnya, hobi menyanyi tersebut benar-benar baru bisa saya lakukan dengan sepenuh hati sejak pensiun dari penyiar di TVRI Yogyakarta pada tahun 2001.

 

Lagu Kenangan

Dalam mengisi aktivitas kesukaan atau hobi menyanyi, terus terang saya memang punya sejumlah lagu andalan, lagu-lagu yang paling disukai, dan lagu-lagu kenangan. Lagu-lagu andalan itu diantaranya Help Me Make It Through The Night, No  Regret, Green Green  Grass of Home, Kusimpan Cintamu, Kuterkenang Selalu, dan La Vie en Rose.

Lagu Help Me Make It Through The Night punya arti khusus buat saya. Karena lagu ini merupakan lagu Barat pertama yang bisa saya hapal dan nyanyikan. Berminggu-minggu saya mencoba menghapal lirik dan lagu yang dipopulerkan Elvis Presley. Seingat saya, selain Elvis Presley, lagu ini juga dipopulerkan Sammi Smith, Anne Murray, dan Michael Buble.

Selain iramanya yang bagus, lirik-lirik lagu Help Me Make It Through The Night ini, sangat saya sukai. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, liriknya sungguh sangat indah dan berkesan. Dalam bahasa Indonesia, liriknya menjadi seperti ini:

 

         Ambillah pita dari rambutmu
         Kibarkan dan biarkan tergerai
         Biarkan menyentuh lembut di kulitmu
         Seperti bayangan di dinding

 

         Kemari dan berbaringlah di sampingku
         Hingga fajar menyingsing
         Yang kupinta hanya waktumu
         Bantu aku lewati malam ini

         …………………….

 

Bila lagu Help Me Make It Through The Night merupakan lagu Barat pertama yang bisa saya hapal dan nyanyikan, berbeda halnya dengan lagu La Vie en Rose. Lagu La Vie en Rose memiliki kenangan khusus, dan sangat khusus dalam kehidupan saya. Ya, lagu La Vie en Rose

yang dipopulerkan oleh Edith Piaf, dan beberapa penyanyi tenar lainnya merupakan lagu kenangan yang sangat manis dan tak pernah bisa saya lupakan sampai kapan pun.

Simak juga:  Komda Lansia DIY Salurkan Air Bersih untuk Desa Tileng

Karena lagu itu mengingatkan kepada seorang pemuda, tempat saya melabuhkan cinta pertama.  Kebetulan pemuda itu kakak kelas saya di sekolah. Masih melekat erat di kenangan,  saat perpisahan sekolah saya menari ballet, dan dia yang mengiringi tarian saya dengan piano yang dimainkannya. Namun sayang, dia tidak ditakdirkan Tuhan sebagai jodoh saya.

Cobalah simak sebagian lirik dari lagu La Vie en Rose yang selalu mengingatkan saya kepada cinta pertama itu.

        

         Des yeux qui font baisser les miens
         Un rire qui se perd sur sa bouche
         Voila le portrait sans retouches
         De l’homme auquel j’appartiens

 

         Quand il me prend dans ses bras
         Il me parle tout bas
         Je vois la vie en rose

 

         Il me dit des mots d’amour
         Des mots de tous les jours
         Et ca me fait quelque chose

         ……………………..

 

Sedangkan lagu Kuterkenang Selalu yang dulu dipopulerkan Arie Koesmiran dan Green Green  Grass of Home selalu mengingatkan kepada adik kandung satu-satunya yang saya sayangi dan sudah meninggal dunia. Karena lagu itu adalah lagu kesayangan adik saya yang sering dia nyanyikan semasa masih hidup.

 

Punya Komunitas Sejak 2010

Ketika komunitas tembang kenangan atau komunitas menyanyi tumbuh subur di Yogyakarta, saya dan teman-teman juga membentuk komunitas tembang kenangan sendiri bernama Golden Miracle. Komunitas Miracle terbentuk di tahun 2010. Awal mula latihan di tempat pemusik Anky Laurens, dengan anggota 22 orang. Jadwal latihan setiap hari Senin.

Terbentuknya Golden Miracle karena sering ketemu teman-teman yang sama-sama memiliki hobi menyanyi. Sampai sekarang kebersamaan di dalam komunitas menyanyi Miracle masih tetap berlanjut. Dikarenakan punya banyak teman yang tergabung di dalam bermacam-macam komunitas menyanyi, saya pun kemudian juga bergabung dengan beberapa komunitas, seperti  Melody, LaNosta, Golden Voice dan Dance, dan lainnya lagi.

Selain tampil di komunitas-komunitas tembang kenangan, saya juga kebetulan sering menyanyi di banyak event yang lain. Beberapa kali tampil menyanyi di RRI Yogyakarta, Jogja TV, Radio Swara Kenanga, dan Radio Kartika.

Manfaat yang sara rasakan dari mengikuti aktivitas komunitas-komunitas tembang kenangan itu selain bertambah banyak teman dan sahabat, juga tambah wawasan, baik pengetahuan maupun karakter berbagai jenis lagu-lagu kenangan tersebut. Sekaligus pendalaman tentang vokal yang seharusnya saat menyanyikan lagu tertentu termasuk bagaimana dan dimana kita harus mampu menaikkan oktav.

Melalui komunitas-komunitas menyanyi yang diikuti sekarang ini, saya dapat menyalurkan hobi menyanyi. Dan saat menyanyikan suatu lagu, yang ada di perasaan saat itu adalah semua penghayatan dari isi dan makna lagu yang dibawakan.

Simak juga:  Walau 'Jatuh Bangun', Menyanyi Itu Indah

Bila lagu itu sedih, perasaan ini menyatu dalam penghayatan kesedihan itu. Dan bila lagu yang dibawakan itu lagu gembira dan bahagia, maka pancaran rasa bahagia dan kegembiraan itu benar-benar bisa dirasakan. Selain itu juga dituangkan lewat penghayatan dan gaya lagu yang saya bawakan tersebut.

Dan semua itu bisa muncul karena dilandasi satu rasa dan keinginan senang untuk menyanyi. Walaupun usia sudah tidak muda lagi, karena kini 75 tahun, namun tidak membuat saya merasa tua sekali dan malas atau malu bilamenyanyi. Justru bersemangat jika tampil menyanyi, penuh gaya, percaya diri di hadapan orang banyak. Dengan menyanyi rasanya hati ini tetap sepert dulu, saat masih muda. Terpenting dari semuanya, menyanyi bisa dijadikan  terapi untuk memperpanjang usia.

 

Penyemangat Hidup

Menyanyi itu penyemangat hidup. Lewat hobi menyanyi saya jadi lebih semangat dan punya harapan untuk selalu bisa datang lagi, dan datang lagi. Untuk bertemu sahabat-sahabat, bernyanyi bersama, bergembira bersama. Buat saya, yang mengesankan dan menyenangkan saat menyanyi adalah jika saat kita sedang menyanyi semua yang hadir antusias memberi perhatian dan mendengarkan lagu yang sedang dibawakan. Dan, sungguh senang jika ada yang request lagu untuk saya nyanyikan. Terlebih lagi bila saya bisa membawakannya dengan baik.

Selain itu saya juga sangat senang dan bahagia bila di saat menghadiri undangan-undangan pernikahan atau undangan-undangan pesta lainnya, saya diberi waktu atau diundang naik ke stage untuk menyanyi. Di situ saya merasa sangat dihargai. Sebaliknya, alangkah sedih dan merasa tidak berharganya diri saya, bila di event acara tertentu ada hiburan pakai player, tapi tidak bisa ikut menyumbangkan suara.

Oh iya, lewat nada dan lagu yang dialunkan dan lewat hobi menanyi, sesungguhnya kita  dilatih untuk memupuk rasa dan kemampuan ingatan untuk tetap fresh dan tidak alzheimer [pikun]. Sebab saat bernyanyi kita dilatih  untuk tetap ingat atau menghapal syair lagunya, sekaligus juga mengikuti dengan tepat ketukan-ketukan ritme nada yang sudah baku.

Selain itu juga harus saya akui, bahwa dengan melakukan kegiatan olah vokal atau menyanyi, hati menjadi senang dan bahagia. Dan, kesemua rasa itu menjadikan kita awet muda, sesuai  pepatah Jawa Nyanyi-nyanyi noto ati, minongko rabuking nyowo. *** [Ken Utami]

 

*** Ken Utami, lahir di  Solo, 9 Mei 1945. Pensiunan PNS sebagai penyiar dan produser acara pendidikan dan acara Pesona Wisata TVRI Yogyakarta ini kini masih sibuk ikut berbagai organisasi sosial, anggota beberapa majelis pengajian, dan masih aktif sebagai MC berbagai acara. Sekarang masih dipercaya sebagai ketua di grup menyanyi Golden Miracle. Penyandang gelar Sarjana Muda Bahasa Inggris ini adalah Ibu empat orang anak, nenek tujuh orang cucu dan bebek buyut lima orang cucu buyut. Sekarang ia tinggal di Cokrobedog, Jalan Beo, Nglarag, Sidoarum, Sleman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *