Sabtu , 5 Desember 2020
Beranda » Humaniora » Menyanyi Tak Kenal Batas Usia
Sedang mempersiapkan diri untuk menyanyi dalam acara komunitas LaNosta. (Foto: Ist)

Menyanyi Tak Kenal Batas Usia

SAYA percaya menyanyi itu tak kenal batas usia. Menyanyi itu tak hanya milik anak-anak remaja, atau anak-anak muda. Menyanyi itu milik siapa saja. Tak hanya milik para gadis atau jejaka. Tak hanya milik para ibu-ibu muda dan ayah-ayah muda. Tetapi juga milik mereka yang sudah berstatus sebagai kakek dan nenek.

Kesukaan atau hobi menyanyi sudah saya miliki sejak duduk di bangku SMP pada tahun 1974. Ya, sejak usia belasan tahun saya sudah suka mendengarkan lagu-lagu populer kala itu. Di sekitar tahun 1974 itu, penyanyi-penyanyi yang muncul di pertengahan tahun 60-an seperti Lilies Suryani, Tuty Subardjo, Retno, Mien Lesmana, Ernie Djohan, Titiek Sandhora, Tetty  Kadi, Andriani, Laily Dimyati, Arie Kusmiran, Vivi Sumanti, dan lain-lainnya lagi masih tetap populer.

Walaupun di tahun 70-an bermunculan sejumlah penyanyi populer lainnya, tapi penyanyi-penyanyi di tahun 60-an itu tetap masih banyak penggemarnya. Lagu-lagu mereka masih tetap populer dan digemari banyak remaja, kaum muda dan kalangan orang dewasa kala itu. Hampir setiap hari lagu-lagu mereka muncul di radio. Dan, saya yang ketika itu masih sekolah di SMP, merupakan salah seorang penggemar lagu-lagu dari penyanyi era 60-an tersebut.

Boleh dibilang, setiap lagu yang populer kala itu, saya hapal dan bisa menyanyikannya. Tapi ya, sekadar menyanyi sendiri ketika di rumah, atau saat bermain dan berkumpul bersama teman-teman sekolah maupun teman-teman sepermainan. Terlebih lagi lagu yang disukai, pasti hampir setiap hari saya nyanyikan.

Dan, salah satu lagu yang saya sukai kala itu adalah lagu Berpisah di Teras St Carolus yang dinyanyikan Retno. Seingat saya, kala itu tidak hanya Retno yang menyanyikannya. Lilies Suryani dan beberapa penyanyi lainnya juga ikut mempopulerkan. Tapi entah mengapa, saya lebih menyukai lagu Berpisah di Teras St Carolus yang dinyanyikan oleh Retno. Vokalnya terasa pas buat saya. Terasa menyentuh.

        

Teringat Selalu

Seorang teman mengatakan, suatu lagu yang kita sukai seringkali bersentuhan dengan kenangan atau peristiwa yang berkesan dalam kehidupan. Saya sepertinya memang harus membenarkan apa yang dikatakan seorang teman itu. Karena saya merasakan dan mengalaminya sendiri. Ya, ada sebuah lagu yang sangat berarti. Lagu yang penuh kesan. Lagu yang begitu dekat dengan kenangan masa lalu saya. Kenangan indah dan manis. Kenangan yang tak terlupakan sampai kapan pun.

Simak juga:  Menyanyi, Terapi untuk Perpanjang Usia

Lagu penuh kenangan itu adalah lagu Teringat Selalu yang dinyanyikan oleh Tetty Kadi. Lagu yang kala itu memang saya sukai. Ya, ada kenangan manis yang terukir di lagu indah tersebut. Lagu yang mengawali pertemuan pertama dengan seorang pemuda bernama Soebagyo. Pemuda yang kemudian menjadi orang terkasih, menjadi suami dan pendamping hidup, dan menjadi ayah dari anak-anak saya, yang kini sudah terlebih dulu berpulang ke Rahmatullah. 

 

Masih jelas dalam ingatan, suatu pagi Minggu, saya sedang menyapu halaman rumah sambil bernyanyi pelan lagu Teringat Selalu. Sedang asyik-asyiknya menyapu dan menyanyi, tiba-tiba ada seorang lelaki muda muncul di depan rumah. Dia menanyakan alamat sebuah rumah, yang kebetulan tidak terlalu jauh dari rumah saya. Saya pun memberitahukan di mana alamat rumah itu.

Setelah diberitahu, ia berpamitan sopan. Tapi sebelum pergi ia sempat melontarkan kata-kata seperti ini, “Eh, tadi lagunya bagus. Saya suka lho lagu itu, lagu Teringat Selalu.” Ia mengatakan itu sambil tersenyum. Senyum itu membekas di hati. Ketika ia pergi, pandangan mata saya mengikutinya sampai ia menghilang ke dalam gang.

Itulah awal mula bertemu dan berkenalan dengan pemuda itu. Beberapa hari kemudian ia lewat lagi di depan rumah. Kebetulan saya pun sedang berada di depan rumah. Setelah itu  kami sering ketemu. Kemudian kami pun semakin dekat. Lalu saling jatuh cinta. Saling berjanji. Kami pun kemudian mengikat cinta itu dalam pernikahan. Kami pun menikah.

Setelah menikah kami pun sering sama-sama menyanyikan lagu Teringat Selalu. Menyanyikannya ketika berkumpul bersama anak-anak. Sampai kini pun saya masih suka menyanyikannya, walaupun suami telah tiada. Dan, setiap kali menyanyikannya, saya pasti akan teringat selalu dengan kisah awal kami bertemu, dengan semua kisah pahit dan manisnya kehidupan yang telah dilalui bersama.

Lagu Teringat Selalu membuat saya teringat selalu dengan kenangan-kenangan masa lalu bersamanya. Ya, bagaimana mungkin saya bisa melupakan lirik-lirik lagu yang indah dan penuh kesan itu.  

 

         Teringat pada suatu waktu
         Ku berjalan-jalan di muka rumahmu
         Rasa berdebar dalam hatiku
         Ingin lekas lalu

         Sekilas nampaklah engkau di balik pintu
         Tersenyum dikau menusuk hatiku

         Apa daya sejak saat itu
         Nurani terganggu di setiap waktu
         Teringat selalu pada senyummu
         Ingin kubertemu

        

Simak juga:  Kisah Menyanyi, Mulanya Malu-malu

Manunggal Suara Nada

Sampai di usia senja ini, di usia yang sudah berstatus nenek dari enam orang cucu, kesukaan atau hobi menyanyi saya tak pernah hilang. Di berbagai kesempatan saya selalu ingin menyanyi. Awalnya menyanyi secara sendiri, belum bergabung dengan komunitas. Tapi kemudian, ketika ikut latihan line dance bertemu dengan beberapa teman yang suka menyanyi. Teman-teman itulah yang kemudian mengajak untuk menyanyi di dalam komunitas menyanyi. Saya ingat, kala itu yang paling bersemangat mengajak saya menyanyi bersama adalah Mbak Kuntari.

Ketika itu saya menyanyi bersama-sama di salah satu rumah di Jl Taman Siswa. Saya merasakan betapa asyik dan menyenangkannya latihan bernyanyi atau menyanyi bersama di dalam suatu kelompok. Bahkan kemudian tempat kumpul untuk latihan bernyanyi atau menyanyi itu pindah ke rumah saya. Ya, selama beberapa tahun, rumah saya sempat jadi ajang kumpul menyanyi bersama.

Di sekitar tahun 2014, untuk pertama kalinya saya bergabung di dalam komunitas menyanyi, yakni komunitas menyanyi Manunggal Suara Nada [MSN] pimpinan Pak Is Octa dan Bu Meiry. Di dalam komunitas, aktivitas menyanyi pun menjadi meningkat. Selain di pertemuan-petemuan komunitas, saya juga sering menyanyi di sejumlah tempat yang menyediakan musik dan tempat menyanyi. Saya juga pernah tampil menyanyi di Pro 1 RRI Yogyakarta.

Selain di komunitas MSN, saya pun kemudian bergabung bersama LaNosta. Bersama komunitas MSN dan LaNosta, saya telah mendapatkan banyak pelajaran dan pengalaman berharga dalam mengembangkan aktivitas hobi menyanyi tersebut. Bergabung di dalam komunitas menyanyi seperti MSN dan LaNosta telah membuat cakrawala pemahaman dan pengetahuan saya tentang dunia kesukaan menyanyi menjadi lebih luas.

Dan, banyak manfaat yang telah diperoleh. Setidaknya cakrawala pergaulan menjadi lebih luas. Sahabat semakin banyak. Pikiran, hati dan jiwa selalu segar, karena sering terhibur dengan aktivitas menyanyi. Hati selalu senang dan bahagia. Saya merasa semua itu terapi yang mujarab untuk membuat saya tetap sehat di usia-usia senja. *** [Yuli Surastuti]

 

*** Yuli Surastuti, pensiunan dari Dinas Perindagkop DIY ini lahir di  Yogyakarta pada 30 Juli 1958. Ibu dari empat orang anak dan nenek enam orang cucu yang sering wira-wiri Yogya – Bontang dan Banjarmasin ini tinggal di Jl Gurami, Sorosutan, Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *