Sabtu , 24 Oktober 2020
Beranda » Humaniora » Menyanyi, Tak Harus Juara
Saat tampil di Final Insurance Idol 2018. (Foto: Ist)

Menyanyi, Tak Harus Juara

AWALNYA tidak pernah terpikirkan oleh saya untuk mengikuti lomba menyanyi di pertengahan September 2020 itu. Sejak menjadi Juara Pertama Insurance Idol Yogyakarta pada 3 November 2019 yang lalu, saya sudah tidak tertarik untuk ikut lomba lagi.

Tiba-tiba terbaca poster di atas, Singing Contest dalam rangka ulang tahun grup menyanyi Love Song. Lalu muncul keinginan untuk ikut lomba lagi. Itu disebabkan karena beberapa lagu pilihannya adalah lagu favorit saya seperti My Way dan Love story.

Setelah mempertimbangkan beberapa hal, akhirnya saya pun mendaftar. Mula-mula Saya memilih lagu Love Story sebagai lagu pilihan dan mulai berlatih. Dalam berlatih, saya masih tetap menyanyikan juga lagu My Way sebagai cadangan pilihan, sambil meminta pertimbangan dari beberapa teman. Lagu mana yang lebih baik bila saya menyanyikannya. Ternyata teman-teman pun terbagi dalam dua kelompok dalam memilih lagu itu. Tapi, saya lebih mantap dengan lagu Love Story.

Meskipun sudah kenal lagu Love Story bertahun-tahun dan berulang kali menyanyikannya, saya tetap berlatih intensif hampir setiap hari. Ditambah lagi bimbingan seorang guru nyanyi yang pernah menjuarai Bintang Radio Nasional. Tapi Allah menentukan lain. Para juri memilih lima orang lain sebagai pemenang lomba. Bukan saya.

Alhamdulillah, tak ada sedikit pun rasa kecewa di dalam hati. Terlebih sebelum lomba, guru nyanyi saya tadi sempat berkata seperti ini, ” Suara indah itu anugerah dari Allah semata. Oleh karena itu, gunakanlah ia untuk banyak kebaikan di dunia . . . . . .”  

         Masya-Allah

 

Bukan yang Pertama

Kegagalan dalam sebuah ajang lomba, bagi saya ini bukan yang pertama. Sebelum menjuarai Insurance Idol 2019, saya juga ikut sebagai peseserta Insurance Idol 2018. Di babak penyisihan, saya menyanyikan lagu The Way It Used To Be dan lolos ke final. Di babak final, Saya memilih lagu Love Story. Bukan karena salah memilih lagu, saya tidak menjuarai perlombaan ini. Penyebabnya justru lucu bagi saya. Pasalnya, ketika sedang menyanyi itu, isteri saya maju ke depan panggung mengambil foto untuk dokumentasi. Saya jadinya bergaya agar fotonya menjadi bagus. Tapi justru saya kehilangan konsentrasi dan ketinggalah mat lagu. Juri tentu paham kesalahan itu dan tentu saja, saya kalah.

Simak juga:  Menyanyi, Terapi untuk Perpanjang Usia

Justru kekalahan sebelumnya lebih lucu lagi dan menjadi kenangan indah bagi saya. Ini terjadi di Kedai Musik Red Corner, Yogyakarta, pada 27 Oktober 2018. Maaf kalau salah tanggalnya. Pada waktu itu, diadakan Lomba Nyanyi Lagu Koes Plus. Setiap peserta diminta untuk menyanyikan dua buah lagu Koes Plus diiringi organ oleh player Totok Gunawan yang walaupun tuna netra, sangat piawai memainkan organ.

Pada kesempatan pertama, dengan lancar saya menyanyikan lagu Andaikan Kau Datang Kemari.

 

Terlalu indah dilukiskan, terlalu sedih dikenangkan . . . 
Setelah aku jauh berjalan dan kau kutinggalkan
Betapa hatiku bersedih mengenang kasih dan sayangmu
Setulus pesanmu kepadaku, engkau kan menunggu.

Reff
Andaikan kau datang kemari, 
Jawaban apa yang kan kuberi
Dst . . . .

 

Tapi, pada saat menyanyikan lagu kedua yang berjudul Kisah Sedih di Hari Minggu, musibah ini terjadi. Walaupun hari itu bukan hari Minggu. Awalnya, saya dengan lancar ber-nyanyi:

 

         Sabtu malamku sendiri, tiada teman kunanti
         Di sekitar kulihat diam, tiada seindah dulu.
         Mungkinkah ini berarti, aku tlah patah hati
         Walaupun aku berkata bukan, bukan itu ...

Memasuki bagian reffrain, tiba-tiba saya blank. Lupa syairnya. Dan justru ketika para penonton sadar bahwa saya tidak melanjutkan nyanyian saya, mereka secara serentak bernyanyi bersama-sama.

Simak juga:  Komda Lansia DIY Salurkan Air Bersih untuk Desa Tileng

 

Penyesalanku semakin dalam dan sedih 
Telah kuserahkan semua milik dan hidupku
Aku tak mau menderita begini
Mudah-mudahan ini hanya mimpi, hanya mimpi . . .

Arena lomba jadi lebih semarak rasanya. Para penonton seperti back-sound yang mengiringi saya bernyanyi. Saya tetap melanjutkan nyanyian sampai selesai.

 

Kisah sedih di hariMinggu yang selalu menyiksaku 
Aku takut ini kan kubawa sampai mati . . .

 

Tentu saja saya kalah dalam lomba ini. Tapi justru ia menjadi kenangan indah yang tak terlupakan. Hubungan saya dengan player Pak Totok dan istrinya serta Red Corner tetap terpelihara dengan baik hingga hari ini. Alhamdulillah, kisah sedih itu tidak terbawa sampai mati. Seperti kata-kata dalam lirik lagunya.

Ternyata semua pengalaman indah selama menekuni hobi nyanyi ini berujung pada satu kesimpulan, yakni menyanyi, tidak harus juara. Suara yang indah itu karunia Allah yang semuanya harus dikembalikan dalam bentuk amal yang diridhai Allah semata. Banyak kesempatan menyanyi yang dapat digunakan untuk mempererat silaturahim, ikut merayakan ulang tahun, menyumbang lagu di resepsi mantu dari teman-teman dan lain-lain.

 Salam. Yogyakarta, 18 September 2020. ***[Nasrun Sidqi]

 

*** Nasrun Sidqi, pensiunan Departemen PU, mantan wartawan Lampung Post, menyelesaikan S-1 di Teknik Sipil UGM dan S-2 di Institute of Hydraulics and Environmental, Delft, Netherlands, tinggal di PogungLor, Sleman, Yogyakarta].

 

Lihat Juga

Mendaki dan Menyanyi

DUNIA masa muda saya adalah dunia mendaki dan menyanyi. Mendaki yang dimaksud tentu saja mendaki …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *